Spiritualitas Waktu

Asarpin *

Spiritualitas Waktu adalah pertarungan hidup mati umat manusia. Masalah sastra menyangkut masalah paling eksistensial tentang bagaimana mengolah ladang waktu, menguasai ladang waktu, dan manusia bisa jaya terhadap waktu. Jika kalian gagal melawan sang Waktu, berarti kalian mengalami kekalahan terhadap maut. Inilah pertanyaan religius paling gawat, kata Romo mangun dalam Sastra dan Religiusitas, tapi juga problem si atheis yang paling sulit dijawab. Setelah manusia membunuh Waktu, hidupnya terasa lebih ringan, karena seolah-olah ia telah lepas dari beban sang Waktu, tetapi sekaligus hidupnya lebih berat, karena dia sendiri harus menjadi Waktu. Continue reading “Spiritualitas Waktu”

Feminis yang Terluka oleh Komunis

Asarpin

Pada tahun 1987, Partai Komunis Vietnam menyerukan kepada para penulis dan jurnalis untuk menghilangkan kekakuan, gaya formal realisme sosialis yang telah dipaksakan kepada mereka, dan meneguhkan kembali peran mereka sebagai pemegang kontrol sosial. Dalam atmosfir keterbukaan inilah, sebagian sastrawan dan intelektual Vietnam meresponnya dengan beragam karya sastra, film, novel dan teater yang secara terang-terangan mulai melontarkan kritik atas kebijakan partai Komunis. Continue reading “Feminis yang Terluka oleh Komunis”

Gema yang berpendar di kejauhan

Asarpin *

Ketika hari hampir gelap, dan senja hanya terlihat di tepi ufuk lembut yang bisu, sebelum kemudian tenggelam di balut kelam, seorang penyair muncul di sebuah podium untuk membacakan sajak-sajaknya. Sang penyair dikenal di negerinya sebagai sang otoritas yang tak terjangkau, suatu dewa eros yang terus bicara tapi tak mendengarkan. Sajak-sajaknya menampilkan monolog batin yang sok khusuk dan khidmat. Tetapi, di kalangan kritikus sastra ia dikenal sebagai seorang narsisme Hindu yang panjang umur. Hal itu terlihat pada kegemaran puisinya pada labirin. Continue reading “Gema yang berpendar di kejauhan”

Person dan Aktor Hamidah dalam Teater

Asarpin

Saya tidak sedang berpretensi sebagai pengamat teater, ketika akhir-akhir ini melihat ramainya fenomen teater yang disibukan dengan dialog yang berlarat-larat sehingga tidak mempunyai ruang untuk menggarap detail di tingkat tubuh aktor. Demikian pula ihwal monolog batin, yang kini tampaknya ditempatkan sebagai locus theatricus, dan nyaris dianggap sebagai model terdepan plus terbaik. Continue reading “Person dan Aktor Hamidah dalam Teater”

Bunga Teratai yang Basah: Renungan Tentang Budha & Biksu di Myanmar

Asarpin *

Dengan Budha
semoga rasa cinta kita memenuhi semesta
di atas, di bawah, di seberang, tanpa batas.
Kebaikan tak berhingga pada semesta
tak berbatas, bebas dari benci dan perseteruan
–KAREN AMSTRONG, Menerobos Kegelapan

Sidharta bukan keturunan kaum paria. Keluarganya terpandang dan hidup dalam istana. Siapa sangka kelak ia akan meninggalkan istana dan masuk ke dalam hutan yang sunyi seorang diri. Menjadi Budha. Continue reading “Bunga Teratai yang Basah: Renungan Tentang Budha & Biksu di Myanmar”

Bahasa ยป