Cara Sastra(wan) Empati terhadap Bencana

Jusuf AN *

Serasa masih belum kering air mata negeri ini atas tregedi tsunami yang terjadi Atceh (2004), gempa bumi di Pangandaran (2005), Yogyakarta (2006), Padang (2009). Masih belum tuntas duka warga Sidoarjo dari lumpur Lapindo (sejak 2006) yang menelan rumah dan harta benda mereka. Belum sembuh benar luka-luka negeri ini akibat bencana-bencana yang meluluh lantakkan bumi, menelan harta benda dan menghilangnan ribuan nyawa; dan kini serentetan bencana kembali terjadi secara beriringan; banjir bandang di Wasior (4/10), tsunami di Mentawai (26/10), dan letusan gunung Merapi Yogyakarta yang hingga sekarang masih mendebarkan. Continue reading “Cara Sastra(wan) Empati terhadap Bencana”

Peluncuran Antologi ‘Aku Ingin Mengirim Hujan’: Merekonstruksi Personalitas Puisi

Sony Wibisono
Suara Merdeka, 22 Juli 2008

SEBUAH sajak bisa saja menjadi sebuah karya yang sangat personal. Hal itu sah dan manusiawi. Namun ternyata banyak penulis yang tidak menyadari proses tersebut. Banyak yang beranggapan karyanya tidak layak dibaca orang karena merasa bukan penyair. Padahal tidak ada lembaga yang mengangkat orang menjadi penyair. Continue reading “Peluncuran Antologi ‘Aku Ingin Mengirim Hujan’: Merekonstruksi Personalitas Puisi”

DAMPAK LICENTIA POETICA BERNAMA “KREDO PUISI” TERHADAP EKSISTENSI BAHASA

Hadi Napster

Pada tanggal 02 Oktober 2011 yang lalu, tepatnya pukul 20:08 WIB, di Grup Komunitas Bengkel Puisi Swadaya Mandiri (BPSM), terjadi satu interaksi sangat menarik dengan tema pembahasan “licentia poetica” dalam sebuah diskusi yang diawali oleh posting Dimas Arika Mihardja (DAM) melalui tulisan: Continue reading “DAMPAK LICENTIA POETICA BERNAMA “KREDO PUISI” TERHADAP EKSISTENSI BAHASA”

Bahasa »