TEMU SASTRAWAN INDONESIA II di Pangkalpinang, Bangka Belitung

Budhi Setyawan
http://budhisetyawan.wordpress.com/

Pada tanggal 30 Juli s.d 2 Agustus 2009 diadakan acara Temu Sastrawan Indonesia II di kota Pangkalpinang, Provinsi Bangka Belitung. Pertemuan tersebut merupakan rangkaian dari pertemuan serupa setahun sebelumnya di Jambi. Tema TSI II adalah Sastra Indonesia Pascakolonial; dengan beberapa subtema: (1) Merumuskan Kembali Sastra Indonesia: Definisi, Sejarah, Identitas; (2) Kritik Sastra Indonesia Pascakolonial; (3) Membaca Teks dan Gerakan Sastra Mutakhir: Mencari Subyek Pascakolonial; (4) Penerjemahan Sastra: Keharusan, Pilihan, atau Sekadar Perkenalan? Continue reading “TEMU SASTRAWAN INDONESIA II di Pangkalpinang, Bangka Belitung”

Buku Sastra Etnis Hanya Bermodal Cinta

Eriyanti Nurmala Dewi, Vebertina Manihuruk
http://pr.qiandra.net.id/

PROFESIONALITAS ternyata masih jauh dari perkembangan kesusastraan daerah. Buku-buku dalam bahasa ibu atau bahasa etnis, ternyata masih diproduksi sebagai kegiatan rumahan. Para penulis sastra etnis pun melaksanakan kegiatannya lebih karena alasan cinta.

Hasil karya sastra berbahasa etnis memang banyak mengalami kondisi rumit dan terseok-seok. Sementara bahasa ibu semakin jarang digunakan sehingga belum tentu bukunya diminati khalayak luas. Penerbit pun seperti ogah-ogahan karena penerbitan itu jauh dari unsur laba. Continue reading “Buku Sastra Etnis Hanya Bermodal Cinta”

9 Pertanyaan untuk Zara Zettira ZR: Menulis adalah Kebutuhan

Grathia Pitaloka
jurnalnasional.com

SATU dekade menghilang dari dunia kepenulisan di Tanah Air, kini Zara Zettira ZR kembali hadir bagi para pembacanya. Roda waktu yang berputar selama 10 tahun tak mampu menggerus pesona ibu dua anak ini. Zara masih seperti dulu: cantik, langsing, dan penuh kelembutan.

Zara yang sore itu terlihat anggun dibalut kebaya putih bertutur bahwa dirinya tidak absen 100 persen dari dunia kepenulisan. Waktu satu dekade itu ia habiskan untuk membuat karya dalam bentuk skenario. Continue reading “9 Pertanyaan untuk Zara Zettira ZR: Menulis adalah Kebutuhan”

Visi Kebudayaan Capres

Indra Tranggono *
kr.co.id

MESKIPUN sering mengaku menjunjung tinggi kebudayaan, bangsa kita belum menjadikan kebudayaan sebagai basis pembangunan. Pendekatan yang dipakai cenderung parsial: politik dan ekonomi yang kurang mempertimbangkan asas demokrasi, keadilan dan pemerataan.

Politik menjadi primadona pada era kekuasaan Orde Lama Soekarno. Atas nama “revolusi belum selesai” dan character building, Soekarno menggunakan politik sebagai panglima. Continue reading “Visi Kebudayaan Capres”

Langkah Sastra Banyumas

Sigit Emwe*
http://www.kr.co.id/

Tulisan ini adalah kegelisahanku dalam merindukan kekasih kerinduan untuk bercengkerama membicarakan kegetiran jiwa yang membuat ku tercabik dan berdarah aku mencoba menuangkan kegelisahan ini pada kanvas batinmu yang menganggapku sebagai kekasih semoga kegelisahan ini menumbuhkan rindu di hatimu agar kau-aku selalu terkenang oleh waktu (Diambil dari coretan harian dari seorang suami kepada istrinya) *** Continue reading “Langkah Sastra Banyumas”

Bahasa ยป