Tag Archives: Benny Arnas

Stereotipikal Laskar Pelangi

Benny Arnas *
Lampung Post, 28 Juli 2013

SAYA merampungkan novel Jurai (GPU, Maret 2013) dalam sekali pembacaan. Guntur Alam berkisah dengan lancar. Gaya dan bahasa penceritaannya, walaupun tidak sekuat pada cerpen-cerpennya, masih berkarakter. Tanpa mengurangi kebahagiaan yang mengerubungi saya usai membacanya, saya merasa dejavu dengan motif ceritanya.

Tak Cukup Air Mata

Benny Arnas, Rachmat Budi M
http://www.lampungpost.com/

KESENDIRIANNYA di beranda telah membuat dadanya makin sesak. Perasaan tertekan dan gelisah berkecamuk. Disandarkannya tubuh ke punggung kursi, seolah berharap ketegangan di lehernya akan merenggang. Anak sulungnya lewat di hadapannya saat akan masuk rumah. Ia bertanya kepada gadis dua belas tahunan itu. Ya, ia bertanya, seolah bertanya dapat mengalihkan kegelisahannya.

Membumikan Cerita ala Saut Poltak Tambunan

Benny Arnas
http://www.riaupos.co/

Sampai sekarang, saya masih belum mampu mendefinisikan “sastra”. Dari apa yang saya gumuli selama ini, saya baru (sampai) pada tingkat pemahaman bahwa “sastra” adalah karangan yang mampu meng-upgrade kemampuan pembaca dalam memaknainya.

Artinya, saya percaya bahwa ada definisi lebih tepat yang (mungkin) sudah dicetuskan oleh orang-orang terdahulu. Bukan berarti saya tak ingin membuka-buka referensi. Tapi,

MENERTAWAKAN ROMANTISME DAN MENGGOSOK MASA LALU

MEMBINCANGKAN CERPEN KITA SEMUA BERJALAN MUNDUR
Benny Arnas
http://harianhaluan.com/

Tak ada yang kita tinggalkan kalau kita berjalan mundur….Demikian kalimat pembuka cerpen Sungging Raga yang berjudul Kita Semua Berjalan Mundur (KSBM) yang dimuat Koran Tempo (10/10/2010). Sepenggal kalimat yang—mela­lui cerpen tersebut—diakuinya dikutip dari buku puisi Afrizal Malna; Pada Bantal Berasap (Omahsore, 2010). Sebuah kalimat (kutipan) yang sangat filofosis.

Realisme-Mitos dalam Cerpen-cerpen Benny Arnas

Hary B Kori’un
Riau Pos, 29 Mei 2011

1
BAGI sebuah karya kreatif (dalam hal ini prosa [cerpen]), pengarang adalah “tuhan” yang bisa menentukan semuanya: mulai dari hidup-mati sang tokoh, nasib, jalan hidup, menderita-bahagia, jatuh cinta-patah hati, kaya-miskin, dan sabagainya. Pengarang punya hak mengatur semuanya, dengan karakter tokoh masing-masing, di mana setting-nya, bagaimana wajah tokoh, bagaimana prilakunya, apa yang hendak dan telah dibuatnya, termasuk sebab-akibatnya. Sebagai “tuhan” bagi karyanya, pengarang harus cerdas menciptakan tokoh-tokohnya, agar kekuatan yang dibangun dalam karya fiksinya juga terasa “hidup”.