WIRATMO SOEKITO: INI BUKAN MANIFES KEBUDAYAAN II

Suryansyah

[Wawancara yang dilakukan Majalah TIRAS (1 Juni 1995, Hal 45-50) dengan Wiratmo Soekito, Konseptor Manifes Kebudayaan 31 tahun lalu. Ia menentang pernyataan Mei 1995].

Telah lahir sebuah pernyataan, namanya “Pernyataan Mei”. Inilah pernyataan sikap sejumlah budayawan terhadap berbagai bentuk pelarangan dalam kemerdekaan mencipta. Diproklamasikan tanggal 8 Mei lalu bertepatan dengan 31 tahun dilarangnya Manifes Kebudayaan (Manikebu) oleh Presiden Soekarno “Pernyataan Mei” serta merta mendapat sambutan, baik pro maupun kontra. Continue reading “WIRATMO SOEKITO: INI BUKAN MANIFES KEBUDAYAAN II”

LAMONGAN BERTERIAK LEWAT SENI DAN SASTRA

Imamuddin SA

Lamongan! Mungkin nama ini terlalu tabu di tengah-tengah semua gendang pendengaran anak manusia. Atau bisa jadi anda akan mengerutkan dahi dan bahkan merasa takut ketika nama tersebut disebut. Ya, bagi saya itu wajar. Kota kecil yang terletak antara kota pudak Gersik dan kota Bojonegoro ini memang pada mulanya dipandang sebelah mata oleh kota-kota lain di sekitarnya. Kota yang belum memiliki talenta lokalitas yang mampu menyuarakan namanya di kanca perkembangan zaman. Continue reading “LAMONGAN BERTERIAK LEWAT SENI DAN SASTRA”

Cheng Ho ala Lesbumi

Seno Joko Suyono
http://majalah.tempointeraktif.com/

LAKSAMANA Cheng Ho turun ke tanah Sumatera. Ia disambut sebuah pesta. Ia memainkan seruling. Lagunya: Butet. Inilah pentas drama Cheng Ho yang diselenggarakan Lesbumi di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pekan lalu. Lembaga kebudayaan NU ini ingin menunjukkan bagaimana pentingnya pengaruh Cheng Ho di Nusantara. Continue reading “Cheng Ho ala Lesbumi”

Bahasa ยป