Tujuh Dasawarsa Sapardi Djoko Damono

Herry Fitriadi
tempointeraktif.com

Sastrawan Sapardi Djoko Damono genap tujuh puluh tahun. Sebuah acara musikalisasi puisi digelar digelar di Gedung Teater Salihara Pasar Minggu, Jakarta Selatan Jumat (26/3) lalu . Selama hampir dua jam sejumlah seniman bergantian tampil di atas panggung. Mereka antara lain Happy Salma, Ninik L.karim, Sitok Srengenge, Jubing Kristianto, Umar Muslim, serta Paduan Suara Paragita Universitas Indonesia. Continue reading “Tujuh Dasawarsa Sapardi Djoko Damono”

Cita Rasa Baru Keroncong

Aguslia Hidayah
korantempo.com

Nyak Ina Raseuki dan kawan-kawan menafsirkan kembali keroncong dan mementaskannya di Salihara pekan lalu. “Pepaya, mangga, pisang, jambu// dibawa dari Pasar Minggu// di desa banyak penjualnya// di kota banyak pembelinya”

Lagu keroncong lawas itu mengantarkan sensasi lain. Sensasi yang bukan ala Mus Muyadi, Sundari Sukoco, atau Anastasia Astutie. “Sensasi keroncong yang lain” itulah yang disajikan oleh sebuah kelompok musik keroncong yang menamakan dirinya Kroncong Tenggara di Salihara pada Jumat dan Sabtu malam pekan lalu. Berbalut baju putih-putih bersetelan kain sarung, mereka memperkenalkan kolaborasi musik khazanah nusantara itu dengan ragam genre musik lainnya. Continue reading “Cita Rasa Baru Keroncong”

Sitok Perankan Sosok Hamangkubuwono VII

Benny Benke
suaramerdeka.com

SITOK Srengenge, penyair yang pernah ditempatkan namanya sebagai salah seorang Leader of Millennium dalam bidang sosial budaya dari majalah Asianweek (2000), dipercaya memerankan sosok Sri Sultan Hamangkubuwono VII.

Dalam film yang berangkat dari naskah dan penyutradaraan Hanung Bramantyo berjudul Sang Pencerah, Sitok bahkan diberi kebebasan untuk menginterpretasikan sosok Raja Jawa tersebut. “Tentu setelah melewati berbagai proses diskusi,” ujarnya. Continue reading “Sitok Perankan Sosok Hamangkubuwono VII”

Buku Yang Menghidupi

Adib Muttaqin Asfar
http://edisicetak.solopos.com/

Tahun 2007 telah menjadi tahun berharga bagi pemuda asal Kebonagung, Tasikmadu, Karanganyar ini. Lima tahun bekerja di Pabrik Gula Tasikmadu bukanlah waktu yang pendek. Namun masa lima tahun itu tidak mampu mengingkari kata hatinya yang ingin hidup total dalam dunia menulis.

Maka pada tahun tersebut, dia memutuskan keluar dari pekerjaannya. Keputusan pemuda bernama Andri Saptono itu tampaknya tidak sia-sia. Baginya jauh lebih nyaman bergabung dengan Himpunan Pengarang Karanganyar (HPK) dibandingkan terus menerus di dalam pabrik gula. Continue reading “Buku Yang Menghidupi”

“Tuk”, Menziarahi (Legenda) Sastra Jawa

Ardus M Sawega, Sonya Helen Sinombor
cetak.kompas.com

“Ana tangis layung-layung/Tangise wong wedi mati/Gedongana, kuncenana/Wong mati mangsa wurunga?”

Sepenggal Ketawang Soyung yang dilagukan dengan nada pilu di bagian awal pementasan lakon “Tuk” “sebuah repertoar berbahasa Jawa yang dipentaskan pada 26-28 Juni 2008 di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah, Solo” itu seakan mengentak setiap penghayat yang memahami filsafat yang terkandung di dalamnya. Continue reading ““Tuk”, Menziarahi (Legenda) Sastra Jawa”

Bahasa ยป