Romo Mangun dalam Kacamata Saya yang Tebal

Bernando J. Sujibto

SASTRA humanistik yang berakar kepada konteks kehidupan akar rumput, sebuah upaya berkesenian yang kembali kepada fitrahnya (baca: littérature engagée), meminjam istilah Jean-Paul Sartre (Paris, 21 Juni 1905 – id. 15 April 1980), sastrawan eksistensialis Prancis, akan dengan mudah ditemukan dalam diri sosok sastrawan-novelis Y.B. Mangunwijaya. Continue reading “Romo Mangun dalam Kacamata Saya yang Tebal”

MENGUAK TABIR PUJANGGA RABINDRANATH TAGORE KE TANAH JAWA*

Saya persembahkan kepada Rabindranath Tagore, buyut Kasipah dan tanah Jawa
Nurel Javissyarqi**
http://pustakapujangga.com/?p=66

Prolog:
Di usianya yang ke 69 Bagus Burhan (nama kecil R. Ng. Ronggowarsito, 1802-1873), pujangga India Rabindranath Tagore dilahirkan dunia. Tepatnya di Joransko, jantung kota Kalkutta pada tanggal 6 Mei 1861. Sebagai putra keempat belas dari lima belas bersaudara, atas pasangan Maharishi Debendranath Tagore dan Sarada Devi. Atau 6 tahun setelah wafatnya Pangeran Diponegoro (1785-1855). Kakek buyut Rabindranath Tagore ialah penggerak Renaissans India, yang bernama Rommohan Roy. Continue reading “MENGUAK TABIR PUJANGGA RABINDRANATH TAGORE KE TANAH JAWA*”

PARA AMATIR YANG PEMBERANI (I – II)

Untuk Penulis Pemula Juga Diriku Sendiri
Nurel Javissyarqi*

(I)
Yang tampak di hadapan kita, bisa ditulis bercorak bobot termiliki. Realitas angan, kejadian sekitar pun pengandaian tak masuk akal, dapat dirumuskan sesuai nalar perasaan. Analisa pendek pula diberangkatkan, sebelum badai kelupaan, hantu keputusasaan.

Inilah kesederhanaan hidup. Semua boleh menulis, asal tak bertolak hati nurani. Kegunaan nalar kalbu dijalankan. Menulis juga bermakna membaca, mengkaji diri, menyimak gejolak emosi. Setidaknya tak menghantam lewat tangan, tetapi berani menulis kejujuran. Continue reading “PARA AMATIR YANG PEMBERANI (I – II)”

SELAMAT JALAN MAS SUR

Herry Lamongan

RPA Suryanto Sastroatmodjo dikenal sebagai pengarang sastra Jawa modern. Pernah mengasuh rubrik “Bokor Kencana” Harian Berita Nasional (Bernas), ialah rubrik tanya jawab tentang budaya Jawa. Penjaga gawang rubrik “Sampur Mataram” harian Kedaulatan Rakyat (KR) yang juga membahas masalah budaya Jawa. Dan mengetuai Paguyuban Macapat Selasa Kliwon di hotel Garuda Yogyakarta. Continue reading “SELAMAT JALAN MAS SUR”

Runtuhnya Kerajaan Daha atas cikal bakal Dinasti Majapahit

(menujum sedari tahun 1144 Saka, atas sepenggal Serat Pararaton Ken Arok, yang diguratkan Dokter J. Brandes, Mangkudimedja)
Nurel Javissyarqi*
http://pustakapujangga.com/?p=644

Saya dengar di Daha sebentar lagi diselenggarakan pesta? Seorang jangga muda bertanya pada resi. Ya, sang Prabu Dandanggendis akan menggelar hajatan. Beliau mengundang seluruh pandeta, resi dan pujangga dari pelosok negri jajahannya. Daha (Ndoho, kini sebuah wilayah kecil saja di kabupaten Kediri). Continue reading “Runtuhnya Kerajaan Daha atas cikal bakal Dinasti Majapahit”