Write for Writing atawa Work for Works!

Bernando J. Sujibto

(saya merasa bingung ketika hendak menuliskan catatan ini harus menggunakan judul bahasa Inggris. Apalagi bulan dan tahun ini adalah bulan dan tahun kebangkitan ke-Indonesia-an. Semua ini seperti menekan saya. Namun saya merasa bahasa Indonesia (tetap) kurang mumpuni. Saya tidak tahu kenapa demikian. Mungkin kalau terpaksa di-Indonesia-kan menjadi ‘menulislah untuk tulisan [itu sendiri]’…). Continue reading “Write for Writing atawa Work for Works!”

NASSER

31 Agus 2008, Jawa Pos
D. Zawawi Imron

Orang Indonesia yang berkunjung ke Kairo, Mesir, konon dianggap belum sempurna kalau tidak makan burung dara goreng di tepian Sungai Nil. Bagi orang yang tidak suka burung dara seperti saya, memandang permukaan Sungai Nil yang berpendar-pendar oleh bayang-bayang lampu dari rumah-rumah dan jalan-jalan di seberang sungai pada malam hari, sudah merasa terhibur. Continue reading “NASSER”

BERKACA MENULIS DARI NUREL

Sutejo
Ponorogo Pos

Nama Nurel Javissyarqi memang belum seagung penulis Indonesia lainnya. Tetapi misteri perjalanan kepenulisan adalah etos nabi yang alir penuh jiwa berkorban, total, dan –nyaris—tanpa pamrih balas. Sebuah pemberontakkan pemikiran sering dilemparkan. Tradisi dibalikkan. Pilihan dilakukan, termasuk untuk memberikan pelajaran kepada orang tuanya. Penting dicatat, karena orang tuanya adalah guru konvensional yang terus alirkan kerapian, ketaatan, dan keberaturan lain. Continue reading “BERKACA MENULIS DARI NUREL”

Catatan Kaki dari Castro

Bernando J. Sujibto

”Jika Tuan Kennedy tidak senang sosialisme, kami juga tidak senang dengan imprealisme, dengan kapitalisme! (Fidel Castro, 1961)

Akhir-akhir ini saya tiba-tiba merindukan sosok macam Castro. Entah kenapa kerinduan kepada sosok yang satu ini begitu garang, terutama di tengah kondisi sosial-ekonomi bangsa dan negara kita yang semakin ’lancip’ ini. Saya selalu berpikir bagaimana kalau orang sekuat dan segigih dia dalam ’berjihad’ demi rakyatnya ada di Indonesia. Jelas ceritanya akan berbeda. Sosok macam dia yang rela menggadaikan darahnya demi masa depan negara dan bangsanya adalah suatu cita-cita yang ’tidak ada’ lagi di tanah air ini. Continue reading “Catatan Kaki dari Castro”

Ke Teluk Bayur, Tanah Minang Membujur

Bernando J. Sujibto

Bagi yang terikat
Merpati pasti lebih jinak

Memang bukan hanya sekedar ketepatan, ataupun ketidaksengajaan yang sia-sia belaka, jika akhirnya saya dan beberapa teman (Ira, Sukma, Imam, Roman, Lanceng, Joko, Yoso, Thendra, dan Koto) bisa bertandang ke tanah Minangkabau, khususnya di daerah Pesisir Barat pulau Sumatera, tempat Raudal TB, Indrian Koto, dan Riki Dhamparan Putra lahir. Jauh sebelum hari itu, tanggal 27-29 April 2008, hari penting dalam peta perjalanan hidup ini, saya sudah begitu terbius-kagum kepada tanah kelahiran si ‘mitos’ Siti Nurbaya. Di sana pula telah saya tahu, meskipun mungkin telat, HAMKA, Marah Rusli, Hanafi, Sutan Takdir Alisjahbana, dan Abdul Muis, dengan jalannya sendiri yang telah ditempuh untuk suatu yang sangat berharga demi martabat bangsa dan negara ini. Continue reading “Ke Teluk Bayur, Tanah Minang Membujur”