Van Gogh

Goenawan Mohamad
http://majalah.tempointeraktif.com/

Bagaimana kita bisa bicara tentang Mohammad B.? Pada suatu hari di bulan November 2004 yang dingin, ia membunuh Theo Van Gogh dengan tenang dan brutal di sebuah jalan di Amsterdam. Ketika seniman film itu bersepeda, Mohammad B. menghadangnya, dan menembakkan pistolnya delapan kali. Terkena lutut, Van Gogh terjerembap. Ia diseret. Dalam keadaan luka itu ia memandang orang yang menembaknya dan mencoba berbicara. Tapi Mohammad B. tak menyahut. Baca selengkapnya “Van Gogh”

Sayu

Goenawan Mohamad
http://majalah.tempointeraktif.com/

Seseorang pernah mengatakan ia “sentimentil”, dan ia sendiri mengakui itu “benar”. Tapi saya tak yakin. Sampai ia meninggal karena kanker pankreas di Paris pekan lalu dalam umur 74, Jacques Derrida adalah pemikir yang bicara bukan lantaran ia mudah terharu. Bahasanya tak mendayu-dayu, bahkan kerap kali rumit. Pandangannya tak terasa murung. Tidak, ia bukan pemikir yang “sentimentil”. Derrida adalah suara yang sayu. Baca selengkapnya “Sayu”

Tlön

Goenawan Muhamad
http://www.tempointeraktif.com/

Barangkali Tlön adalah sebuah tempat, yang pernah ada atau tidak pernah ada. Pengarang Argentina termasyhur itu, Jorge Luis Borges, bercerita bahwa pada suatu hari ia menemukan sebuah buku dalam bahasa Inggris. Tebalnya 1001 halaman, berjudul A First Encyclopaedia of Tlön. Volume XI. Hlaer to Jangr. Tidak ada petunjuk tahun dan tempat penerbitan. Baca selengkapnya “Tlön”