Asian International Art Exhibition XXII: Dilema Seni di Asia

Bambang Sugiharto*
Pikiran Rakyat, 8 Des 2007

SENI adalah artikulasi sekaligus representasi dinamika budaya dan masyarakat. Dari sisi modernitas, kebanyakan negara-negara di Asia adalah negara-negara yang baru muncul. Dalam berbagai bentuk dan dinamikanya mereka masih bergumul untuk berkembang dan membentuk pola eksistensinya masing-masing. Proses-proses tersebut membawa jebakan dan situasi-situasi dilematis tertentu. Artikel ini hendak mengangkat lapisan-lapisan dilema itu dan kemudian merumuskan ulang posisi seni di dalamnya.

Era pascakolonial menyeret negara-negara Asia ke dalam situasi yang serba bertentangan. Di satu pihak, mereka harus melepaskan ketergantungannya pada dunia Barat dan mendayagunakan kekayaan budaya sendiri guna mengembangkan negerinya. Di pihak lain, pada saat yang sama mereka harus terlibat dalam jaringan-jaringan interaksi global, yang seringkali berarti mengambil kembali Barat sebagai orientasi dan model dasar, serta berani memerkarakan terus-menerus hakikat tradisi dan budaya mereka sendiri pula (risiko sikap rasional modern).

Masalahnya, sejak pasca-Perang Dunia, kiprah dunia Barat yang mengglobal itu telah sedemikian dikuasai oleh kepentingan dan kekuasaan politik-ekonomi, hingga isu “kebudayaan” sendiri kehilangan nilai-nilai intrinsiknya. Bila budaya adalah ranah tempat nilai-nilai luhur diejawantahkan, simbol diciptakan, dan makna dirajut, dunia Barat sepertinya tak terlampau percaya lagi bahwa wilayah budaya itu sungguh penting dan menentukan. Budaya kini diserap oleh wacana politik dan kepentingan ekonomi.

Untuk negeri-negeri Asia persoalannya jadi lebih tumpang tindih. Di satu pihak, secara politis dan ekonomis mereka harus mengelola otonomi dan menjaga integritasnya; di pihak lain, dalam rangka budaya mereka harus mengejar modernitas dengan cara mengadopsi etos dan patos budaya Barat.

Alhasil, secara politis tindakan dan idealisme dikemas berdasarkan unsur agama, kolektivitas, dan tradisi bangsa. Strategi ekonomi pun membudidayakan kekayaan tradisi lokal. Namun secara budaya, etos yang digunakan dan dikembangkan adalah justru etos modern yang meyakini bahwa otoritas terakhir dalam masyarakat bukanlah tradisi maupun agama, melainkan individu, yakni individu yang reflektif dan berani meragukan apa pun juga.

Sementara itu, patosnya (gairah dasarnya) adalah pencapaian ideal modern yang percaya bahwa individu yang matang adalah yang mampu mengartikulasikan aspirasinya dan membentuk kehidupannya sendiri. Masalahnya, ketika Asia sibuk menempa individu-individunya menjadi subjek yang kuat ala Barat, di dunia Barat sendiri wacana dan perhatiannya telah bergeser ke sisi ekstrem lainnya lagi dengan berbagai teori macam “hilangnya subjek manusia” (Foucault), “matinya sang pengarang” (Barthes), dan seterusnya.

Tendensi posstrukturalis ini memang berhasil memperlihatkan bahwa kesadaran manusia individu maupun makna-makna budaya sesungguhnya hanyalah bentukan struktur-struktur belaka, dan dengan itu keutamaan subjek individu justru direlatifkan.

Situasi ini bertambah pelik dengan kenyataan bahwa di banyak negara Asia istilah “tradisi” atau pun “warisan budaya-bangsa” kerap berkonotasi negatif dan merupakan slogan politik yang isinya tidak jelas. Di beberapa negara, istilah “identitas budaya” dan “tradisi” terlalu kerap dimanipulasi untuk mengelak dari tuntutan internasional. “Harmoni” digunakan sekadar sebagai siasat untuk melindungi status quo. “Pluralisme” dan “heterogenitas” disalahgunakan justru untuk memaksakan kesatuan yang artifisial.

Kendati banyak upaya ke arah pembebasan potensi individu, dalam kenyataannya kekuatan individu selalu dipereteli dan akhirnya terperangkap dalam simpang siur berbagai kekuatan dan dorongan yang kabur. Akibatnya, struktur pandangan tentang diri juga menjadi fragmentaris pecah centang perenang. Individu terlihat hidup dalam berbagai bentuk (polimorf) yang tak koheren, mentah, dan tak konsisten.

Lebih buruk lagi, orang kini makin sadar bahwa sistem nilai adalah bangunan yang relatif, rapuh, mudah berubah, dan teramat dipengaruhi kepentingan kekuasaan. Manusia menjadi asing bahkan di negerinya sendiri. Kategori-kategori besar yang awalnya membuat hidup ini dimengerti kini tampak meragukan dan selalu bisa dicurigai, dipertanyakan dan digugat.

