Dialog Borneo-Kalimantan XI: Menjayakan Sastra di Bumi Etam

Sumber: Panitia Dialog Borneo-Kalimantan XI

Untuk pertama kalinya Kalimantan Timur akan menjadi tuan rumah dari sebuah acara pertemuan sastra internasional. Acara pertemuan sastra internasional ini bernama Dialog Borneo-Kalimantan XI. Dialog Borneo-Kalimantan sendiri merupakan suatu pertemuan sastra berkala yang pesertanya adalah lintasnegara satu pulau, yaitu pulau Borneo atau pulau Kalimantan. Pertemuan ini dilaksanakan tiap dua tahun sekali dengan bergiliran tempat penyelenggaraannya. Continue reading “Dialog Borneo-Kalimantan XI: Menjayakan Sastra di Bumi Etam”

Jimat Para Koruptor vs Jimat Teroris

M.D. Atmaja

Membicarakan masalah jimat, tidak semerta-merta membubuhi diri dengan pikiran kolot, atau rasa yang menolak logika. Masyarakat Indonesia, dimulai dalam tradisi animisme yang mana menempatkan posisi jimat dalam struktur sakral yang diminati. Jimat sebagai sesuatu yang logis bagi mereka yang mempercayai, namun kita tidak akan membicarakan mengenai ungkapan “jimat” yang sebenarnya. Akantetapi, lebih pada nilai keampuhan yang dibawa, ditunjukkan pada kita semua. Continue reading “Jimat Para Koruptor vs Jimat Teroris”

Nasib Sastra di Sekolah

Suheri
Lampung Post, 16 April 2011

…wahai Pak Guru, jangan kami disalahkan apalagi dicerca/bila kami tak mampu mengembangkan kosakata/selama ini kami hanya diajar menghafal dan menghafal saja/mana ada dididik mengembangkan logika/mana ada diajar berargumentasi dengan pendapat berbeda/dan mengenai masalah membaca buku dan karya sastra, Pak Guru/sudah lama sekali/mata kami rabun novel, rabun cerpen, rabun drama, dan rabun puisi/tapi mata kami kan nyalang bila menonton televisi. (Taufiq Ismail, Pelajaran Tata Bahasa dan Mengarang) Continue reading “Nasib Sastra di Sekolah”

Rosihan Anwar

Djadjat Sudradjat
Lampung Post, 17 April 2011

WARTAWAN ada karena ia terus menulis! Dan, Rosihan Anwar membuktikannya dengan konsisten. Penanya tetap tajam sepanjang zaman. Hanya maut yang bisa menghentikan ketajaman pena itu. Dedikasinya pada dunia jurnalistik adalah pesan kepada wartawan yang lebih muda, “Jangan mengaku wartawan kalau ‘penanya tumpul’ karena lebih sibuk mengurus dunia lain.” Continue reading “Rosihan Anwar”

Dari Novel ke Festival Film Bandung

Cornelius Helmy
Kompas, 23 April 2011

PENULIS serba bisa, Eddy D Iskandar (60), ternyata sering dibuat terkejut oleh tulisannya sendiri. Lewat ”Gita Cinta dari SMA” yang dimuat sebagai cerita bersambung di majalah ”Gadis” pada tahun 1976, Eddy menuai pujian. Bahkan, atas permintaan pembaca, dibuatkan juga sambungannya berjudul ”Puspa Indah Taman Hati”.

”Padahal saya hanya mencoba mengisi kekosongan pembuatan tulisan dan novel bertema remaja. Saya semakin terkejut karena dalam waktu sebulan kumpulan cerita bersambung yang dibuat jadi novel sudah cetak ulang,” tutur Eddy. Continue reading “Dari Novel ke Festival Film Bandung”

Bahasa »