Membaca Ravel (1875-1937) Melalui Yuja Wang

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=295

Joseph Maurice Ravel (7 Maret 1875 – 28 Desember 1937), komponis Perancis atas musik impresionis, yang dikenal terutama melodi, orkestra, instrumental tekstur dan efek. Sebagian besar musik piano, musik kamar, musik vokal dan musik orkestra, telah memasuki repertoar standar konser.
Menurut J. Van Ackere; orang jangan menggambarkan Ravel seperti Beethoven dengan rambut yang kacau, dengan buku catatan musiknya melarikan diri ke alam sepi, atau serupa Schumann, yang merenung di tepi sungai Rhein, dengan pandangan menghilang di kejauhan. Tidak. Continue reading “Membaca Ravel (1875-1937) Melalui Yuja Wang”

Jose de Espronceda (1808-1842)

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=386

KEPADA SPANYOL
Jose de Espronceda

Percuma kini megah menara ditembok batu dan kekayaan sumber-sumbermu.
Tunjukkan daku sisa pusaka pahlawan perkasa, yang mewangi namamu dengan waninya.

Pernah kau dulu bertahta, tinggi laksana pohon yang megah di puncak gunung Libanon.
Suaramu: Halilintar, bergegar menyambar hati pengecut dengan geger dan gentar takut. Continue reading “Jose de Espronceda (1808-1842)”

Marco Polo (1254-1324) Mampir di Jogjakarta?

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=389

Marco Polo (15 Sep 1254 – 8 Jan 1324), pedagang penjelajah lahir di Venezia, Italia. Pergi ke Tiongkok semasa kuasanya Dinasti Mongol. Menemukan kekisah menarik dan aneh, dari dunia Timur bagi bangsa Eropa. Para cendekia berpendapat Marco ke Tiongkok, tetapi tidak mengunjungi semua tempat, yang tergambar di bukunya (Xanadu). Kisah menarik untuk Indonesia, cerita unicorn (kuda bertanduk satu) yang dijumpai di Sumatra. Namun ilmu pengetahuan membuktikan, yang ditemuinya bukan sembrani, melainkan badak. Continue reading “Marco Polo (1254-1324) Mampir di Jogjakarta?”

Yasunari Kawabata (1899-1972)

Nurel Javissyarqi*
http://pustakapujangga.com/?p=313

Yasunari Kawabata, lahir di Osaka 14 Juni 1899, meninggal di Kamakura 16 April 1972. Novelis Jepang yang prosa liriknya memenangkan Nobel Sastra 1968. Usia dua tahun yatim, lantas tinggal bersama kakek-neneknya. Neneknya meninggal ketika ia berusia 7 tahun, kakak perempuannya hanya sekali dijumpai setelah kematian orangtuanya, meninggal ketika Kawabata berusia 10 tahun, dan kakeknya ketika ia berusia 15 tahun. Pindah ke keluarga ibu, Januari 1916 ke asrama setara SMP, yang bolak-balik menaiki kereta api. Continue reading “Yasunari Kawabata (1899-1972)”