Dalam wilayah praksis, Asia sepertinya terjangkit hilangnya kohesi dan koherensi. Orang bahkan meragukan dan mencurigai wacana tentang “nilai-nilai Asia” atau dikotomi “Barat-Timur”, misalnya. Bukan saja prinsip-prinsip tradisional menghilang, melainkan wacana-wacana normatif pun kabur, terutama akibat meriapnya gerakan-gerakan mikropolitik di mana-mana. Dan tendensi penggunaan teror akhirnya melahirkan iklim serba ketakutan, pemastian-pemastian yang saling bertabrakan, kecurigaan, ketidakmampuan toleransi, dan ujungnya, serba kekerasan.

Dengan demikian hubungan dalam masyarakat diwarnai paranoia, pengerasan identitas, pengetatan batas-batas, xenophobia, genosida, dan penguatan kontrol sistematik atas individu. Demikian kreativitas dan otonomi individu di Asia senantiasa terancam oleh tradisi, agama, dan politik, atau ditelan oleh mesin komoditas kapitalis. Individu, kendati sekilas tampak bebas dan menikmati kehidupan urban modern, sebenarnya terperangkap dalam aneka struktur kekuasaan, terperangkap dalam persilangan berbagai jalur yang ramai menggoda dirinya untuk pergi ke segala arah.

Perubahan dunia-seni

Pada akhir abad kedua puluh, seni visual telah mengalami perubahan besar, perubahan tanpa preseden dalam hal identitas, tabiat dan strukturnya, tetapi juga dalam anggapan dasar ihwal apa artinya kini menjadi “seniman”. Kategori “seni visual” kini mencakup wilayah yang sangat luas, yang dahulu bahkan tak terpikirkan: tubuh dalam seni performa, bahan yang tak tampak (gas), energi (telepati), projek-projek skala besar di tempat-tempat terpencil, instalasi di pusat kota, intervensi dalam lembaga-lembaga sosial-politik, karya-karya komputer dan elektronik, kartu pos, rekaman, video, dan seterusnya.

Dampak dari gelagat “dematerialisasi” seni ini paradoks. Di satu pihak, praktik-praktik metodologis dan teoretis sejarah seni diragukan dan diselidiki. Di pihak lain, strategi-strategi teoretis seniman justru menjadi sepenting karya seni mereka, terutama bila karya itu begitu tak konvensional dan “immaterial”. Di satu pihak, seni kian melebur dengan aktivitas sehari-hari, dan pretensi filosofisnya ditelanjangi; di pihak lain seni bahkan menjadi semakin konseptual dan filosofis. Memang ironis.

“Berakhirnya seni” adalah istilah yang menunjukkan perubahan paradigma seni macam itu dalam empat dekade terakhir. Tentu saja ini adalah gema dari Duchamp dan Warhol, yakni di satu sisi Warhol meradikalkan pertanyaan Duchampian ihwal “apa itu seni?” dan dengan itu menyeret seni ke kesadaran filosofisnya. Di pihak lain, ia serentak melepaskan segala pretensi filsosofis dari seni hingga lantas seni bisa berbuat apa pun juga tanpa peduli dan menjadi pluralistik: praktik-praktiknya pragmatis, medannya multikultural.

Dari sisi posstrukturalis bahkan tak ada lagi yang bernama “seni” itu, yang ada adalah “representasi”, yang mesti dipahami dari sisi psikologis sebagai produksi tekstual. Sementara itu dari perspektif Marxis, seni konon telah ditelan oleh dominasi “imaji”, imaji visual, yang merupakan bentuk utama komoditas ekonomi.

Akibat dari ini semua, maka kini tak ada lagi paradigma utama yang kokoh dan kuat untuk praktik seni maupun kritik seni. Kabur pula patokan-patokan ukuran untuk menilai karya. Masalahnya, karya seni kini pun tidak lagi dibuat semata-mata untuk kepentingan kontemplasi, tetapi juga untuk sarana komunikasi, tindakan penentuan diri, atau bahkan sekadar merayakan proses aliran kehidupan yang tanpa henti.

Satu hal jelas, kini karya seni tak mesti merupakan produk artisan. Sekadar cara pandang yang unik cukuplah untuk mengubah sesuatu menjadi “karya seni”. Berbekal komputer, video, kamera foto, atau bahkan tubuhnya sendiri, sepertinya setiap orang bisa menjadi seniman.

Ukuran sukses suatu karya pun jadi mirip ukuran sukses sebuah band pop. Ukurannya bukanlah semac.am kanon historis tertentu, melainkan tingkat penyebarannya, rating-nya, posisinya dalam daftar anak-tangga macam Billboard dan sebagainya. Refleksi diganti penilaian statistik numerik, kata diganti dengan angka (jumlah pengunjung, jumlah pemuatan di media, angka neraca keuntungan, dan seterusnya).

