Ke Teluk Bayur, Tanah Minang Membujur

Bernando J. Sujibto

Bagi yang terikat
Merpati pasti lebih jinak

Memang bukan hanya sekedar ketepatan, ataupun ketidaksengajaan yang sia-sia belaka, jika akhirnya saya dan beberapa teman (Ira, Sukma, Imam, Roman, Lanceng, Joko, Yoso, Thendra, dan Koto) bisa bertandang ke tanah Minangkabau, khususnya di daerah Pesisir Barat pulau Sumatera, tempat Raudal TB, Indrian Koto, dan Riki Dhamparan Putra lahir. Jauh sebelum hari itu, tanggal 27-29 April 2008, hari penting dalam peta perjalanan hidup ini, saya sudah begitu terbius-kagum kepada tanah kelahiran si ‘mitos’ Siti Nurbaya. Di sana pula telah saya tahu, meskipun mungkin telat, HAMKA, Marah Rusli, Hanafi, Sutan Takdir Alisjahbana, dan Abdul Muis, dengan jalannya sendiri yang telah ditempuh untuk suatu yang sangat berharga demi martabat bangsa dan negara ini. Continue reading “Ke Teluk Bayur, Tanah Minang Membujur”

Menulis Puisi Itu Sangat Mahal

Koran Tempo, 27 Januari 2008

Acep Zamzam Noor pantas berbahagia. Penyair kelahiran Tasikmalaya, Jawa Barat, ini dinobatkan sebagai peraih Khatulistiwa Literary Award 2007 untuk kategori puisi pada 18 Januari lalu. Acep meraih penghargaan itu melalui buku kumpulan puisi Menjadi Penyair Lagi (2007).

Ini penghargaan kedua dalam karier kepenyairan lelaki yang bulan depan berusia 48 tahun ini. Pada 2005 penyair yang tumbuh di lingkungan pesantren di kota kelahirannya ini menerima South East Asian Write Award dari Kerajaan Thailand. Continue reading “Menulis Puisi Itu Sangat Mahal”

PENOLAKAN SAUT SITUMORANG ATAS KHATULISTIWA LITERARY AWARD

During times of universal deceit,
telling the truth becomes a revolutionary act

-George Orwell

Menanggapi beredarnya Long-list Khatulistiwa Literary Award (KLA) 2008 yang memasukkan buku saya “otobiografi” ([sic] Yogyakarta, November 2007) sebagai salah satu 10 besar kategori Puisi, dengan ini saya nyatakan menolak pengikutsertaan buku saya tersebut. Adapun alasan saya adalah sebagai berikut : Continue reading “PENOLAKAN SAUT SITUMORANG ATAS KHATULISTIWA LITERARY AWARD”

Romo Mangun dalam Kacamata Saya yang Tebal

Bernando J. Sujibto

SASTRA humanistik yang berakar kepada konteks kehidupan akar rumput, sebuah upaya berkesenian yang kembali kepada fitrahnya (baca: littérature engagée), meminjam istilah Jean-Paul Sartre (Paris, 21 Juni 1905 – id. 15 April 1980), sastrawan eksistensialis Prancis, akan dengan mudah ditemukan dalam diri sosok sastrawan-novelis Y.B. Mangunwijaya. Continue reading “Romo Mangun dalam Kacamata Saya yang Tebal”

MENGUAK TABIR PUJANGGA RABINDRANATH TAGORE KE TANAH JAWA*

Saya persembahkan kepada Rabindranath Tagore, buyut Kasipah dan tanah Jawa
Nurel Javissyarqi**
http://pustakapujangga.com/?p=66

Prolog:
Di usianya yang ke 69 Bagus Burhan (nama kecil R. Ng. Ronggowarsito, 1802-1873), pujangga India Rabindranath Tagore dilahirkan dunia. Tepatnya di Joransko, jantung kota Kalkutta pada tanggal 6 Mei 1861. Sebagai putra keempat belas dari lima belas bersaudara, atas pasangan Maharishi Debendranath Tagore dan Sarada Devi. Atau 6 tahun setelah wafatnya Pangeran Diponegoro (1785-1855). Kakek buyut Rabindranath Tagore ialah penggerak Renaissans India, yang bernama Rommohan Roy. Continue reading “MENGUAK TABIR PUJANGGA RABINDRANATH TAGORE KE TANAH JAWA*”