BACAAN ANAK DAN KENANGAN

Anindita S. Thayf
Jawa Pos, 12/01/2020

Sewaktu berada di ruang tunggu sebuah praktik dokter gigi, saya disajikan secuplik adegan ini. Seorang bocah merengek meminta ibunya mengganti saluran televisi umum karena tidak menyukai apa yang dilihatnya di layar. Alasannya, “[tokoh] bonekanya jelek. Mulutnya tidak bergerak.” Sang ibu menolak sambil beralasan bahwa boneka yang menjadi ikon acara itu bagus karena, “waktu kecil, Bunda menonton [boneka] itu juga.” Pada akhirnya, seisi ruang tunggu dokter gigi siang itu tetap dihibur oleh acara Laptop Si Unyil. Acara yang ditonton si ibu dengan kepala yang dipenuhi kenangan. Continue reading “BACAAN ANAK DAN KENANGAN”

SENI PEMBERONTAKAN ALA ULAR TANGGA

Ulasan novel “Ular Tangga”
Endhiq Anang P
Harian Fajar, 30/9/2018

Dalam sastra Indonesia, setidaknya ada dua novel yang memberikan panduan seni pemberontakan. Yaitu, Arok Dedes karya Pramoedya Ananta Toer dan Ular Tangga karya Anindita S. Thayf. Bila dalam Arok Dedes sebuah pemberontakan harus bertopang pada Empat Kaki Nandi, dalam Ular Tangga bertumpu pada Empat Kaki Gajah-Satu Belalai. Continue reading “SENI PEMBERONTAKAN ALA ULAR TANGGA”

ANDAI KAZUO ISHIGURO SEORANG PEREMPUAN

Anindita S. Thayf
Minggu Pagi, IV/Feb/2018

Beberapa bulan lalu, seorang pengarang laki-laki kelahiran Jepang berkewarganegaraan Inggris, Kazuo Ishiguro, terpilih sebagai peraih penghargaan Nobel Sastra 2017. Sebagaimana biasa, kemenangan ini memicu banyak pertanyaan tentang seberapa hebat karya Ishiguro hingga mampu mengalahkan para pesaingnya. Namun, tidak ada satu pun yang melempar tanya, “Bagaimana seandainya Ishiguro seorang perempuan?” Meski tampak sepele dan seakan tidak berkaitan langsung dengan Nobel, pertanyaan ini penting sebab bisa membuka pandangan seputar posisi pengarang perempuan di atas panggung sastra dunia. Continue reading “ANDAI KAZUO ISHIGURO SEORANG PEREMPUAN”

SASTRA, TUKANG OBAT, DAN ZAMAN TONTONAN

Anindita S Thayf
Solo Pos, 02/12/2018

Bisakah sastra terus hidup di tengah masyarakat yang mayoritas tidak mampu membeli buku, atau minoritas yang mampu, tapi enggan membaca? Jawabannya bisa ya, bisa tidak. Sastra pun bisa mati tetapi tidak pernah bisa berkompromi. Kala itu sastra adalah pemberontakan permanen yang tidak bisa dihentikan oleh jaket pengekang. Setiap usaha untuk membelokkan wataknya yang pemberontak dan pemberang mestilah bakal gagal. Demikian pernyataan tegas Mario Vargas Llosa dalam esainya Sastra Itu Api yang tersaji di dalam buku Matinya Seorang Penulis Besar. Continue reading “SASTRA, TUKANG OBAT, DAN ZAMAN TONTONAN”