Dari Minder, Keblinger sampai Atos

Nurel Javissyarqi*
http://media-sastrajatim.blogspot.com/

(I) Bagian pertama ini pernah dikorankan secara dadakan sekali terbit dalam acara DKL 2007, berjudul Lamongan Menuju Kota Buku dan sedikit ditambahkan. Yang kering-kerontang terbakarlah, yang basah tetap melempem. Oya sebelum jauh maaf, kiranya siratan perbahasaan ini tidak nikmat dikunyah, sebab guratan pena saya belumlah teruji media massa. Tapi diri ini tak hawatir, karena keyakinan kata-kata merupakan dinaya, yang sanggup menggempur kalimat teratur cepat dilupa.

Lamongan kelahiran saya, berpamorkan ikan bandeng dan ikan lele melingkari sebilah keris. Tahun 1993 saya meninggalkannya menuju kota Jombang, lantas pertengahan 1995 berhijrah ke Jogja, dan balik lagi ke Lamongan di tahun 2002. Entah bagaimana, saya lebih percaya diri jika di luar kota. Mungkin dikarena membawa beban identitas yang hilang (Sebelum kasus Amrozi dkk, kata Lamongan belumlah tampak di mata Nasional, apalagi Internasional. Entah ini berkah atau kutukan, atau sang penagih; sebab tak diberi ruang maksimal sejarah, semisal makam Sunan Drajad dalam arsip-arsip lama seringkali tertulis wilayah Gresik). Dan pernah berlaku, orang-orang kelahiran tanah mbah Lamong, malu menyebut lemah-lempung tubuhnya. Baru-baru ini saja pada berbondong di belakang nama menyorongkan identitas aslinya.

Mungkin sebab dalam sejarah, tanah kelahiran saya hanya kota kabupaten saja. Berbeda Kediri, Mojokerto atau lainnya, yang kehadirannya ditandai peristiwa besar. Dan mungkin pula Amrozi mengangkatnya, dengan wajah sangar berlebihan dari sebelumnya. Bagi yang belum pantaslah mensejarah, untuk yang telah biarkan tertimbun usia, sebagaimana Singosari menjadi kota kecil saja.

Kedatangan saya dari kembaraan tahun 2002, mencium aroma kesusastraan telah dikumandangkan deretan sastrawan yang bercokol di tlatah kelahiran saya. Dengan mengharumkan pendiskusian Candrakirana. Meski kadang yang datang sedikit tak terlaksana, itulah realitas maju-mundurnya komunitas (entah kini kemana kabar Kostela?, semoga tetap bergairah nyastra).

Ketika di kediaman, saya makin malas mengirimkan tulisan untuk dipublikasikan di koran (mungkin sebab sering ditolak), yang sewaktu di Jogja sempat bercokol di Kedaulatan Rakyat, Minggu Pagi, Solo Pos, Pos Kita, Bernas, Kuntum &ll. Keengganan itu bukan berarti tak lantas melupakan segala. Saya memulai membuat semacam penerbitan; buku-buku dengan cover samblonan, kertas dalamnya fotocopian. Yang hampir menghasilkan satu lusin judul buku, seribu eksemplar lebih saya lem (jilid) sendiri dan alhamdulillah sudah tersebar di beberapa kota, seperti Malang, Surabaya, Madura, Ponorogo, Jogjakarta, Bojonegoro, Lampung, Jakarta dan Lamongan sendiri (saya dengar-dengar sampai ke Makasar pula). Pada lembar pengesahannya tertuliskan; hak cipta dilindungi akal budhi, bukannya undang-undang. ISBNnya pun saya terjemahnya menjelma; Insyaallah diridhoi allah SuBhaNahu wataallah.

Sempat saya bangga hasil payah tersebut ketika dimuat berupa catatan kaki di buku Bermain dengan Cerpen (Gramedia, Juli 2006, karya Kritikus Sastra, dosen Ilmu Pengetahuan Budaya UI, Maman S Mahayana, di halaman 56). Penerbitan saya bertitel PUstaka puJAngga, satu sebutan hasil tapak tilas langkah pujangga R.Ng. Ronggowarsito kepada Kyai Ageng Muhammad Hasan Besyari di Ponorogo, dan kilas balik seringnya diri ini ke makam beliau di Klaten, tepatnya desa Palar. Niatan tapak tilas beliau, setelah mendapati buku karangan Anjar Any sewaktu nyantri di Magelang. PUstaka puJAngga bersingkatan PuJa, dikarenakan emosionalitas jiwa Jawa saya kepada tlatah India, bencah kelahiran pujangga Rabindranat Tagore yang pernah mengampuh sungkem di tanah Dwipa.

