Agar Sejarah Tak Kering

Philipus Parera
http://majalah.tempointeraktif.com/

“Sejak aku sadar akan hal itu, entah sejak kapan, tidak segera, dan secara samasekali tak disengaja, aku pun tak pernah lagi merayakan hari ulang tahunku. Di hari-hari seperti itu kuteringat ayah. Ingatkah, ayah, bahwa esok hari setelah ayah ditangkap, hari itu adalah kelahiran putri sulungmu?”

KUTIPAN di atas adalah bagian dari cerita Ibarruri Putri Alam, putri sulung Ketua CC Partai Komunis Indonesia, D.N. Aidit. Monolog itu ia tuangkan dalam manuskrip berjudul Anak Sulung DN Aidit. Autobiografi sepanjang 242 halaman kuarto itu kabarnya akan segera diterbitkan dalam bentuk buku oleh Hasta Mitra, Jakarta. Continue reading “Agar Sejarah Tak Kering”

Hasrat Sitor Terpenuhi di Bali

Nuryana Asmaudi
balipost.co.id

Sastrawan Angkatan 45 Sitor Situmorang secara tak terduga Selasa (2/12) lalu tampil di hadapan publik sastra di Denpasar. Ia tampil membacakan sajak, berdialog, dan beramah-tamah dengan kalangan muda di Gallery Seputih milik Made Wianta di Jl. Pandu Tanjung Bungkak, Denpasar.

SASTRAWAN yang sudah lama menetap di Paris tersebut hadir di Bali bersama istrinya — Debora. Kedatangannya ke Bali itu kemudian dimanfaatkan untuk mengadakan pertemuan dengan para seniman serta peminat sastra di Bali. Penampilan Sitor di Gallery Seputih itu terbukti memang mendapat sambutan hangat dari berbagai kalangan seni di Bali. Continue reading “Hasrat Sitor Terpenuhi di Bali”

Era Baru Penghormatan terhadap Puisi

Fuska Sani Evani
suarapembaruan.com

Kelompok musik Pardiman Djojonegoro yang juga meresepsi puisi ke dalam pitutur Jawa pada rangkaian acara sajian Divisi Sastra FKy-XIX 2007 Sabtu (25/8) di sebuah restoran di depan Stasiun Tugu Yogyakarta.

Romo Sindhunata SJ, tampak manggut-manggut. Kadang menekuk siku, kadang geleng-geleng. “Asyik juga ya, gak kalah sama dangdut, bisa juga buat goyang,” katanya. Continue reading “Era Baru Penghormatan terhadap Puisi”

RADIO BUDAYA VS BUDAYA RADIO

Dian Sukarno *

Pada kurun waktu 70 hingga 80-an sangat akrab di telinga pendengar dan pecinta siaran radio, sebuah acara bertajuk pemilihan Bintang Radio dan Televisi Nasional atau BRTV yang dihelat oleh RRI sebagai radio pemerintah dan TVRI. Barangkali kalau dikaitkan masa sekarang adalah ajang pemilihan bakat lewat serangkaian audisi. Acara itu tak pelak menjadi sorotan nasional, karena khusus memilih jawara di bidang musik keroncong dan seriosa. Nama-nama pelantun keroncong yang sangat disegani pun terlahir dari ajang tersebut, salah satunya Sundari Sukoco. Wanita asal Jawa Timur ini hingga saat sekarang masih menyandang gelar sebagai Ratu Keroncong. Continue reading “RADIO BUDAYA VS BUDAYA RADIO”

Merandai Kata, Musik, dan Rupa

Kurie Suditomo
majalah.tempointeraktif.com

KOPER tua itu ditemukan di kamar ayahnya yang baru wafat. Di dalamnya ada selembar pasfoto. Kecil, buram, hanya menampakkan raut wajah perempuan muda, tapi kuyu. Ia kemudian memaksa membangun kontak dengan sepasang mata yang tampak di wajah itu. “Mata itu, mata Solo. Mata nenekku,” kata penyair Belanda Reggie Baay. Ada selembar surat di koper itu, yang mengutip nama sang nenek, singkat: Muinah, asal Solo-Jengkilung. Continue reading “Merandai Kata, Musik, dan Rupa”

Bahasa ยป