Dari Minder, Keblinger sampai Atos

Nurel Javissyarqi

(I) Bagian pertama ini pernah dikorankan secara dadakan sekali terbit dalam acara DKL 2007, berjudul Lamongan Menuju Kota Buku dan sedikit ditambahkan. Yang kering-kerontang terbakarlah, yang basah tetap melempem. Oya sebelum jauh maaf, kiranya siratan perbahasaan ini tak nikmat dikunyah, sebab guratan pena saya belumlah teruji media massa. Tapi diri ini tak khawatir, karena keyakinan kata-kata merupakan daya-dinaya yang sanggup menggempur kalimat teratur cepat dilupa. Continue reading “Dari Minder, Keblinger sampai Atos”

PERANG SASTRA DALAM DUNIA KONTEMPORER

; Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Sebuah Amunisi

Imamuddin SA

Dewasa ini peranserta komunitas dalam kesusastraan sangat mendominasi. Dapat dikatakan komunitas merupakan sentral dari sastra. Komunitas adalah nyawanya. Konotasi nyawa berorientasi pada penyambung hidup. Jadi kehidupan kesusastraan di negeri ini akibat adanya peranserta komunitas-komunitas yang ada. Continue reading “PERANG SASTRA DALAM DUNIA KONTEMPORER”

TEATER PAGUPON BERJAYA DI MALAYSIA

Maman S. Mahayana

Festival Seni Teater Melayu ASEAN (Festema) 2004 berlangsung 14-19 Juli 2004 di Universiti Kebangsaan Malaysia, Bangi, Selangor, Malaysia. Timbalan Menteri Kebudayaan, Kesenian dan Warisan Malaysia, Datuk Wong Kam Hoong yang mewakili YB Datuk Seri Utama, Dr. Rais Yatim, meresmikan acara yang diikuti enam grup teater, yaitu dari Malaysia (Kelab Teater Rimba, Universiti Kebangsaan Malaysia), dua dari Indonesia (Teater Pagupon Universitas Indonesia dan Sanggar Teater Selembayung, Universitas Lancang Kuning, Riau), Continue reading “TEATER PAGUPON BERJAYA DI MALAYSIA”

Aie Angek

D. Zawawi Imron *
jawapos.com

Di jalan menanjak antara Padangpanjang-Bukittinggi, Sumatra Barat, saya dan novelis Ahmad Tohari menjadi sastrawan tamu selama satu bulan di Rumah Puisi yang didirikan penyair Taufiq Ismail dan istrinya, Ati Ismail. Sampai hari ini saya telah sepuluh hari berada di antara Gunung Singgalang dan Gunung Merapi, tempat kabut dan hawa dingin menyelimuti kami setiap hari. Tempat kami selalu disapa desir daun-daun bambu, dan di depan sana ada petani-petani sayur yang tekun memakmurkan bumi. Continue reading “Aie Angek”

Bahasa ยป