Ketika kerja tekun berkelanjutan, tentu kelamaan penerbitan saya meningkat tak sekadar fotokopian, lantas memberanikan diri dalam percetakan. Buku saya yang sempat dicetak berjudul; Trilogi Kesadaran (Kajian budaya semi, anatomi kesadaran &ras pemberontak). Kajian Budaya Semi, sebelumnya fotokopian, sempat di bedah di UNTAG Surabaya dan IAIN Yogyakarta). Ketika menjelma sebuhul buku Trilogi Kesadaran, kebetulan dibedah di lingkungan Universitas Indonesia (langkah tak ternyana sebelumnya).

Lantas menyusul menerbitkan karya-karya kawan, tentu bersistem kerjasama karena dalam hal ini bermodalkan nekat. Karya kawan-kawan yang tercetak, semisal Kantring Genjer-genjer (karya Teguh Winarsho AS, novelis Jogja yang mengikuti langkah saya membuat penerbitan; Lafal Indonesia, sebagaimana penerbitan MataKata Lampung, direkturnya penyair Y. Wibowo). Dilanjutkan mencetak Sastra Perkelaminan (karya Binhad Nurrohmat, penyair kelahiran Lampung), antologi puisi Ngaceng (karya Mashuri, kelahiran Lamongan yang di tahun 2006 memenangkan lomba cipta Novel diadakan DKJ), Amuk Tun Teja (kumpulan cerpen Marhalim Zaini, kelahiran Riau), novel Dunia Kecil; Panggung &Omong Kosong (karya A. Syauqi Sumbawi, kelahiran Jotosanur, Lamongan). Lalu Nabi Tanpa Wahyu (kumpulan esai Hudan Hidayat), Kitab Para Malaikat (karya saya sendiri), Antologi Sastra Lamongan; Gemuruh Ruh, dan Jurnal Kebudayaan The Sandour (edisi III, 2008, PuJa &FSL).

Di samping PUstaka puJAngga, di Lamongan terdapat penerbitan berISBN, seperti SastraNesia, PustakaIlalang, LaRoss. Jadi pantaslah jikalau kami memimpikan Lamongan kota budaya nantinya, sebagaimana Jogja yang telah jauh melampaui Malang, Surabaya, oleh dunia penerbitan, namun ini tidaklah bermakna jikalau tak rajin membaca realita. Di bawah ini keterangan lebih rinci buku-buku terbitan PuJa, karya saya; Sarang Ruh (puisi, manuskrip 1999, stensilan 2004), Balada-balada Takdir Terlalu Dini (cetakan 2001), Ujaran-ujaran Hidup Sang Pujangga (stensilan 2004), Segenggam Debu Di Langit (stensilan 2004), Sayap-sayap Sembrani (stensilan 2004), Kulya dalam Relung Filsafat (stensilan 2004), Kumpulan Cahaya Rasa Ardhana (stensilan 2005), Batas Pasir Nadi (stensilan 2005), Ada Puisi Di Jogja (stensilan 2005), Tabula Rasa Kumuda (stensilan 2006), Tubuh Jiwa Semangat (stensilan 2006), Trilogi Kesadaran (cetakan 2006), Kekuasaan Rindu Sayang (stensilan 2007), Kitab Para Malaikat (cetakan 2007).

Dan buku-buku karya kawan, majalah serta jurnal-jurnal terbitan PuJa; Serasi Denyutan Puri (cetakan biasa), Wanita Kencing di Semak (cetakan biasa), Esensi Bayang-bayang (stensilan), Sembah Rindu Sang Kekasih (stensilan), Kidung Sang Kekasih (stensilan), Kantring Genjer-genjer (cetakan), Herbarium (cetakan), Sastra Perkelaminan (cetakan), Amuk Tun Teja (cetakan), Ngaceng (cetakan), Dunia Kecil; Panggung &Omong Kosong (cetakan), Nabi Tanpa Wahyu (cetakan), Gemuruh Ruh (cetakan), Majalah Gerbang Massa (cetakan), Jurnal Sastra Timur Jauh I (stensilan), Jurnal Sastra Timur Jauh II (stensilan), Jurnal The Sandour I (cetakan biasa), Jurnal The sandour II (cetakan biasa), Jurnal The Sandour III (cetakan) &ll.

(II) Kelahiran Jurnal Kebudayaan The Sandour, tidak lepas keberadaan PuJa yang dirintis sejak tahun 2004 bulan agustus. Sedangkan Sandour (kata Sandour atau sandor, sebuah kesenian tradisional yang ada di Lamongan, jikalau di Gunung Kidul Jogja seperti Jatilan atau sejenis Kuda Lumping), dan Jurnal Kebudayaan The Sandour sendiri diawali pada tahun 2006. Dasar pencetusannya, disamping rasa syukur kepada-Nya karena dikaruniai kesanggupan merangkakkan dengkul PUstaka puJAngga, meski berupa buku-buku fotokopian, cover sablonan. Pula dikarena kegagalan berulang sebelumnya, lumpuhnya terbitan selanjutnya majalah Gerbang Massa, Jurnal Sastra Timur Jauh untuk menampung ledakan kreatifitas belia di Lamongan, Gersik dst.

