Tak Cukup Air Mata

Benny Arnas, Rachmat Budi M
http://www.lampungpost.com/

KESENDIRIANNYA di beranda telah membuat dadanya makin sesak. Perasaan tertekan dan gelisah berkecamuk. Disandarkannya tubuh ke punggung kursi, seolah berharap ketegangan di lehernya akan merenggang. Anak sulungnya lewat di hadapannya saat akan masuk rumah. Ia bertanya kepada gadis dua belas tahunan itu. Ya, ia bertanya, seolah bertanya dapat mengalihkan kegelisahannya.

“Kau bawa ke mana adik-adikmu, Num?”

“Ke rumah bude sebelah, Yah.”

“Kau jaga mereka baik-baik. Jangan biarkan mereka ke mana-mana. Adikmu Nuke dibilangi, jangan merepotkan Budemu. O ya, mereka sudah makan?”

“Sudah, Ayah.”

“Jangan sering-sering kau tinggal adik-adikmu.”

“Nis minta diambilkan bonekanya, Yah.”

“Mana Nel?”

“Masih sekolah, Yah.”

Lalu ia terdiam. Numi sudah meranjak gadis rupanya hingga sigap sekali menjawab pertanyaannya. Ia kadang membenci dirinya sendiri yang tidak bisa hangat dan lembut kepada anak-anaknya, termasuk kepada Numi. Ia ingat sekali. Dulu, ketika baru lahir, kehadiran Numi bagai oasis di padang kehidupannya yang tandus. Sangat disayang, sangat dimanja, sangat dijaga, sangat diperhatikan. Namun lambat-laun semua berubah. Memudar, pias, bias, lalu nyaris amblas hanya menyisakan kebersamaan yang lempang.

Tentu saja bukan karena ia tidak menyukai keramaian di rumah. Ia sadar, istrinya tidak layak disalahkan. Disalahkan? Tidak ada yang salah, sebenarnya! Ia tahu kalau kehadiran Numi, Nely, Nisa, dan Nike, tentulah atas andilnya sebagai seorang suami. Ah, bodoh sekali memikirkan hal itu, pikirnya. Lalu. Ya, lalu ialah yang salah, kan? Sungguh, ia lelah berdebat dengan hati kecilnya. Ia selalu berkilah, bahwa memiliki anak laki-laki dan perempuan adalah perlambang keseimbangan; keseimbangan keluarga, juga kehidupan. Walau tak sekali-dua ia berpikir bahwa itu hanya dalih yang ia tak tahu dari mana berasal. Walau tak sekali-dua ia bertanya pada diri sendiri; mengapa ia tak mampu meredam keinginannya! Keinginan? O tidak, ini bukan keinginan. Ini tentang keberimbangan. Keberimbangan? Keberimbangan dari mana? Baiklah. Ia memang tak pernah berhasil mengalahkan nuraninya. Takkan pernah berhasil, sejatinya. Ini murni keinginanku! Puas?! Begitulah. Tidak salah, bukan? Hhhh… ia menghela napas seolah memberi tanda bahwa ia tak berniat melanjutkan pertikaian dengan hati kecilnya!

Numi masuk ke rumah setelah tidak ada lagi pertanyaan ayahnya yang harus ia jawab. Sesaat kemudian ia keluar lagi dengan membawa boneka beruang.

“Ayah mau ke klinik dulu. Kalau Nel pulang suruh dia saja menjaga adik-adiknya. Kau dapat mengurus rumah kan?”

Numi berhenti sebentar mengiyakan. Tak lupa ia mencium punggung tangan ayahnya. Sebelum pergi ke rumah bibinya, Numi masih sempat melempar tanya.

“Adik kami nanti laki-laki atau perempuan, Yah?”

Ia menoleh. “Laki-laki!”

***

DI klinik, ia kembali dengan kesendiriannya. Sendiri dengan kegelisahannya. Sendiri dalam penantiannya. Ia tiba-tiba merasa asing dengan tempat ini. Ah tidak, keempat anakku dilahirkan di sini, kok. Namun demikian, ia tak dapat menipu perasaannya yang seolah linglung dengan suasana sekitar. Klinik itu bagai dilalui alunan irama musik aneh yang datang dari tempat yang jauh. Ia merasa terpisah dari suasana kehidupannya sehari-hari: kegaduhan suara anak-anak bermain, tangis mereka yang berkelahi, teriakan ibu kepada anak-anak di dapur, dan segala macam suara berisik lainnya. Tiba-tiba ia merindukan suasana dalam rumah tangga, keluarga yang mempunyai anak sampai empat orang—o tidak, tapi empat orang putri—sepertinya. Ya, empat orang putri.

