Memberi Nilai ‘Mata Uang’ Kebudayaan

(Catatan dari Kongres Kebudayaan Indonesia 2008)

Syaiful Irba Tanpaka*
Lampung Post, 21 Des 2008

KONGRES Kebudayaan Indonesia (KKI) 2008 di Bogor yang berlangsung 10–12 Desember lalu memilih tema Kebudayaan untuk kemajuan dan perdamaian menuju kesejahteraan. Suatu tema yang dilatarbelakangi kenyataan bahwa Indonesia memiliki keanekaragaman suku bangsa, budaya, flora, fauna, serta kekayaan sumber daya alam. Continue reading “Memberi Nilai ‘Mata Uang’ Kebudayaan”

Tiga Topik Dominan Buku tentang Bali

I Nyoman Darma Putra *
Bali Post, 21 Des 2008

DALAM setengah abad terakhir, tulisan tentang Bali, baik yang terbit di media massa maupun dalam bentuk buku, didomininasi tiga topik utama. Ketiga topik tersebut adalah masalah politik, masalah budaya-adat, dan dampak pariwisata.

Tema lain seperti lingkungan, kesehatan, dan gender juga muncul tetapi dalam penggarapannya sering dikaitkan dengan ketiga topik di atas. Misalnya, kajian tentang lingkungan dan AIDS biasanya dilihat sebagai dampak pariwisata. Situasi sosial politik mempengaruhi timbul-tenggelamnya ketiga topik dominan itu. Continue reading “Tiga Topik Dominan Buku tentang Bali”

Mengikuti Centhini saat 40 Malam Mengintip Sang Pengantin (II)

M.D. Atmaja

Serat Centhini (yang dapat dikatakan sebagai) adalah kitab masyarakat Jawa di dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Di dalam serat Centhini yang ditulis pada tahun 1815 tersebut, merupakan perpaduan dari tiga pujangga keraton Surakarta, yaitu Ngabehi Ranggasutrasna, Raden Tumenggung Sastranegara, dan oleh Ki Ngabehi Sastradipura, yang merupakan gambaran dari kehidupan dari masyarakat Jawa di dalam menjalani kehidupan. Continue reading “Mengikuti Centhini saat 40 Malam Mengintip Sang Pengantin (II)”

Mengikuti Centhini saat 40 Malam Mengintip Sang Pengantin (I)

M.D. Atmaja

Novel Cinthini sebagai (yang menurut saya merupakan) interpretasi ulang dari Serat Centhini yang ditulis pada tahun 1815 oleh Sri Susuhunan Pakubuwana V dapat memberikan wawasan kepada generasi muda tentang karya sastra Nusantara lama (dibaca juga dengan: kuno). Novel panjang Centhini ini memberikan gambaran pada generasi muda tentang bagaimana nilai kearifan lokal yang terkandung di dalam kesusastraan Indonesia Lama (Kesustraan Lama) yang saat ini sulit untuk dipahamioleh khalayak publik yang lebih luas. Continue reading “Mengikuti Centhini saat 40 Malam Mengintip Sang Pengantin (I)”

Bahasa ยป