Panduan Meraih Nobel Sastra

A.S. Laksana *
ruangbaca.com

Hudan Hidayat mengirimkan pesan singkat yang panjang sekali pada suatu tengah malam ke telepon genggam saya. Dan telepon genggam saya, benda paling tidak canggih yang saya miliki, memenggal-menggal pesan itu menjadi 14 SMS yang datang berurutan dan masing-masing pesan ruwet bunyinya. Saya baru tahu kemudian, dari pembicaraan teman-teman, bahwa pesan singkat yang panjang sekali itu ternyata adalah Memo Indonesia. Sampai hari ini, ketika teman-teman sudah tidak lagi membicarakannya, saya tetap tidak tahu apa isi memo tersebut. Continue reading “Panduan Meraih Nobel Sastra”

Menunggu Datangnya Anjing

A.S. Laksana *
jawapos.co.id

Jika Anda mengandaikan DPR adalah sebentuk simptom bagi negeri ini, saya kira Anda akan kesulitan merumuskan ia simptom apa. Kadang-kadang ia terasa seperti migren di kepala bagian kiri, kadang-kadang terasa seperti penyakit tempo dulu gondongan, atau sering ia muncul dalam bentuk sembelit. Ketika ia muncul ke permukaan sebagai migren, Anda membahas bagaimana migren bisa terjadi dan bagaimana cara mengatasinya. Pada hari berikutnya ia menampilkan diri sebagai stroke ringan. Namun ketika Anda kejar hal-hal yang berkaitan dengan stroke dan cara mengusirnya, keesokannya ia sudah bergeser menjadi tumor ganas. Mungkin Anda akan kelelahan menguber-uber simptom yang berpindah-pindah tersebut. Continue reading “Menunggu Datangnya Anjing”

Kenapa Malaysia Arogan, Kenapa Kita Loyo

A.S. Laksana *
jawapos.co.id

INGATAN terkuat saya mengenai Malaysia adalah fakta lucu yang tertanam di benak tentang bagaimana penyair mereka membaca puisi. Dalam pembicaraan berdua dengan Sapardi Djoko Damono saat kami pulang dari sebuah acara, dia bilang, ”Penyair Malaysia itu ajaib sekali, Lak. Pernah ada satu acara, mereka membaca puisi secara play back.” Continue reading “Kenapa Malaysia Arogan, Kenapa Kita Loyo”

Kisah Batu Menangis

A.S. Laksana *
jawapos.co.id

Sekali waktu kau perlu mendengarkan rintihan benda-benda atau apa saja di sekitarmu yang tak pernah kau beri perhatian. Mungkin itu sebutir kerikil, mungkin seekor kadal, atau sebatang alang-alang, atau apa saja.

Sekarang akan kusampaikan kepadamu sebongkah batu yang menangis. Ia mungkin menyampaikan cerita agar kau lebih berhati-hati. Maksudku, kau pasti akan merasa serba tak enak jika suatu saat burung penguinmu ditonton orang di mana-mana dan dijadikan bahan ketawaan. Continue reading “Kisah Batu Menangis”

Bahasa »