Aneh, bukan? Aneh? Benarkah?

Tiba-tiba ia memalingkan muka ke arah salah satu pintu kamar yang berjejer di klinik. Kamar itu masih juga tertutup rapat dan telinganya belum menangkap suara apa-apa dari sana. Kemudian ia meluruskan pandang seperti semula, melayangkannya jauh ke depan, ke tengah lapangan seberang klinik.

Seekor induk kambing dengan dua ekor anaknya yang masih kecil sedang mengulam di sana. Anak-anak kambing itu setiap sebentar melompat-lompat di atas kaki-kakinya yang mungil, dan suatu ketika tiba-tiba berlarian menyuruk ke bawah perut induknya, memagut susu induknya seperti berebutan sambil mengibas-ngibaskan ekor dengan nakal. Sang induk berdiri tenang membiarkan anak-anaknya mengelayuti kelenjar susunya.

Susu? Anak-anak? Anakku? Anakku?

Hhhh. Ia melenguh kesal. Ya, ia gagal lagi mengalihkan kegelisahannya.

Pikirannya masih ditawan oleh harapan dan kecemasan. Memang, menunggu istrinya melahirkan bukanlah hal baru baginya. Malahan penantian ini adalah kali kelima. Tapi arti setiap penantian itu tidak selalu sama baginya. Lebih-lebih setelah kelahiran anaknya yang ketiga. Ia harus menyambut bentuk kehadiran yang sama seperti yang dua kali sebelumnya: perempuan!

Ia meyakini, harapan dan kecemasan selalu muncul dengan kekuatan yang berimbang. Tapi sejak kelahiran anak perempuannya yang kedua—lalu diikuti yang ketiga dan keempat, harapan itu telah berkembang menjadi keinginan. Ia pun tak mengerti, bagaimana keinginan itu mengakar kuat sedemikian rupa hingga kehadiran seorang anak laki-laki dari kehidupannya seolah menjadi kemestian! Ya, mereka (dirinya, lebih tepatnya) menginginkan variasi yang memberi kelengkapan. Benarkah kehadiran anak laki-laki benar-benar melengkapi? Ia tidak pernah mengubur harapan. Bahkan sebaliknya, ia timbun harapan itu dengan iringan doa-doa yang berkubah dada.

***

IA merasa kali ini adalah haknya untuk merasakan kebenaran harapan itu!

Selama ini ia telah mendatangi banyak tabib, psikolog, hingga mendatangi dukun (walaupun ia tidak pernah memakai jasanya); ia telah menamatkan banyak buku kedokteran dan pengobatan tradisional; bahkan ia mempelajari kamasutra dari seorang temannya yang baru saja dikaruniai anak laki-laki setelah kelahiran yang kedelapan (Ia baru percaya kalau cara berhubungan memengaruhi keturunan)….

Kini, tibalah saatnya. Semua usaha akan berpusar pada hari ini. Hari kelahiran anak kelimanya! Ia hanya berserah kepada-Nya. Dan memang itu yang bisa dilakukan sesiapa dalam keadaan seperti ini. Kesendiriannya yang menggelisahkan itu diisinya dengan doa-doa permohonan dan penyerahan.

Lamat-lamat telinganya menangkap suara mengejan. Serta-merta ia melempar pandang ke kamar yang tak jauh darinya. Istriku? Anakkku? Suara itu makin kerap dan keras. Sesekali seperti permulaan untuk mengerang. Ia membayangkan keadaan istrinya. Oh, ia pasti sedang meliuk-liuk dengan wajah meringis menahan sakit tak tertanggungkan.