Kehendak The Sandour tak lebih mengangkat karya-karya yang sulit masuk ke koran-koran sebagaimana karya saya. Yang mana dalam jurnal tersebut, tersejajarkan dengan kawan-kawan yang lebih dulu masuk media. Sebab keyakinan saya; tulisan yang tak dimuat media, bukan berarti tidak layak. Saya lihat kurang daripada selera redaksi, atau menyedihkan lagi dikarena kedekatan emosi. Padahal setiap kata-kata yang matang memiliki ruh, untuk menafaskan kepada sesama. Maka bentuk kategorian yang tidak adil merupakan tindak aniaya. Apalagi jika yang didholomi sudah lama berproses, dengan mengangkat-tampilkan yang baru bergiat ria bersastra.

Usah ngedumel mari buktikan, kita juga memiliki daya. Yang sungguh-sungguh mendapati, yang bersenda ria tak banyak keringat lupakan saja. Sejarah tak lebih tumpukan naskah, teks-teks bernafas, maka tebarkan kalimat sanubani untuk dibaca mata masa depan. Jika mereka terbaik, kenapa kita tidak demikian? Ketika mereka mengajak bertukar dinaya, kenapa tak menyuhkan kadikjayaan? Dunia sebagai permainan, dan sebaik permainan ialah lihai melantunkan ujung pena sebagai mata baca dunia.

Berkali-kali saya kabarkan, di Lamongan tak banyak ditemui koran selain JP, maka informasi yang masuk dalam alam raya pemikiran seolah tak komplit. Usah gentar hal itu, apalagi pada tulisan yang dihasilkan dari pemotretan kurang fokus, tak suntuk dalam bidang dicitakannya. Padahal karya-karya mempuni, apalagi berupa buku, merupakan endapan pemikiran waktu lampau nan mendatang; membaca masa lalu sebagai pijakan, memandang masa nanti sebagai kejayaan pemikiran gilang-gemilang.

Mumpung berpena dan sebab tak rajin menulis buku harian seperti Fahrudin; tak dinyana kemarin, tanggal 10 juni 2008, saya diundang Universitas Paramadina untuk membacakan puisi dalam rangkaian acara pengekuhan guru besar bapak Abdul Hadi WM, bersama dedengkot sastrawan Ibukota. Undangan itu berita besar bagi saya, yang mana durung sanggup menjebol dinding media massa secara maksimal; maka sebelum mangkat dan ketika berangkat, merasa dek-dekan pula. Dan sepulang menaiki kereta api, saya banyak memetik kuncup-kuncup hikmah; ternyata dek-dekan saya tidak beralasan. Oleh terpenting ialah jiwa karya dari kesuntukan gemilang, bidang yang disanggupi terus tegak tak gentar, tiada keringat dindin bagi yang telah memeras asinnya perjuangan.

Saya bersyukur seolah Ibukota menerima diri ini sebagaimana di Jogya, padahal secara geografis, saya tinggal di Jawa Timur. Mungkin itulah jajaran genjang nasib; ketika ditolah di suatu tempat, maka kan diterima ditempat lain. Terasalah bagi yang genggam serutan (tali) takdir berketeguhan, bersanggup kuat mengayuh.

Kembali pada The Sandour. Karena keterbatasan jangkauan media massa ke daerah saya, diri ini memberanikan membuat media yang menampung karya-karya belum menerima nasib selayaknya. Dengan kaca mata cerdik saya tancapkan keyakinan; tak banyak warga yang suka membaca, apalagi sastra, maka ketika kita mencipta karya di daerah terpencil, barang tentu kitalah penghulunya.

Banyak ruang-ruang memungkinkan tumbuhnya jamur kuping kesusastraan, yang tak disentuh distributor-distributor buku. Kita bisa memasoknya, sebagaimana di pesantren-pesantren terpencil atau desa-desa yang banyak melahirkan anak yang minimnya jenjang pendidikan. Dalam percandaan saya waktu itu pada kawan-kawan; setelah Chairil Anwar tiada lagi penulis puisi selaian saya (hehe). Itu seolah dapat terjadi, ketika sanggup memasuki daerah-daerah terpencil dengan buku-buku karangan kita. Dengan mata jeli saya bilang; biarkan di atas meja mereka mendapati jatahnya, namun sejarah di bawah telapak meja, kita menguasainya. Mungkin itulah yang menginspirasikan Herry Lamongan dan Fahrudin Nasrulloh menyebut saya gerilyawan atau penulis pemberontak. Yang sebelumnya banyak kawan dekat menyangsikan gerak kesemangatan ini, yang seolah banteng telinganya tersumbat tanah. Setidaknya berkali-kali terbentur pastilah berdarah, dan muncratnya getih petanda benih kesadaran nyata.

