Tiga Fantasi

Goenawan Mohamad
http://www.tempointeraktif.com/

WAJAHNYA seorang bapak Yahudi yang kalem. Tapi sebenarnya ia penipu terbesar dalam sejarah modern?dan sekaligus aktor dalam kapitalisme Amerika sebagai dunia Harry Potter.

Dari luar, Madoff, menjelang 71 tahun, memang tampak dapat diandalkan. Ia suami yang tetap dalam hidup perkawinan sejak menikahi pacar masa remajanya; mereka punya dua putra yang baik. Ia mendirikan Madoff Family Foundation dan memberi dana buat pendidikan, riset kesehatan, rumah sakit, dan teater. Continue reading “Tiga Fantasi”

Nippon

Goenawan Mohamad
http://www.tempointeraktif.com/

Pendiriankoe sekarang tetaplah soedah,
Berdjoeang sampai sa’at jang achir,
BERSAMA NIPPON, madjoe melangkah,
KEBESARAN ASIA MESTILAH LAHIR?

— Hamka, “Diatas Roentoehan Malaka-Lama”, dalam Pandji Poestaka, No. 25, 1943 Continue reading “Nippon”

Bukan-Pasar

Goenawan Mohamad
http://www.tempointeraktif.com/

DI tiap pasar selalu ada yang bukan-pasar. Dan itu dibutuhkan. Ada pohon-pohon yang meneduhi kaki lima. Ada sumur di halaman belakang yang dipakai ramai-ramai. Ada peturasan untuk buang air siapa saja. Dan tak jauh dari sana, ada jalan raya dengan rambu-rambu lalu lintas.

Semua itu menopang kehidupan pasar itu, meskipun tak jadi bagian yang dikendalikan pasar dan kesibukannya: tak seorang pun bisa mengklaim pohon, kakus, dan rambu-rambu itu sebagai milik sendiri untuk dipertukarkan dengan milik orang lain. Continue reading “Bukan-Pasar”

Zhivago

Goenawan Mohamad
http://majalah.tempointeraktif.com/

Tiap akhir Mei diam-diam saya memperingati seorang penyair yang mencoba menyingkir, ketika politik berniat membangun dunia dengan gegap-gempita, sedangkan ia mencoba bicara yang lain, tak percaya bahwa politik dan sejarah adalah segala-galanya. Tentu saja ia tertabrak. Begitulah Boris Pasternak meninggal di rumahnya di Peredelkino, 30 kilometer dari Moskow, 30 Mei 1960. Continue reading “Zhivago”

Sjahrir di Pantai

Goenawan Mohamad
http://www.tempointeraktif.com/

SAYA bayangkan Sjahrir di Banda Neira pagi itu, 1 Februari 1942. Kemarin tentara Jepang menyerbu Ambon. Beberapa jam sesudah itu bom meledak.

Saya bayangkan pagi itu, setelah sebuah pesawat MLD-Catalina berputar-putar di sekitar pulau. Berisiknya membangunkan penduduk, sebelum ia berhenti di pantai yang tenang. Ko-pilot pesawat, seorang opsir Belanda, turun dan menuju ke tempat Sjahrir dan Hatta tinggal. Kedua tahanan politik itu harus meninggalkan pulau cepat-cepat, pesannya. Hanya ada sekitar waktu satu jam untuk bersiap. Continue reading “Sjahrir di Pantai”