Pada Lampu Merah Kita (Bisa) Belajar

A.S. Laksana *
jawapos.co.id

Di lampu lalu lintas yang menyertakan penanda waktu, Anda bisa belajar memahami sesuatu, yakni bahwa Anda bisa menunggu dengan perasaan lebih nyaman ketika waktunya pasti. Misalnya lampu merah menyala dan penanda waktu menunjukkan angka 120, maka Anda memiliki waktu kurang lebih 120 detik untuk menunggu angka itu turun menjadi nol. Pada saat nol itulah lampu hijau ganti menyala dan silakan Anda melanjutkan perjalanan. Selama menunggu angka menjadi nol, Anda bisa mulat-mulet di sadel kendaraan, melakukan peregangan otot seperlunya, minum air mineral barang seteguk, atau apa pun yang bisa Anda lakukan dalam rentang waktu tersebut. Continue reading “Pada Lampu Merah Kita (Bisa) Belajar”

Tentang Bangsa yang Gagal Belajar

A.S. Laksana
jawapos.co.id

DALAMseminggu terakhir saya beberapa kali nyaris lumpuh otak karena diserang gencar oleh berita-berita klise. Klise terbesar adalah kabar tentang manuver politik dan tabiat orang-orang di seputar kekuasaan; itu semua membosankan karena berlangsung begitu-begitu melulu dan mudah diduga. Untuk menenteramkan diri sendiri, sekarang saya hanya menunggu datangnya tukang hibah, yakni orang-orang baik hati yang telah sudi memberi Hadi Purnomo harta kekayaan bermiliar-miliar jumlahnya. Continue reading “Tentang Bangsa yang Gagal Belajar”

Para Pencerita yang Baik

A.S. Laksana
jawapos.com

JIKA Anda senang hati, saya ingin menggunakan kesempatan ini untuk ”melanjutkan” tulisan minggu lalu tentang menulis dan berpikir jernih. Saya sungguh tidak menduga bahwa tanggapan yang saya terima atas tulisan tersebut akan cukup banyak. Pak Suparto Brata, penulis yang saya kenal namanya sejak saya masih belajar menulis, telah membuat saya ”mabuk-mabuk lalat” karena ia sangat menyepakati apa yang saya sampaikan. Sampai hari ini kepala saya masih terasa berat menanggung kegembiraan. Continue reading “Para Pencerita yang Baik”

Berpikir Jernih dalam Situasi Remang-Remang

A.S. Laksana *
jawapos.co.id

SAYA berangkat ke Surabaya Jumat pekan lalu dengan dengkul cedera dan pikiran risau. Jawa Pos meminta saya bicara hari Sabtu pagi dalam forum temu penulis opini dan, sejak menerima undangan, saya sudah beberapa hari gelisah memikirkan apa hal terbaik yang bisa saya sampaikan kepada para peserta forum. Kegelisahan saya bertambah lagi ketika memikirkan apa pesan yang nantinya bisa diingat oleh para undangan setelah acara selesai dan masing-masing dari kami pulang ke rumah. Continue reading “Berpikir Jernih dalam Situasi Remang-Remang”

Bahasa ยป