Tradisi dan sejarah menjadi seperti tidak penting, museum dan galeri pun tidak sangat menentukan. Seni kontemporer memang merupakan gema lanjut dari avantgardisme dan pop-art, karenanya mengandung tabiat serupa produk pop. Seni lantas merayakan apa yang kontekstual, efemeral, bahkan banal saja. Kehidupan sehari-hari menjadi tempat bermain para seniman, sebab di sanalah makna dan nilai paling mudah disubversi, dan subjek diri dapat dirumuskan kembali.

Kini seni juga bersifat “transgressif”, kata Michel Foucault. Seni memerkarakan terusmenerus konsep tentang “batas”, otoritas, serta berbagai polaritas ( tinggi-rendah, privat-publik, murni-hibrid). Dalam peristilahan Deleuze, kini seni adalah berbagai bentuk “mikronarratif” yang bergerilia dalam jaringan-jaringan rizomatik, projek-projek kolektif yang menghidupi gagasan-gagasan dan hubungan-hubungan yang baru dan perlu.

Demikian, di abad dua puluh satu ini seni telah mengalami perluasan objek, pendalaman pengalaman apresiatif, dan pelebaran scope.

Peran seni di Asia

Telah kita lihat bahwa di negara-negara Asia umumnya interaksi politik-ekonomi global maupun masalah-masalah sosial-politik internal telah menciptakan lingkungan yang ditandai demikian banyak paradoks. Dalam lingkungan macam itu individu sesungguhnya rentan terkena gangguan emosional dan moral. Realitas kerap demikian ilusoris dan membingungkan. Untuk menyebut beberapa paradoks itu, misalnya, isu “desa-global” begitu santer, padahal dalam kenyataan demikian banyak wilayah mengalami disinformasi. “Ekonomi global” mungkin memang nyata, namun praktik purba “barter” pun tetap terjadi dalam berbagai bentuk barunya. “Pluralisme” dirayakan dengan meriah, padahal kenyataan tetap saja menunjukkan politik identitas yang fanatismenya tertutup, intoleran, dan keras. Demikian seterusnya.

Seni sebagai dialog kritis antara pengalaman, imajinasi, dan pikiran, akan sangat membantu menggali dan menampilkan berbagai kebingungan yang kerap tersembunyi ini, membukakannya bagi kesadaran umum secara efektif. Sensibilitas seniman terhadap pengalaman keretakan dan trauma akan memudahkan mereka menyelam ke balik permukaan, seringkali justru dengan memerkarakan dan bermain dengan permukaan itu. Ini tentu lantas menuntut para seniman sendiri untuk peka terhadap sisi ilusoris dan kompleksitas pengalaman.

Dalam sebuah dunia yang ditandai paradoks antara heterogenitas dan homogenitas, antara kenyinyiran naif ihwal warisan budaya dan antusiasme bodoh terhadap modernitas, atau antara kesintingan menegas-negaskan batas (pada kaum fundamentalis) dan keliaran tendensi menerabas batas (pada jaringan internet global), kalau masih ada sesuatu yang layak dirayakan, itu barangkali adalah survival individu dan perumusan kembali “identitas”.

Namun, dalam dunia macam ini “identitas” adalah projek ambigu. Dalam peristilahan Deleuze, ini adalah politik mikro yang memanfaatkan jangkauan global dan berupaya mengorelasikan lingkungan makro (ranah “molar”) dengan ekologi mental subjektif mikro ( ranah `”molekular”). Identitas, pendeknya, adalah sesuatu yang mesti dipahami dalam dinamika hubungan dengan yang lain, suatu aliran dengan perubahan-perubahan nilainya, suatu konsep yang ditentukan oleh jaringan.

Seni dapat membantu mengidentifikasi perubahan persepsi tentang identitas itu, menunjukkan letak subjek menyembunyikan dirinya dan mencari perlindungan. Dan ketika kata “identitas” ditekan-tekankan sebagai batas, seni justru dapat memperlihatkan ironi terselubung di baliknya. Biasanya kecenderungan ekstrem macam itu hanyalah menyembunyikan kemarahan yang tak berdaya atau ketakberdayaan yang marah.

Namun dalam sisi yang lebih produktif, seniman dapat merintis ruang-ruang alternatif yang memperkenalkan permainan kekuasaan baru, menyalurkan aspirasi-aspirasi, dan membentuk rasa kedirian baru. Kalaupun benar dunia seni yang eksklusif sedang memudar, hubungan esensialnya dengan seluruh kehidupan sebenarnya justru menjadi lebih bersinar.***

* Bambang Sugiharto, Guru besar filsafat, mengajar di Unpar dan ITB. E-mail: ignatiussugiharto@yahoo.com
Sumber: http://cabiklunik.blogspot.com/2007/12/asian-international-art-exhibition-xxii.html