“Pembisik” Republika

Pamusuk Eneste
http://www.kr.co.id

BAGI PENULIS cerpen di Tanah Air, boleh dikatakan tak ada masalah dengan media cetak tempat memuatkan cerpen. Hampir setiap koran memuat cerpen pada edisi Minggunya. Koran-koran Jakarta yang memuat cerpen, antara lain, Kompas, Suara Pembaruan, Republika, Koran Tempo, Media Indonesia, Sinar Harapan, bahkan Warta Kota. Di luar Jakarta pun masih ada Pikiran Rakyat (Bandung), Suara Merdeka (Semarang), Kedaulatan Rakyat, Minggu Pagi (Yogyakarta), Bali Post (Denpasar), untuk menyebut beberapa nama media cetak. Jadi, begitu banyak pilihan! Persoalan tinggal pada si cerpenis: layak muat atau tidak karyanya. Tentu setiap media cetak memiliki kriteria tersendiri dalam menyeleksi cerpen yang masuk. Continue reading ““Pembisik” Republika”

Era Gagap Sastra bagi Akademisi

TANGGAPAN TULISAN ABDUL WACHID BS
Anton Suparyanto
http://www.kr.co.id/

DERASNYA Industri penerbitan buku-buku sastra akhir-akhir ini menimbulkan satu gejala pemikiran negatif. Berhura-hura untuk menghantam pengarang melaju tanpa kritik dengan dalih kritikus sastra kita sudah mati (?) justru telah berupaya membunuh iklim keutuhan berkesusastraan secara sehat. Ini menjadi pikiran kerdil, gagap untuk menyimak wawasan bersastra dengan cara ucap atau dengan media yang baru. Inikah gejala ewuh-aya bagi pengarang (sastra), pemerhati, ataupun pengamat sastra Indonesia yang paling mutakhir? Continue reading “Era Gagap Sastra bagi Akademisi”

Tantangan: Sayembara Sastra: Cerpen, puisi, novel, drama, kritik, skenario

Raudal Tanjung Banua *
kr.co.id

SELAIN maraknya ruang publikasi dan bergairahnya penerbitan buku-buku sastra, fenomena apalagi yang menarik dalam geliat sastra tanah air kini? Jawabnya mudah: lomba atau sayembara!

Ya, meski lomba penulisan satra sebenarnya bukan marak sekarang saja. Sudah tradisi, kata orang. Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (BMKN) tahun 50-an misalnya, biasa memberi penghargaan kepada karya sastra terbaik, seperti yang diterima Mochtar Lubis atas novelnya Jalan Tak Ada Ujung, atau Toha Mohtar atas novel Pulang. Majalah Horison juga memilih karya-karya terbaik yang pernah dimuat, misalnya, puisi “Wirid Menyambut Fajar” karya Ikranagara. Continue reading “Tantangan: Sayembara Sastra: Cerpen, puisi, novel, drama, kritik, skenario”

Kaisar yang Tidak Pernah Berkepala Besar

Santy Novaria
http://sosbud.kompasiana.com/

Saat itu, saya masih tergabung dalam Forum Lingkar Pena (FLP) Batam yang di komandoi mbak Nurul F. Huda. Siapa yang tidak kenal sosok Ibu yang ramah ini..??? Kalau anda ?predator? buku, pasti tau, setidaknya pernah mendengar namanya. Kami (FLP) kedatangan tamu Agung waktu itu. Ya, saya katakan Tamu Agung karena, mbak Nurul saja sampai terkaget – kaget melihatnya, menurut curhatannya sendiri. Continue reading “Kaisar yang Tidak Pernah Berkepala Besar”

Sisi Religiusitas Joni Ariadinata dalam Sastra

Azwar Nazir *
sosbud.kompasiana.com

Dalam sebuah acara pertemuan sastra di Jogjakarta pada tahun 2005, seorang laki-laki kurus agak tinggi hadir dengan pakaian sederhana, kaos oblong dan celana jeans dengan topi hitam yang agak lusuh bertengger di atas kepalanya. Perhatian saya tertuju pada laki-laki sederhana itu, kumis yang seperti tidak terurus tidak mengesankan dia sebagai laki-laki garang tapi seorang yang merakyat yang luar biasa. Diam-diam saya mendengar bisik-bisik beberapa kawan sesama penulis, ‘Mas Joni dah datang tuh!’, mendengar namanya saya teringat sebuah tulisan di Majalah Annida edisi ekslusif tentang proses kreatif lelaki pengarang itu. Continue reading “Sisi Religiusitas Joni Ariadinata dalam Sastra”

Bahasa ยป