Biarkan I La Galigo Mengembara

Budi Suwarna, Maria Serenade Sinurat
Kompas, 24 April 2011

SETELAH tujuh tahun dibawa keliling dunia, kisah I La Galigo akhirnya dipentaskan di Makassar, boleh dibilang tanah kelahirannya. Pementasan ini bisa menjadi pintu masuk untuk membuka tabir mitologi I La Galigo yang belum terkuak.

Tabu telah dilanggar. Sawerigading menebang pohon suci welenrenge. Tiada pilihan lain baginya selain meninggalkan tanah kelahiran di Luwuq (Luwu) dan We Tenriabeng, saudari kembarnya. Pengembaraan sang putra dewa mencari cinta yang sempurna pun dimulai hingga dia sampai ke negeri China dan menikahi I We Cudai. Continue reading “Biarkan I La Galigo Mengembara”

Recitatif Panjang untuk Sebuah Cerita Pendek

Salomo Simanungkalit
Kompas, 24 April 2011

SEORANG aktivis mungkin bereaksi sinis: mengapa opera mengenai penculikan yang diorkestrasi oleh negara—melalui tangan rezim Orde Baru—tiga belas tahun silam digelar di sebuah auditorium bank negara, Bank Indonesia, yang megah dan tenteram?

Namun, para penonton Opera Saku Ibu yang Anaknya Diculik Itu karya bersama pianis terkemuka Indonesia, Ananda Sukarlan, dan cerpenis produktif, Seno Gumira Ajidarma, cukup plong ketika soprano Aning Katamsi mengakhiri pertunjukan minimalis itu dengan, ”Gila…. Continue reading “Recitatif Panjang untuk Sebuah Cerita Pendek”

Revolusi Sunyi dari Lubang Sembunyi

Putu Fajar Arcana, Aryo Wisanggeni G
Kompas, 24 April 2011

PANGGUNG berupa balkon yang dibangun dari kayu, cerobong asap, dan sebuah sel sempit dilumuri warna merah. Seseorang berlari lalu mengibaskan bendera di ketinggian. Musik yang juga sayup-sayup berasa merah mengalir….

Itulah adegan pembuka Tan Malaka, Opera 3 Babak yang dipentaskan Sabtu (23/4) di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta. Opera karya Goenawan Mohamad dalam rangka 40 tahun majalah berita mingguan Tempo, itu akan dipentaskan kembali Minggu (24/4) malam. Continue reading “Revolusi Sunyi dari Lubang Sembunyi”

Selamat Datang, Jurnal Sajak!

Jay Am
Seputar Indonesia, 8 Mei 2011

PADA sebuah siang yang hangat di awal Mei ini,perhelatan sederhana dilangsungkan di tempat yang sederhana: Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin,Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Di perpustakaan penting yang tengah mendapat sorotan lantaran mau ditutup karena pemerintah daerah tidak lagi menganggarkan dana pantas untuk pengelolaannya ini,Jurnal Sajakdan Jurnal Kritikdikenalkan kepada publik luas—istilah teknisnya diluncurkan atau launched dalam Inggris. Continue reading “Selamat Datang, Jurnal Sajak!”

Revitalisasi Hukum Adat, Mungkinkah?

Wahyu Sasongko *
Lampung Post, 14 Okt 2006

Hukum Adat dalam Tebaran Pemikiran. Penulis: H. Rizani Puspawidjaja, S.H. Bandar Lampung: Universitas Lampung, 2006. 175 halaman

MESKIPUN Indonesia telah merdeka, masih terasa belum sungguh-sungguh merdeka. Setidaknya, dalam bidang hukum. Betapa tidak, sebagai negara merdeka, Indonesia seharusnya memiliki sistem dan tata hukum nasional yang berwatak kebangsaan. Continue reading “Revitalisasi Hukum Adat, Mungkinkah?”

Bahasa »