Cinta dan Kemabukan-Kemabukan

Alunk Estohank
mpusastra.blogspot.co.id

Cinta merupakan sebuah persoalan yang tak pernah bosan untuk kita bicarakan. Cinta merupakan alasan kenapa Adam dan Hawa diturunkan ke dunia, dan kenapa Qais harus menjadi gila.

Cinta adalah suatu hal yang sangat sulit untuk kita definisikan bahkan kamus besar bahasa Indonesia pun (KBBI) tidak sanggup mendefinisikan kata cinta hingga membuat kita puas akan arti cinta yang sesungguhnya. Jika kita memakai perspektif anak muda, cinta itu bukan untuk didefinisikan tapi untuk dirasakan. Berangkat dari perspektif tersebut maka anak-anak muda saat ini berlomba-lomba ingin merasakan manisnya cinta. Dari itu tidak salah kiranya apa yang dilantunkan Raza Lawang Sewu dalam lagunya (cinta anak kampung) “kalau cinta sudah melekat, gula jawa rasa coklat”. Continue reading “Cinta dan Kemabukan-Kemabukan”

Sastra Mutakhir: Sastra Eksklusif

Alunk Estohank *
http://riaupos.co

ADA kerisauan ketika harus memikirkan nasib sastra Indonesia, sastra yang semakin hari semakin tidak jelas juntrungnya. Ada apa sebenarnya dengan sastra Indonesia dewasa ini, bukankah seringkali kita temui buku-buku sastra terbit tiap tahunnya, dan bahkan ada yang satu tahun dapat menerbitkan dua buku sastra bahkan ada yang lebih. Kenapa mesti dirisaukan, bukankah itu semua menjadi nilai plus dari sastra itu sendiri. Continue reading “Sastra Mutakhir: Sastra Eksklusif”

Sastra Indonesia: “Krisis”

Alunk Estohank *
http://www.riaupos.co

Apa yang dikhawatirkan A.S Dharta dalam pidatonya pada simposium Fakultas Sastra, Jakarta, Januari 1956 tentang krisis yang melanda bangsa ini memang benar-benar terjadi pada saat ini. A.S Dharta mengatakan bahwa bangsa ini tengah mengalami krisis, baik itu krisis kepeminpinan, krisis ekonomi, krisis kemanusiaan, krisis ini, itu dan sebagainya. Bahkan juga tentang kesusastraan ada yang mengatakan tengah mengalami krisis. Continue reading “Sastra Indonesia: “Krisis””