In Memoriam

Goenawan Mohamad
majalah.tempointeraktif.com

Begitu banyak kematian, tapi pada kematian seseorang yang berarti, ada sesuatu yang lain dalam kehilangan itu: sebuah penemuan kembali.

Novelis Kuntowijoyo dan pelukis Semsar Siahaan meninggal pekan lalu, dengan sebab yang berbeda, di tempat yang berbeda. Populasi dunia kesenian Indonesia yang langka penghuni ini berkurang dengan tiba-tiba. Tapi kemudian kita tahu, kita ingat: mereka berkarya, dan tiap karya kreatif menolak ikut pertentangan hidup dengan mati.

Kedua almarhum itu, sang novelis berusia 61 tahun dan sang perupa 53, setahu saya tak saling mengenal. Pandangan mereka mungkin tak sama. Pikiran Kuntowijoyo menunjukkan sikap seorang muslim yang tak jauh dari iman tapi dekat dengan kebebasan berpikir. Dari karya-karyanya dapat dirasakan Semsar seorang yang melihat ketidakadilan sosial sebagai sesuatu yang tak diakui oleh kekuasaan, dan sebab itu harus diutarakan.

Temperamen dalam ekspresi mereka juga sangat berbeda. Prosa Kuntowijoyo: lirih dan sabar hampir seperti bedaya ketawang, dan dalam tempo yang seperti itu merangkum ide yang serius. Khotbah di Atas Bukit dramatik dalam imajinasi, tapi tak berteriak-teriak, Pasar memikat kita dalam deskripsi latar sosial, tapi dengan telaten. Gambar Semsar: garis-garisnya keras, menggelegak, menyusun sebuah drama yang tajam tapi kaku, mengutarakan sesuatu yang gawat tapi merangsang. Tak ada yang lembut dalam guratan tinta Cina itu.

Bila ada yang menyamakan kedua mereka, itu adalah perhatian mereka pada “isi”. Kata dan kalimat bagi Kuntowijoyo, yang juga seorang sejarawan dan analis kehidupan sosial, senantiasa dibimbing oleh makna, dan bukan bermain di celah-celah yang tak terduga di luar tata makna. Bagi Kuntowijoyo, “isi” atau “makna” adalah sebuah kehadiran yang dihormati. Bagi Semsar, garis dan warna adalah penanda dari sesuatu, artinya sebuah tinanda (signified), dan ia percaya bahwa tinanda itu, sebagai “isi”, adalah yang jadi poros sebuah karya seni, sementara “bentuk” bergerak di sekitarnya.

Keduanya kini tak ada di antara kita lagi. Saya tak sempat pergi ke pemakaman Kuntowijoyo di Yogya, tapi saya sempat menengok jenazah Semsar yang disemayamkan di salah satu ruang pameran Taman Ismail Marzuki, Jakarta: ia terbaring dalam peti mati, berpakaian upacara lengkap Bali, gagah tapi diam.

Esoknya saya merasa, bahwa seperti yang telah mendahului mereka; Asrul Sani, Umar Kayam, S. Prinka, dan yang lain-lain. Kuntowijoyo dan Semsar seakan-akan hanya sedang pergi ke suatu tempat yang jauh. Kita akan lama tak berjumpa, sesuatu yang semakin galib di dunia yang kian sibuk dan kian luas sekarang…. Dalam perpisahan ini, mereka tetap saja bagian dari pergaulan. Di rak di sudut sana ada sebuah novel Kuntowijoyo, di antara almari tua itu ada sebuah pigura karya Semsar.

Dan kita akan merasa bahwa sebuah novel yang cemerlang atau sebuah gambar yang menggugah adalah sebuah benda yang aneh: ia menjadi cemerlang atau menggugah karena terkait oleh masa ketika kita menikmatinya, tapi ia akan terus memasuki masa lain ketika banyak hal berubah di sekitarnya. Saya tak akan menyebut hal ini “abadi”, sebab sebuah karya tak pernah berada di luar waktu. Dalam sebuah esai perihal penerjemahan, Walter Benjamin memakai pengertian yang mungkin bisa kita pinjam. Ia membedakan antara; berleben dan fortleben, antara “lolos hidup” dan “hidup lanjut”, antara “survival” dan “lumintu”.

Tanpa sepenuhnya mengikuti Benjamin, saya kira dalam karya-karya Kuntowijoyo dan Semsar-karya mereka yang masih berbicara kepada kita, yang masih mengharukan kita, tampak bahwa setiap kali mereka seakan-akan “lolos hidup”, berleben, terlepas dari kematian. Mungkin karena tiap kali kita bertemu dengan sebuah lukisan yang menggetarkan, misalnya karya Affandi, Kelenteng, atau sebuah sajak yang seperti Senja di Pelabuhan Kecil Chairil Anwar, kita menyaksikan sebuah bayang-bayang keindahan yang seakan-akan sedang singgah. “Bayang-bayang” dan “singgah” adalah kata yang saya pilih, sebab keindahan itu tak sepenuhnya tampil dalam lukisan dan sajak itu. Ada yang terasa ada tapi mengelak dan lepas, seperti hantu, yang mungkin juga bukan hantu. Dalam momen seperti itulah kita merasakan karya itu menjadi lumintu, hidup lanjut terus, fortleben.

Yang hidup lanjut itu tak hanya “isi”, melainkan yang mengatasi “bentuk” dan “isi”, mengatasi “penanda” dan “tinanda”. Saya tak tahu apakah kita bisa menyebutnya “inspirasi”. Mungkin kita bisa menyebutnya sebagai “tilas” dari Ada, hadir ketika Ada tak lagi mengejutkan dan mempesona, bahkan kita lupakan dalam hidup sehari-hari. Sebab itu sebuah karya seni yang menggetarkan seakan-akan sebuah wasiat dari Ada. Dengan itu kita bersyukur karena kematian bukanlah sesuatu yang mutlak. Kita bersyukur pada kemungkinan bahwa oposisi antara hidup dan mati bukanlah segala-galanya.

Syahdan, pada bulan Oktober 2004 yang suram, dalam pemakaman Derrida di luar Kota Paris, seorang muda, Pierre, anak lelaki pemikir itu, membacakan sejumlah kata yang ditinggalkan ayahnya. Di antaranya semacam pesan, “Affirmez la survie”. Kita perlu meneguhkan atau mengisbatkan kenyataan bahwa tiap kali kita “lolos hidup”.

Bagi saya itu artinya menghargai hidup tapi juga mengakui kegentingannya, merayakan hidup tapi merasakan kerapuhannya. “Merasakan kenikmatan dan menangis di hadapan ajal yang dekat, bagi saya itu hal yang sama,” kata Derrida dalam wawancaranya dengan harian Le Monde dua bulan sebelum ia meninggal.

Dan ia pun meninggal, selalu begitu banyak kematian. Kali ini Kuntowijoyo dan Semsar. Tapi kita tahu, kita ingat: mereka berkarya, dan tiap karya mengingatkan kita akan la survie, dan sebab itulah yang ditinggalkan kedua seniman Indonesia itu amat berharga.
***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *