KESATRIA

D. Zawawi Imron
jawapos.com

Ada seorang Italia bernama Silvio Berlusconi. Ia cerdik pandai, salah seorang paling terkenal di negerinya. Ia juga politikus andal. Karena itu, ia terpilih sebagai perdana menteri. Ia bukan hanya peduli negeri dan rakyat Italia, tapi juga peduli kepada rakyat Afrika yang miskin. Untuk itu, ia menandatangani dokumen KTT G 8 di Gleneagles, Skotlandia, pada 2005, yang isinya ia berkomitmen akan membantu rakyat Afrika. Tapi Berlusconi agaknya ingkar janji, sampai KTT G 8 akan digelar lagi bantuan itu tak sepenuhnya terealisasikan. Continue reading “KESATRIA”

bahasa yang termenung

Hudan Hidayat

bahasa yang termenung – senja di pelabuhan kecil sering disebut orang, dunia puisi beda dengan dunia prosa. dalam puisi, sang penyair bertaruh pada bentuk. yakni sebuah ciptaan yang tak beralur dan tak berplot dalam tokoh tokoh pembentuk konflik (dan konflik konflik antar tokoh). mungkin, kini batasan seperti ini harus dan bisa kita terabas. seperti yang ditunjukkan dengan nyaris sempurna oleh penyair bergaya bebas rimbaud itu, yang puisinya telah saya tayangkan di jurnal sastra tuhan hudan – semusim di neraka. sebuah puisi yang, saya kira, telah mematahkan anggapan puisi tak beralur atau tak bertokoh dalam puisi. tak bersetting tempat dan waktu juga. Continue reading “bahasa yang termenung”

Bayang-Bayang Teror Setengah Matang

Sitok Srengenge
majalah.tempointeraktif.com

NGEH
Naskah dan sutradara: Putu Wijaya
Tempat: Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki 11-12 Oktober 1998

Menepis kata dan mengais citra. Itu strategi panggung Putu Wijaya yang terbaru. Sebuah forum kesenian dengan klaim internasional, ternyata, punya pengaruh langsung pada kreativitas seorang Putu Wijaya. Ketegangan antara hasrat menggarap tema aktual dan keinginan menawarkan pola yang universal rupanya telah mendesakkan inspirasi untuk menempuh sebuah keputusan: mengubah strategi pemanggungan. Continue reading “Bayang-Bayang Teror Setengah Matang”

Jangan Kau Tanya, di Mana Ayah Kita

Rihad Wiranto
http://jurnalnasional.com/

Puluhan, bahkan mungkin lebih dari seratus penonton di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki, Selasa Malam, 16/6, nampak hanyut, terbawa arus, melintas waktu kembali ke Tahun 1998, saat puluhan aktivis hilang diculik sekelompok “oknum” militer. Sebagian selamat dan kembali ke keluarganya, sebagian lagi hilang ditelan bumi, tak jelas, apakah masih hidup ataukah sudah kembali ke pangkuan Illahi. Continue reading “Jangan Kau Tanya, di Mana Ayah Kita”

Bahasa ยป