Gola Gong, Jangan Ditiru!

Makmur Dimila *
blog.harian-aceh.com

Ketika berusia 41 tahun, Gola Gong yang mulai bertangan satu sejak berusia 10 tahun menulis autobiografinya. Ia merasa setengah hati menulisnya, namun hati lelaki bernama asli Heri Hendrayana H itu berteriak terus.

Tangan kanannya tak kuasa menahan gejolak jiwa. Kelima jarinya tak mau diam. “Aku ingin dibaca! Aku ingin dibaca!” Begitu batinnya saat itu, mengenang sebuah nama idamannya: Multatuli, nama pena dari Eduard Douwes Dekker, pengarang novel hebat Max Havelaar. Di mana di pengantar novel itu, Multatuli menggoreskan kata sakti, “Ya, aku bakal dibaca!”. Continue reading “Gola Gong, Jangan Ditiru!”

Karya dan Inspirasi

Thayeb Loh Angen
blog.harian-aceh.com

Deraan bencana buatan manusia (perang) dan bencana alam (hantaman laut) telah menjadi isi karya seni di Aceh. Percintaan pun mendominasi hasil karya-karya tersebut, tapi yang paling mendominasi adalah “gun and rose” (senjata dan bunga ‘gadis’).

Lahirnya novel-novel dan cerpen serta puisi bertema perang adalah sebuah contoh bahwa perang telah menjadi luka yang tidak terobati di Aceh. Tidak seorang pun bisa mengobati ini selain yang terluka memaafkannya. Continue reading “Karya dan Inspirasi”

PERNYATAAN SIKAP FORUM PEDULI BUDAYA ALAM MINANGKABAU (F-PBAM)

Setelah membaca dan mencermati laporan pertunjukan Teater Sakata di Harian Jogja, Senin, 4 Mei 2009, halaman 12 berjudul “Pentas 3 Perempuan: Angkat Konflik Perempuan di Rumah Gadang” ide dan sutradara Tya Setiawaty, Sabtu, 2 Mei 2009, bertempat di Studio Teater Garasi Yogyakarta, kami menemukan kejanggalan yang sangat fatal dalam paragraf pertama laporan tersebut, yakni pada kalimat: Apalagi, adat Minangkabau yang memperbolehkan perkawinan poliandri, satu perempuan menikah dengan banyak laki-laki. (dokumentasi terlampir) Continue reading “PERNYATAAN SIKAP FORUM PEDULI BUDAYA ALAM MINANGKABAU (F-PBAM)”

Sastra Hindia Belanda: Catatan Sebuah Surga yang Hilang

Seno Joko Suyono, Adi Prasetyo, Dina Jerphanion
http://majalah.tempointeraktif.com/

Bau harum daun teh tanah Priangan masih terasa menyegarkan di hidung Hella Hesse. Rasa dan bau itu seolah terpancar dari novel Heren Van de Thee karya Hella Hesse, yang diluncurkan tahun lalu. Novel yang memilih seting perkebunan teh di Bandung itu mengisahkan seorang juragan Belanda yang makamnya digunakan sebagai lokasi tirakatan oleh rakyat setempat. Dalam waktu setahun roman itu menjadi best-seller. Continue reading “Sastra Hindia Belanda: Catatan Sebuah Surga yang Hilang”

Salam “novelia” dari Sigli

Musmarwan Abdullah
blog.harian-aceh.com

“Saya sedang dalam rangka pemetaan wilayah pedalaman Pidie untuk setting novel yang tengah saya garap. Abang bisa bantu saya, tak?” demikian bunyi SMS dari Arafat Nur di Lhokseumawe pada Medio 2007 lalu.

Seminggu kemudian Arafat tiba di Pasi Lhok, Kembang Tanjong, Pidie. Ini gampong tempat lahir Ayah Daod (Muhammad Daud Paneuk), tokoh GAM generasi perintis. Di sini, setengah hari Arafat mengamati, mencatat dan berdialog dengan beberapa warga setempat. Continue reading “Salam “novelia” dari Sigli”

Bahasa ยป