Asian International Art Exhibition XXII: Dilema Seni di Asia

Bambang Sugiharto *
Pikiran Rakyat, 8 Des 2007

SENI adalah artikulasi sekaligus representasi dinamika budaya dan masyarakat. Dari sisi modernitas, kebanyakan negara-negara di Asia adalah negara-negara yang baru muncul. Dalam berbagai bentuk dan dinamikanya mereka masih bergumul untuk berkembang dan membentuk pola eksistensinya masing-masing. Proses-proses tersebut membawa jebakan dan situasi-situasi dilematis tertentu. Artikel ini hendak mengangkat lapisan-lapisan dilema itu dan kemudian merumuskan ulang posisi seni di dalamnya. Continue reading “Asian International Art Exhibition XXII: Dilema Seni di Asia”

Puisi, Prosa, dan Politik: “Keadilan Sudah Ditegakkan!”

Arya Gunawan*
Kompas, 9 Des 2007

“Keadilan sudah ditegakkan!”

Takdir berteriak berulang-ulang di depan ratusan ribu massa di depan Istana Merdeka. Ratusan massa lainnya tampak berdiri di atap Istana Merdeka, berteriak di depan patung Garuda Pancasila, menggoyang- goyangnya, bernyanyi mengentak enam tiang putih raksasa bagai kaki Zeus yang lesu kehilangan cinta Hera. Mereka mengibarkan bendera spanduk warna-warni melawan angin yang bertiup kencang dari Monas. Continue reading “Puisi, Prosa, dan Politik: “Keadilan Sudah Ditegakkan!””

Lagu Puisi, Musik dari Sanubari

Putu Fajar Arcana, Frans Sartono

MENGAPA jika puisi kita dinyanyikan cenderung berkesan sendu dan bahkan seperti mencerminkan dunia yang suram? Pertanyaan itu sebetulnya tidak diperuntukkan pada musik sebagai bahasa pembentuk nyanyian, tetapi mempersoalkan kecenderungan puisi-puisi modern kita yang dipenuhi kemurungan di sana-sini. Setelah era Rendra dan kemudian Sutardji Calzoum Bachri tahun 1970-an sampai 1980-an, dimulai dari Sapardi Djoko Damono puisi-puisi yang lahir dari para penyair, seperti tak henti mendedahkan kemurungan. Continue reading “Lagu Puisi, Musik dari Sanubari”

“Demi Kebebasan, Membela Kebathilan!”

Adian Husaini

Beranda New

Masih ingat Lia Eden? Dia mendakwahkan dirinya sebagai Jibril Ruhul Kudus. Lia, yang mengaku mendapat wahyu dari Allah, pada 25 November 2007, berkirim surat kepada sejumlah pejabat negara. Kepada Ketua Mahkamah Agung RI, Bagir Manan, Lia berkirim surat yang bernada amarah. ”Akulah Malaikat Jibril sendiri yang akan mencabut nyawamu. Atas Penunjukan Tuhan, kekuatan Kerajaan Tuhan dan kewenangan Mahkamah Agung Tuhan berada di tanganku,” tulis Lia dalam surat berkop ”God’s Kingdom: Tahta Suci Kerajaan Eden”. Continue reading ““Demi Kebebasan, Membela Kebathilan!””

Bahasa »