Jejak Kala, Pertemuan melalui Sebuah Kematian


Peresensi: Yuwelda Bachtiar
Judul: Jejak Kala
Pengarang: Anindita S. Thayf
Penerbit: Sheila
Tahun: 2009
Genre: Novel Sastra
Tebal: 194 halaman

“Kematian adalah suatu pertemuan kembali. Takut adalah sifat dari yang hidup dan segala sesuatu yang kau tahu berawal dari ketidaktahuan”.

“Malaikat maut mengakhiri perjalanan Kala di alam ketidakabadian tepat ketika subuh datang menutup malam. Diiringi rintik hujan yang sayup, perempuan itu pergi menuju ke suatu tempat yang tak kenal pilu. Sepucuk senyum tersampir di bibir keriputnya yang kaku, seolah maut adalah karib yang telah lama ia tunggu. Ia meninggal dalam tidur. Dalam mimpi yang paling indah tentang sebuah perjalanan baru bersama orang terkasih yang berdiri menyambutnya serupa para penyambut tamu di pesta pengantin. Mereka berada dalam sebaik-baik keadaan yang tak pernah terbayang. Ada Emak, Kemi, Ano, Kak Tien, Kak Banar, Is dan yang lainnya yang telah lama tak ia dengar kabarnya. Mereka semua masih mengenal Kala, walau masa-masa mereka telah lama berlalu.”

Itulah sepenggal epilog dalam buku ini yang menjadi akhir perjalanan Kala, sebagai tokoh utama dalam novel ini. Kala akhirnya meninggal dunia di kampung halamannya, di rumah tempat ia menghabiskan masa kecilnya.

Kala kecil adalah seorang anak perempuan yang harus membantu ibunya membanting tulang di rumah Pak Dukuh, seorang petani kaya di desanya. Kala harus memulai pekerjaannya mulai dari shubuh sampai malam. Akhirnya Kala meninggalkan kaki Gunung Boliohutu dan turut serta kerabat Pak Dukuh di kota. Ia mengabdi pada keluarga tersebut sekaligus disekolahkan meski hanya sampai SMP. Di rumah Kak Tien, majikan baru Kala yang merupakan istri seorang polisi, ia “dimanusiakan”. Ia lebih mendapatkan hak-haknya dan merasa lebih dihargai dibandingkan pada saat ia berada di rumah Pak Dukuh.

Kala remaja mulai mengalami pergolakan asmara kepada seorang ajudan majikannya yang sering datang ke rumah majikannya. Kala merasa sangat senang ketika sang Ajudan, Koes, memuji kopi dan pisang goreng buatannya. Kala malambung tinggi, namun Kala tidak cukup berani berharap karena merasa sangat tidak percaya diri dengan sosoknya yang tidak menarik. Badannya pendek, kribo dan berkulit tidak cukup cerah untuk bisa memikat lawan jenis. Akhirnya Kala harus merasa patah hati saat Koes pergi karena dipindahtugaskan. Sejak saat itu Kala tidak pernah lagi mengenal jatuh cinta pada siapapun.

Novel ini merangkum potret pedih kehidupan masyarakat kelas bawah. Kepasrahan Kala untuk menikmati status lajangnya, menyingkirkan jauh-jauh rasa rendah diri sebagai pembantu rumah tangga, dan kemudian meninggal dalam kesepian hari tuanya. Alur novel ini lurus, tidak berbelok-belok bahkan tidak sedikitpun terantuk di tikungan. Penulis menerangkan dengan ringan, sehingga pembaca tidak sedikitpun akan menemui kesulitan dalam memahami novel ini.

Meskipun dituturkan dengan lancar dan ringan, novel ini terkesan “goyah” dan sangat terburu-buru. Cerita demi cerita dalam novel ini berjalan seolah-olah “dipercepat” oleh penulisnya sehingga kehilangan banyak sekali detail. Beberapa kisah dan tokoh dalam cerita ini menjadi bagian yang hanya muncul sepintas yang tidak memiliki korelasi kuat dalam pembentukan “jejak” dalam kehidupan Kala. Misalnya tentang pak Zae yang hanya muncul sekilas atau bahkan sosok kakaknya yang tiba-tiba muncul pada bagian akhit dengan kemarahan yang sangat besar. Semua cerita dikisahkan dengan sangat cepat, terburu-buru seolah memaksakan untuk mengejar satu titik yaitu kematian Kala.

Pada dasarnya kisah-kisah yang diceritakan penulis dalam novel ini adalah kisah yang sangat umum dan banyak terjadi. Kisah “biasa” yang kemudian tidak dikemas dengan menarik oleh penulis menjadikan novel ini makin biasa-biasa saja. Penulis seharusnya memberikan penekanan dan detail pada bagian-bagian tertentu yang terjadi pada masa-masa tertentu dan melibatkan tokoh-tokoh tertentu. Penekanan inilah yang akan menjadi kunci utama, karena bisa menjelaskan pergolakan batin Kala dalam menghadapi kehidupan, sehingga menjadi sebuah rekam jejak yang tajam dan akan menjadi incaran pembaca.

6 Juni 2009

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *