Telah Terbit Lagi Karya Sastra di Balik Tangan Buruh Migran

Indira Margareta
http://www.kompasiana.com/indrimargareta.multiply.com

Kemarin aku membaca status teman juga pesan berantai di FB, bahwa telah terbit lagi buku karya Buruh Migran Indonesia di Hong Kong. Hebat!!!, tentu aku akan bilang seperti itu. Bagaimana tidak? Mereka yang bekerja berada di bawah naungan tuntutan sang juragan masih sempat menulis. Padahal waktu mereka adalah dua puluh empat jam sehari dalam enam hari, bahkan ada yang tujuh hari karena tidak mendapatkan hak libur. Tapi mereka menunjukan betapa mereka sangat menghargai waktu yang ada. Continue reading “Telah Terbit Lagi Karya Sastra di Balik Tangan Buruh Migran”

Ekspansi

Wawan Eko Yulianto

Setahun antara 2009 hingga 2010 saya menenggelamkan diri ke dalam riak gelombang musik country. Saya hayati kisah-kisah dalam setiap lagu yang saya sukai. Saya kenali orang-orang yang menyukai musik country. Saya coba jalani satu dua bagian hidup orang-orang yang diceritakan dalam lagu-lagu country. Saya ikuti juga gosip-gosip pribadi tentang para penyanyi country. Semuanya saya lakukan seperti seorang penikmat tanpa pretensi (setidaknya begitulah menurut saya). Continue reading “Ekspansi”

Bijak Memilih Sekolah

Abdul Hopid
seputar-indonesia.com

HATI-HATI memilih sekolah! Pilihlah sekolah unggulan, yaitu sekolah yang memperhatikan aspek-aspek perkembangan dan kebutuhan manusia, bukan sekolah yang hanya melatih bagaimana siswanya mampu menjawab soal ujian nasional (UN), apalagi mengajarkan menyontek.

Jika Anda membaca buku karya Thomas Armstrong, The Best School; How Development Research Should Inform Educational Practice, Anda pasti menemukan dua wacana besar model sekolah. Pertama, sekolah Wacana Prestasi Akademik. Kedua,Wacana Perkembangan Manusia. Continue reading “Bijak Memilih Sekolah”

Melepaskan Manusia dari Bayang-Bayang “Agama”

Fawaidurrahman

Seperti tak pernah ada titik temu, konflik dan upaya perebutan tampuk kekuasaan atas nama agama selalu bergulir di tengah hingar-bingar pergulatan pemikiran dan politik. Agama yang dipahami sebagai sebuah dogma-otoritatif selalu menimbulkan perebutan truth claim antar agama yang satu dengan yang lain. Sejarah membuktikan, perbedaan agama selalu menjadi alasan dalam melakukan perluasan kekuasaan yang berujung pada pertumpahan darah. Continue reading “Melepaskan Manusia dari Bayang-Bayang “Agama””

Siapa Bilang VOC Bukan Penjajah?

Muhammad Subarkah
Republika, 11 Juli 2011

TAK cukup menjarah dengan VOC, Pemerintah Belanda juga meminta uang sebesar 1.130.000.000 dolar AS sebagai pengganti pengakuan kedaulatan atas Indonesia.

Pada suatu siang di sekitar tahun 1918 beberapa orang tengah makan di ruang tengah Ketua Syarikat Islam, Umar Said Cokroaminoto, yang terletak di Peneleh Gang 7, Surabaya, sambil menyantap hidangan sekaligus meresapkan pembicaraan politik. Soekarno yang saat itu remaja duduk bersama mereka. Saat itu, Alimin dan Muso juga ikut makan bersama. Continue reading “Siapa Bilang VOC Bukan Penjajah?”

Bahasa »