Wajahnya makin tegang. Seketika segala doa dan harapannya hilang berganti dengan kecemasan. Semata-mata kecemasan. Ketika tiba-tiba kemudian ia menguasai dirinya kembali, ia segera memusatkan pikirannya dengan berdoa kembali bagi keselamatan istrinya. Ya, pikirannya kini lebih banyak tertuju kepada keselamatan istrinya. Rintihan-rintihan istrinya yang mencemaskan serta bayangannya pada keadaan istrinya yang kini sedang bertarung dengan rasa sakit, telah mengalihkan harapannya akan kelahiran yang sedang dinantikannya itu sendiri. Ingin rasanya ia menerobos pintu itu dan kemudian berbuat sesuatu yang ia tidak tahu apa, untuk meringankan penderitaan istrinya. Tapi itu tak ia lakukan, sama seperti ia tak ingin menganjurkan istrinya melakukan USG sejak bulan kelima kehamilannya.

Ia kemudian bangkit, mondar-mandir gelisah dengan gerakan-gerakan yang tak disadarinya. Ia melihat jam di tangan kirinya.

Sudah satu jam, pikirnya.

Kembali terdengar suara mengejan. Kini terdengar lebih keras. Lalu tiba-tiba melemah dan kemudian seperti sayup. Tiba-tiba ia mendengar suara itu. Tangis bayi! Seperti terlempar, ia membuat langkah panjang menuju pintu kamar. Tapi tangis itu segera lenyap ketika ia tiba di pintu. Dibukanya pelan-pelan pintu itu. Ia segera dapat melihat bidan sedang sibuk dengan bayi yang tergeletak di ranjang mungil, sedang seorang suster sibuk dengan istrinya yang tampaknya belum sadar. Ia segera melangkah bersijingkat ke dalam ruangan. Pandangannya melompat-lompat; berpindah-pindah dari bayi ke istrinya, dari istri ke bayinya.

Bidan yang mengetahui kehadirannya, menghampirinya.

“Maaf Pak, kami sudah berusaha.”

“Maksud, Bu Bidan?”

Bidan itu menunduk.

“Anak saya perempuan lagi?”

Bidan itu mendongak.

“Enggak papa, Bu. Asalkan anak dan istri saya selamat.”

“Bukan, Pak.” Bidan itu bersipandang dengan suster yang membantunya melakukan persalinan. “Bayi Bapak tidak dapat kami tolong. Maafkan kami, Pak. Ini di luar….”

Ia tidak dapat mendengar kelanjutan suara bidan itu lagi. Ia tiba-tiba jadi bingung dan tak tahu apa yang akan diperbuatnya. Kini ia merasa ruangan itu sedikit menjadi suram dan kebenderangan yang dirasakannya tadi mulai berkurang. Tangannya bergerak-gerak seperti ingin menyentuh bayi yang berada tak jauh dari istrinya. Ia berjalan pelan menuju ranjang bayi. Dipandangnya sang bayi dengan penuh saksama, lamat-lamat: dari rambut, mata, hidung, bibir, tangan, perut, pusar, dan … oh, Tuhan…. Air matanya menetes begitu saja. Sungguh, ia tak ingin menangis tapi ia tak dapat mengendalikan dirinya. Ia tersedu-sedan.

Ia mundur pelan-pelan dan mendekati tempat istrinya berbaring. Ia melihat istrinya yang mulai siuman. Suster yang merawatnya istrinya beralih mengurus bayi. Ia duduk di tepi ranjang di samping istrinya, lalu membungkukkan badan mencium dahi istrinya. Ketika dia mengangkat mukanya kembali, pandangannya tertumbuk pada mata istrinya yang menanggung lelah yang sangat.

“Kau sudah lihat?” Suara istrinya bertanya lemah sekali.

Ia tersenyum. Matanya masih basah.

Istrinya menyeka air mata suaminya dengan gerakan tangan yang masih lemah. “Mas, kita punya anak laki-laki kok. Hanya saja sudah dipanggil Tuhan. Tapi kita tetap pernah punya kok, Mas.” Istrinya mencoba tersenyum, tetapi suaranya yang serak tak dapat menyembunyikan perasaan sedihnya yang mendalam. Istrinya pun tak mampu mencegah bulir-bulir hangat itu berebutan keluar dari kedua matanya yang redup.

Ia peluk istrinya. Mereka sama-sama menangis. Tiba-tiba ia merasa begitu bersalah. Kepada istrinya. Kepada anak-anaknya. Kepada dirinya.

Kepada Tuhan, tentu saja.

/13 May 2012