Antara Sastrawan dan Kritikus Sastra

Candra Adikara Irawan

“Jurnalisme Diam Sastra Bicara” (Seno Gumira Ajidarma)

Sehabis magrib, lampu padam. Ublik-ublik kecil menyala di atas meja-meja, membingkai lukisan-lukisan yang terpampang di dinding, hingga kami menikmati menunggu dengan saling bercakap di keremangan. Tak berapa lama, lampu menyala dan Mas Andhi Setyo Wibowo berkabar bahwa Pak Lik Rakhmat Giryadi sudah datang. Dimulailah, Selasastra #5 di Boenga Ketjil, membahas tentang kumpulan cerpen Pak Lik Giryadi yang berjudul “Mengenang Kota yang Hilang”. Continue reading “Antara Sastrawan dan Kritikus Sastra”

Surat Terbuka Timur Budi Raja untuk Koordinnator Umum TOT

Bapak Mukid, Koordinnator Umum TOT yang saya hormati…

Saya, Timur Budi Raja, mewakili teman-teman yang kemarin mengikuti pelatihan TOT (Training Of Trainer) yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Timur.

Program Disbudpar kemarin, menurut hemat saya, bila ukurannya adalah mendatangkan penulis dan guru di bidang terkait se-Jawa Timur, tentu bisa dikatakan sukses. Continue reading “Surat Terbuka Timur Budi Raja untuk Koordinnator Umum TOT”

Bersastra dari Rumah ke Rumah

J Anto

SEORANG Penyair, cerpenis juga novelis senior Sumut, Damiri Mahmud pernah merasakan kesunyian hati saat tak diajak ngopi. Saat itu ia masih berstatus penyair pemula. Sastrawan senior pada zamannya bisa dibilang angker. Pada 1970-an ia pernah bertandang ke harian Analisa, bertemu sejumlah sastrawan senior. Di tangga gedung, saat mau ngopi, mereka berlalu begitu saja. Tak ada yang menawari ikut. Tapi ia mengaku tak sakit hati. Continue reading “Bersastra dari Rumah ke Rumah”

Jejak Langkah Damiri Mahmud

badanbahasa.kemdikbud.go.id

Salah seorang sastrawan yang terkenal dari Sumatera Utara adalah Damiri Mahmud. Damiri adalah putra asli Sumatera Utara. Damiri lahir di Hamparan Perak, Deli Serdang, Sumatera Utara, tanggal 17 Januari 1945. Ia merupakan putra bungsu dari pasangan H. Mahmud Khatib dan Hj. Siti Rahmah. Pada usia 27 tahun, ia mengakhiri masa lajangnya dengan menikahi seorang gadis yang bernama Mariani (lahir tanggal 31 Desember 1949). Dari pernikahan itu, mereka dikaruniai enam orang anak, tetapi dua di antara anaknya telah meninggal dunia. Anaknya yang ada saat ini adalah Fahmi, Chairunnisa, Kurnia, dan Siti Hidayati. Dari anak-anaknya yang telah menikah, Damiri mendapat empat orang cucu. Continue reading “Jejak Langkah Damiri Mahmud”

Damiri Mahmud Tak Pernah Kehabisan Kata

Nevatuhella
Analisadaily 2 Agu 2014

Di usia 69 tahun, Damiri Mahmud masih cukup aktif menulis. Minggu, 4 Mei 2014 yang lalu, catatan budayanya muncul di Harian Analisa Medan. Sore harinya pada hari yang sama, dia memberi ceramah sastra di stasiun RRI Medan bersama sastrawan Medan, Sulaiman Sambas (sastrawan asal kota Tanjungbalai, Asahan, teman kecil Martin Alaida), Mihar Harahap (mantan dekan FKIP-UISU Medan), dan penyair Wirja Taufan. Continue reading “Damiri Mahmud Tak Pernah Kehabisan Kata”

Bahasa »