Boesa (Menanggapi Bandung Mawardi)

Hikmat Gumelar*
Pikiran Rakyat, 6 Sep 2008
terkait: http://sastra-indonesia.com/2011/03/godaan-puisi-dalam-politik/

SAYA tergoda oleh “Godaan Puisi Dalam Politik”, tulisan Bandung Mawardi yang terbit di Khazanah (23/8). Di situ Mawardi mengucap, “Politik Indonesia menjadi ramai dan imajinatif dengan puisi. Pemakaian bahasa dengan bentuk puisi bisa melawan (menandingi) kodifikasi bahasa politik Indonesia yang selama ini cenderung kaku, formal, dan prosais. Politik menjadi pelangi dan reflektif karena puisi memberi hak untuk sekian interpretasi dengan tegangan teks dan realitas.” Continue reading “Boesa (Menanggapi Bandung Mawardi)”

Manusia Hotel: Manusia Datang dan Pergi

Bandung Mawardi*
Kompas, 28 Sep 2008

ORHAN Pamuk dengan apik, fasih, dan puitis mengisahkan makna kehadiran manusia dalam hotel. Tokoh Ka sebagai seorang penyair dan jurnalis terlibat dalam pelbagai kisah alienasi sampai revolusi dalam Hotel Istana Salju di Kota Kars. Hotel itu mengusung pertemuan, perselingkuhan, konflik arus peradaban Barat dan Timur dalam fragmen-fragmen rezim politik dan revolusi. Continue reading “Manusia Hotel: Manusia Datang dan Pergi”

Risalah Sengsara

Judul : Ma Yan
Penulis : Sanie B. Kuncoro
Penerbit : Bentang, Yogyakarta
Cetak : 2009
Tebal : vii + 214 Halaman
Peresensi : Bandung Mawardi *
Lampung Post, 31 Mei 2009

KISAH sengsara tak usai dalam novel. Sengsara seperti jadi kutukan untuk pengarang menciptakan kisah dengan haru dan impresif. Pengarang dalam mengisahkan sengsara memiliki acuan-acuan melimpah dalam realitas hidup. Sengsara selalu ada untuk menjelma dalam kata dan imajinasi. Continue reading “Risalah Sengsara”

Etos Intelektual Publik

Judul : Cerita Azra: Biografi Cendekiawan Muslim Azyumardi Azra
Penulis : Andina Dwifatma
Penerbit : Erlangga, Jakarta, 2011
Tebal : 248 halaman
Peresensi : Bandung Mawardi *
http://www.lampungpost.com/

JALAN nasib kerap luput dari ramalan. Keajaiban pun menghampiri tanpa permisi: menguak segala impian dan sangkaan. Semua ini dialami oleh Azyumardi Azra, cendekiawan moncer di Indonesia. Azra sejak mula tak mengira bakal jadi rektor, sejarawan, cendekiawan, atau pengamat politik. Titik berangkat kisah hidup mungkin ada kesinambungan dengan masa depan kendati memunculkan takjub tak teramalkan. Continue reading “Etos Intelektual Publik”

Bahasa ยป