Membayangkan Bedah Buku MMKI di PDS H.B. Jassin

Nurel Javissyarqi *

Saya tak menyangka kalau buku “Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia” bakal dibedah di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin. Jangan-jangan ini lamunan saja, karena kebetulan tengah baca ulang buku susunannya ‘Paus Sastra Indonesia’ yang bertitel “Kontroversi Al-Qur’an Berwajah Puisi,” Grafiti 1995, tentunya lagi berseberangan. Bayangan ini menjulur pada peristiwa lampau “Ketika Jogja Menghakimi Jakarta,” karena lupa tanggal bulan tahun kejadiannya, saya telusuri di google, dimulai Jam 20.00 tanggal 28 Mei 2003 di Auditorium IAIN SuKa (UIN Sunan Kalijaga) Yogyakarta. Continue reading “Membayangkan Bedah Buku MMKI di PDS H.B. Jassin”

SASTRA, SEBUAH TAMAN BUNGA

Ahmad Anshori *

“Urusan yang coba kutuntaskan, melalui kekuatan kata-kata, adalah membuatmu mendengar, membuatmu merasakan—dan yang utama adalah membuat matamu terbuka. Begitulah, tidak lebih.” – Joseph Conrad (1857-1924)

Pernyataan dari salah satu penulis terbaik Britania ini yang barangkali akan sedikit mewakili apa yang terjadi dalam diskusi budaya Selasatra #14 yang bertajuk “sastra dan realita sosial” pada Rabu (15/2/17) malam lalu di warung Boenga Ketjil, Parimono Jombang. Continue reading “SASTRA, SEBUAH TAMAN BUNGA”

SelaSastra: Teknik Menulis dan Kerancuan-Kerancuan Lainnya

Mansur Muhammad

“Saya menulis dan, memang harus menulis. Setiap hari. Soal isi, pikir nanti. Apalagi teknik.” seloroh Pak Cucuk SP selaku pembicara dalam acara SelaSAstra tadi malam. Acara sederhana yang cukup unik ini diselenggarakan di kedai Boenga Ketjil milik Pak Andhi. Ruang berdesain nyentrik ini membuat nyaman siapa saja yang hadir. Entah sekedar ngobrol atau diskusi –semi resmi, seperti yang terjadi tadi malam. Banyak kalangan penulis dan penikmat sastra dari berbagai komunitas hadir di sana. Continue reading “SelaSastra: Teknik Menulis dan Kerancuan-Kerancuan Lainnya”

Cincin untuk Langit: Puisi Eka Budianta untuk Tanah Kelahiran

Anita Dhewy
Jurnalperempuan.org 22/8/2015

Minggu (16/08) bertempat di Galeri Cemara 6, Jakarta, penyair Eka Budianta meluncurkan kumpulan puisinya yang berjudul Cincin untuk Langit. Kumpulan puisi yang dimaksudkan sebagai persembahan pribadi untuk ikut merayakan 70 tahun terbangunnya Republik Indonesia ini banyak bertutur tentang desa kelahirannya, Ngimbang, yang terletak di Lamongan, Jawa Timur. Continue reading “Cincin untuk Langit: Puisi Eka Budianta untuk Tanah Kelahiran”

Bahasa »