Bagi saya, diolok-olok bodoh, keblinger, tak tahu aturan, serampangan &ll ialah jamu mujarab untuk tetap menjejakkan kaki di manapun berada. Yang mencibir kehabisan daya, sehingga tak banyak berkarya, yang terus melangkah semakin menggila berekspersi, sampai Maman S. Mahayana menyebut saya ?dewa mabuk.? Dalam penulisan ini, tentu saya berhati-hati karena kebanggaan bisa mematikan daya kreatif. Saya tak lebih dari kemarin, orang bodoh tak pernah dianggap ada, tak tenang tempat duduknya meski di bangku kesunyian, sungguh sakit bercampur legit keterasingan ini.

Aduh kok belok ke persoalan sendiri lagi, padahal membahas The Sandour yang saya pimpin. Mungkin itulah kaca benggala tak terpisah, oleh kerja berkesenian saya tak banyak meminta perhitungan pada kawan (khususnya dalam kesuntukan mengolah manajemen). Ini bukan berarti tak mau kompromi, tapi lebih didasari pemotretan saya pada lembaga-lembaga yang dibilang mapan, semisal pemerintahan. Saya fikir banyak membuang waktu untuk rapat &ll, sedangkan ketika bergerak sendiri, resikonya pun kecil; paling-paling dianggap bodoh seorang diri, atau bangkrut dibopong sendiri. Sementara ketika bekerja sama, jika terjadi kepahilitan, yang timbul gontok-gontokan, melempar kesalahan kemana-mana. Saya rasa cukup dua sayap; pertama keyakinan, kedua kesunguhan. Dan kawan-kawan terbaik ialah yang faham bagaimana kelepakan sayap itu begitu payah.

Itu tak kurang dari takdir saya menuju tlatah awal, menerima diri ini berhijriyah menimba keilmuan, yakni Jombang. Tepatnya di tahun 1993 saya yakinkan diri ke kota santri tersebut, sebelum menginjakkan kaki di tanah budaya (Yogyakarta). Semua serba saya perhitungkan dalam tingkatan terbesar. Di batok kepada saya waktu itu, Jombang itu kota terdekat dari kelahiran saya, yang banyak menghasilkan bibit unggul, semisal Gus Dur, almarhum Cak Nur serta Cak Nun, yang dimasa itu tengah berkibar Lautan Jilbab. Jadi seolah keharusan sebelum melangkah ke Jogja, saya kudu menimba linuwih di bencah atmosfir nadzliyin.

Mengeruk keilmuan bagi saya tak sekadar membaca buku, pun pula mengakrapi realita; lingkungan dan tanahnya, watak tradisi serta kebutuhan penduduknya. Bertolak dari itu bisa mengandai; kenapa orang-orang yang saya kagumi bisa hadir dari tlatah semacam itu? Dan pertanyaan-pertanyaan serupa. Bagi sebagian orang, belajar dari kekaguman itu kurang tepat, namun untuk diri saya; tergantung menarik benangnya yang tak sampai melupakan yang hendak diharap-harapkan.

Masa itu Jombang, penduduknya terus-terusan berseberangan dengan orang-orang pendatang. Atau kerap terjadi tawuran antar warga dan santri. Dari Jombang pula saya sempat mengenyam kanuragan. Sungguh banyak yang terperoleh darinya bagi saya, yang suka merenung memikirkan hutang di warung-warung kopi dekat pesantren, sambil berhayal ingin jadi orang besar (hehe).

Jombang waktu itu saya ibaratkan kota Madinah, Yogyakarta saya andaikan Paris, Surabaya saya kira Inggris, dan Jakarta saya umpamakan Amerika. Inilah salah satu bentuk hayalah saya, keterbatasan orang pribumi yang kesulitan biaya menyenyam pendidikan di luar negeri, namun bukan berarti capaian karya saya menyerupai lamunan; Saya tetap merasakan denyutan nadi tropis, tarikan nafas katulistiwa, kehujanan-kepanasan nusantara, terhinakan-terkucilkan hiruk pikuk pergaulan. Inilah realitas menjangkai impian, serupa jarak pandang manusia menghadap kehadirat tuhan, Wallahuaklam.

17 juni 2008,
*) pengelana dari desa Kendal-Kemlagi, Karanggeneng, Lamongan, JaTim.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *