Indonesia Dimulai dari Minang

Yurnaldi
http://www.kompas.com/

Bahasa dan sastra Indonesia berutang pada kepandaian orang Minang di awal terbentuknya semangat kebangsaan. Tidak banyak orang melihat alasan mengapa kepandaian itu berawal dari putra-putri yang lahir dari Sumatera Barat.

Sastrawan dan ahli bahasa Remy Sylado mengatakan hal itu pada seminar “Menumbuhkembangkan Bakat dan Menulis Karya Sastra di Ranah Minang,” Sabtu (15/11) di Jakarta Convention Center. Continue reading “Indonesia Dimulai dari Minang”

Sapardi Djoko Damono, Karya Sastra tak Bisa Disensor

Eriyanti
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/

BERBINCANG dengan Sapardi Djoko Damono (69), seperti membuka kamus sastra yang terbuka. Kita tidak hanya akan banyak menemukan kata penting dari perjalanan sastra di Indonesia, tetapi juga bagaimana proses tumbuh dan berkembangnya. Berbincang dengannya, seperti juga sedang melacak jejak kreatif dari perjalanan karya yang bertebaran. Betapa tidak, pria ini memang mengayuh dua dunia sekaligus, baik sebagai sastrawan maupun akademisi. Sejak 1974, ia mengajar di Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Indonesia. Namun kini, ia telah pensiun. Ia pernah menjadi dekan dan juga menjadi guru besar di sana. Pada masa itu juga ia menjadi redaktur majalah Horison, Basis, dan Kalam. Continue reading “Sapardi Djoko Damono, Karya Sastra tak Bisa Disensor”

Putri Duyung yang Meronta *

Akmal Nasery Basral **
ruangbaca.com

Sejak Sabtu, 25 November 2000, beroperasi situs Ceritanet yang dibangun wartawan BBC Seksi Indonesia di London, Liston P. Siregar. Di sana terpampang tiga sajak Arya Gunawan, satu cerpen Liston (Daging Rendang di 36G), esai “Apa Pentingnya Politik Cina” oleh I. Wibowo, laporan Lenah Susianty, “Membawa Taiwan ke Peta Dunia”; dan cuplikan awal novel Dokter Zhivago karya Boris Pasternak yang diterjemahkan Trisno Sumardjo (Djambatan, 1960). Continue reading “Putri Duyung yang Meronta *”

Ungkapkan Rindu Melalui Doa, Puisi, dan Romantika

Muhammad Tazli
http://www.hariansumutpos.com/

Si Burung Merak kini telah kembali ke hutan. Ke alam yang lebih bebas baginya untuk terbang. Tinggallah bulu-bulu indahnya, bersama kita di sini. Sesuatu yang sulit untuk dilupakan maupun dihilangkan.

Kita akan merasa memiliki setelah sesuatu telah hilang. Ungkapan ini tampaknya boleh dipinjam untuk hal ini. Ialah WS Rendra. Para sastrawan sangat kehilangan dengan meninggalnya ?Bapak Teater Modern Indonesia? tersebut. Sebagai bentuk untuk menyampaikan hasrat rindu, sastrawan Medan menziarahi karya Rendra seraya memanjatkan doa untuk mengenangnya. Continue reading “Ungkapkan Rindu Melalui Doa, Puisi, dan Romantika”

Bahasa ยป