Penyair-Penyair Lampung

Asarpin

Prolog: Negeri Penyair

Lampung sudah cukup lama dikenal memiliki lumbung sastra. Mungkin karena Lampung punya aksara sendiri, yaitu aksara Kaganga. Betapa banyak bentuk sastra yang tersebar dalam kelisanan masyarakat Lampung, baik di selatan, timur, barat, maupun di tengah. Lampung memiliki kekayaan subkultur yang beragam dan dianggap bisa menjawab berbagai tantangan zaman. Continue reading “Penyair-Penyair Lampung”

Teologi Plagiat atau Teologi Kiamat?

Asarpin *

Dalam dua dekade terakhir, kajian tentang teologi diberbagai media begitu semarak. Begitu banyak varian teologi yang coba digagas, mulai yang abu-abu sampai yang terang-benderang, mulai dari yang malu-malu sampai yang gagah berani, mulai dari “teologi tuhan mati” sampai “teologi harga diri”.

Bahkan, ada pula “teologi sepak bola”, dalam arti melihat sepak bola dari kacamata teologi. Ada pula teologi permainan, teologi postmodernisme dan masih banyak lagi. Jangan tanya tentang teologi transformatif, teologi pembebasan, teologi pluralis, teologi humanis, teologi liberal, yang memang banyak pengikut di negeri ini. Continue reading “Teologi Plagiat atau Teologi Kiamat?”

Bingkai: Cerpen dari Metafora Pemikat Baru

Asarpin*
Lampung Post, 6 April 2008

ADA dua cerpen S.W. Teofani yang pernah terbit di Lampung Post yang menggoda imaji saya saat membacanya: Gapura Pulau Panggung (12-2-2006) dan Gapura Doa (16-3-2008). S.W. Teofani belum begitu dikenal sebagai penulis cerpen, bahkan namanya sangat samar, tapi dua cerpennya ini hemat saya layak dipertimbangkan. Teofani mampu menghadirkan kersik kata-kata tanpa beban dalam berbahasa. Alunan rimanya terasa hening seperti peri kesepian-sejenis vibrasi yang hanya memberi perhentian sejenak untuk kemudian berjalan mengalir pelan dan bening menuju mata air sumber kecemerlangan. Continue reading “Bingkai: Cerpen dari Metafora Pemikat Baru”

Puisi, Arti, Diseminasi

Asarpin
lampungpost.com

Bukan Nirwan Dewanto kalau tidak sungguh-sungguh menyelam kata dan bahasa Indonesia sampai di dasar yang tak terhingga. Setelah meluncurkan buku puisi cantik bertajuk Jantung Lebah Ratu dua tahun lalu, yang nyaris tak tersentuh oleh pembaca saking “melangit” bahasa yang digunakan dalam puisi-puisinya, kini ia hadir lagi dengan buku puisi yang lebih “gawat”. Continue reading “Puisi, Arti, Diseminasi”

Bahasa »