Tapol 007: Cerita Tentang Seorang Kawan

Yos Rizal Suriaji, Kurie Suditomo, Evieta Fadjar, LN Idayanie
– Majalah Tempo, 8 Mei 2006

Mereka berbicara tentang seseorang, juga tentang sebuah masa yang jauh.
Oey Hay Djoen datang ke Tempo, Rabu lalu, dengan ditopang sepotong tongkat. U-sianya 77 tahun. Tapi suaranya masih lantang-. Ingatannya pada masa lalu masih jernih. Oey a-dalah aktivis Lembaga Kebudayaan Rakyat dan anggota MPR/DPR GR dari Partai Komunis Indonesia. Ia dikarantina sejak 1969 sampai 1979. Ia menempati Unit 3 Wanayasa. Oey adalah tahanan politik (tapol) berbaju nomor 001. Continue reading “Tapol 007: Cerita Tentang Seorang Kawan”

Wawancara Asrul Sani: “Angkatan 45 Membebaskan Bahasa Indonesia”

Dwi Arjanto, Hermien Y. Kleden
Majalah Tempo, 8 Nov 1999

TIDAK mudah menampilkan sosok Asrul Sani, penyair, sutradara, dan penulis skenario yang oleh orang film kini dianggap legenda. Asrul juga dokter hewan lulusan Institut Pertanian Bogor dan pernah menjadi anggota DPR selama tiga masa jabatan. Pengetahuannya sebagai dokter hewan hampir tidak dipraktekkan. Namun, selaku sastrawan dan seniman film, Asrul Sani tak pernah berhenti berkarya. Continue reading “Wawancara Asrul Sani: “Angkatan 45 Membebaskan Bahasa Indonesia””

Rainer Maria Rilke – Surat untuk Penyair Muda

Diterjemahkan: Sutardji Calzoum Bachri dari Letters To A Young Poet karya penyair Jerman Rainer Maria Rilke.

Kau tanyakan apakah sajak-sajakmu bagus. Kau tanyakan padaku. Sebelumnya kau pun telah bertanya pada yang lain. Kau kirim sajak-sajakmu itu ke berbagai majalah. Kau banding-bandingkan dengan sajak-sajak yang lain. Dan kau pun jadi terganggu ketika ada redaktur yang menolak upayamu itu. Kini, (karena kau izinkan aku menasehati kau), aku minta kau jangan lagi melakukan semua ikhtiar semacam itu. Kau melihat ke luar, dan dari segala-galanya itulah yang kini harus tidak boleh kau lakukan. Continue reading “Rainer Maria Rilke – Surat untuk Penyair Muda”

Haji Misbach: Muslim Komunis

Sumber : Tabloid Pembebasan Edisi V/Thn II/Februari 2003
Kontributor : Dewan Redaksi Tabloid Pembebasan, Januari 2004
Versi Online : Indomarxist.Net, 3 Februari 2004

Haji Misbach memiliki posisi yang unik dalam sejarah di Tanah Air. Namanya sedahsyat Semaun, Tan Malaka, atau golongan kiri lainnya. Di kalangan gerakan Islam, memang namanya nyaris tak pernah disebut lantaran pahamnya yang beraliran komunis. Menurut Misbach, Islam dan komunisme tidak selalu harus dipertentangkan, Islam seharusnya menjadi agama yang bergerak untuk melawan penindasan dan ketidakadilan. Continue reading “Haji Misbach: Muslim Komunis”

Bahasa ยป