Martabat Puisi dan Gairah Hidup

Bandung Mawardi *
http://www.lampungpost.com/

PENCETUS teori evolusi, Charles Darwin, pengarang On the Origin of Species, pernah memiliki masa intim dengan puisi. Pergaulan ini memberi tanda atas ajakan dalam gelimang makna kehidupan, kendati dunia modern disibukkan dengan pemujaan sains, pemujaan dengan konsekuensi menjauhkan manusia dari kehidupan. Darwin dalam otobiografi, suntingan Nora Barlow (1958), memberi kisah kecil intimitas diri dengan puisi: “Sampai umur tiga puluh tahun atau lebih, puisi dalam segala bentuk … memberiku kenikmatan besar.” Continue reading “Martabat Puisi dan Gairah Hidup”

Pawon: Obrolan Kecil dan Biografi yang Bersambung

Bandung Mawardi
http://pawonsastra.blogspot.com/

Obrolan kecil itu terjadi pada akhir tahun 2oo6. Gairah sastra jadi alasan kuat untuk membicarakan persoalan media publikasi sastra. Solo yang terlupa dan luput dalam pembicaraan sastra mesti memainkan peran tersendiri. Optimisme dan arogansi ada dengan ancangan yang biasa dan pamrih besar. Sastra Solo memiliki sekian kemungkinan yang harus dibaca dan diperhatikan dengan kritis. Sejarah sastra Solo menyimpan biografi-biografi penting mengenai pengarang, peristiwa, dan media. Sejarah itu bukan sekadar jadi bayang-bayang yang samar. Sejarah itu diucapkan kembali bukan sebagai masa lalu tapi interpretasi mutakhir yang membutuhkan komitmen dan kerja. Continue reading “Pawon: Obrolan Kecil dan Biografi yang Bersambung”

Menghormati Pengabdian Sastra

Judul : Rona Budaya: Festschrift untuk Sapardi Djoko Damono
Editor : Riris K Toha-Sarumpaet dan Melani Budianta
Penerbit : Yayasan Pustaka Obor Indonesia dan HISKI, Jakarta
Cetakan : Oktober 2010
Tebal : 360 halaman
Peresensi : Bandung Mawardi
http://www.lampungpost.com/

KERJA sastra, pengabdian diri dalam menyemai sastra, dan pergumulan menebar benih-benih sastra menjadikan Sapardi Djoko Damono sebagai ikon dalam kesusastraan modern di Indonesia. Continue reading “Menghormati Pengabdian Sastra”

Jejak Asketisme Intelektual

Bandung Mawardi *
http://www.korantempo.com/

Sejarah intelektual kerap diperkarakan dalam ranah kekuasaan. Wacana pengetahuan dan kekuasaan telah menjadi dominasi dalam pembentukan Indonesia dan konstruksi identitas intelektual. Pembacaan dan penafsiran intelektual dalam ranah kultural dan spiritual masih jarang diungkapkan dengan pelbagai alasan. Kondisi ini mungkin jadi dalil untuk Sartono Kartodirdjo (1921-2007) mengeluarkan risalah Asketisme Intelektual (1999). Risalah pendek ini menjadi tanda tanya dan tanda seru untuk publik memikirkan ulang identitas dan peran intelektual di negeri ini. Continue reading “Jejak Asketisme Intelektual”

Bahasa ยป