Havel

Goenawan Mohamad
http://www.tempo.co/

Sastrawan Cekoslovakia (lahir 1936, wafat 2011), Presiden Republik Cekoslovakia (1989-1992), Presiden Republik Cek (1993-2003)

Havel adalah saksi yang langka. Padanya puisi dan kekuasaan bisa bertaut sebentar di abad politik yang gemuruh, abad ke-20. Ya, sebentar—jauh lebih ringkas ketimbang umurnya yang berakhir pekan lalu, pada tahun ke-75.

Pertama-tama, puisi: percakapan yang tumbuh dengan bahasa yang datang dari dalam diri, kalimat-kalimat yang muncul tanpa dijinakkan kamus dan tata yang berlaku. Puisi tak membuat tenteram kekuasaan: yang tak bisa dijinakkan bisa mengacaukan wacana yang dikendalikan oleh kuasa dan doktrin yang merasa benar selamanya. Sejak Havel remaja, di Cekoslovakia, seperti halnya di seluruh Eropa Timur, kuasa itu Partai Komunis.

Di bawah sensornya tumbuh percakapan lain.
Sastrawan Polandia pemenang Nobel, Czeslaw Milosz, yang merasa dicekik doktrin Marxisme-Leninisme negerinya, memperkenalkan istilah “Ketman”. Kata ini diambil dari sejarah kekuasaan Islam di Timur Tengah: “Ketman” adalah strategi verbal orang-orang yang takut. Dengan “Ketman” orang hanya mengutarakan pikiran yang dibentuk oleh bahasa resmi—dan dalam kasus Polandia, oleh frasa-frasa yang disusun karena ngeri melanggar akidah Partai. Dengan “Ketman”, orang menyensor diri dan memasang topeng kata-kata. Tak jarang, dalam proses ketakutan yang panjang topeng itu menyatu dengan wajah, dan wajah pun berubah.

Havel, yang menulis esai dan lakon, melukiskan situasi itu di atas panggung. Karya pentasnya akrab dengan “teater absurd” ala Ionesco, dramawan Rumania yang lari ke Paris: teater yang menghadirkan “bahasa otomatik”—bahasa yang keluar dari mulut begitu saja tanpa makna, karena makna bukan bagian yang hidup dalam diri mereka. Tokoh lakon Havel, “Pesta Kebun” (Zahradni slavnost, 1963), adalah Hugo Pladek: pecatur muda yang beroleh jabatan penting setelah menyerap bahasa birokratik—dengan 1.000 slogan dan 1.000 klise. Di babak IV, bahasa itu mengubah dirinya. Orang tuanya tak mengenal Hugo lagi.

Selama hidupnya, Havel mencoba melawan situasi yang absurd seperti itu. Ia mengusahakan hidup yang tanpa kalimat palsu.

Mungkin karena ia sejak mula menulis puisi dan belajar dari penyair yang menjauhi petunjuk resmi dan sebab itu disingkirkan. Dalam umur 20-an, pada 1956, di sebuah pertemuan pengarang, Havel yang pemalu itu nekat menyerang doktrin “realisme sosialis” yang meletakkan kesusastraan di bawah komando Partai. Para hadirin kaget, tapi dengan berbisik dan kata yang bercadar mereka mengakui anak muda itu benar.

Berbeda dengan mereka, Havel terbebas dari “Ketman”. Ia lepas dari ketakutan di hadapan bahasa resmi. Maka ia bisa membaca apa yang salah di Cekoslovakia, terutama sejak gerakan reformasi (yang terkenal sebagai “Musim Semi Praha” 1968) dihentikan oleh kekuatan militer Uni Soviet. Kecuali seorang mahasiswa filsafat yang memprotes membakar diri, Jan Palach, Cekoslovakia merunduk.

Tapi tak takluk. Havel, waktu itu 32 tahun, mengirim surat ke perdana menteri, menggugat. Ia dipenjarakan. Lakon-lakonnya dilarang dipentaskan.

Tapi ia tak bisa dipisahkan dari Teater Di Balustrada. Di gedung di sisi timur Sungai Vitava, Praha, itu Laterna Magika berpentas. Ruang bawah teater itu kemudian jadi tempat rapat gelap. Di sanalah dibentuk Obcanské Forum, forum yang menyatakan diri mewakili warga yang menentang rezim komunis, lingkaran 200-an orang yang berembuk dengan dukungan ribuan pemuda yang tak sabar.

Di situ, Havel adalah suara moral; ia pemandu.
Akhirnya: kekuasaan datang. Pada 1998, setelah sederet demonstrasi besar, rezim Komunis jatuh. Obcanské Forum menang—tanpa kekerasan: sebuah “Revolusi Beludru” yang mirip lakon romantik Laterna Magika. Memang ada yang “magika” saat itu: sang pemimpin moral bermetamorfosis jadi pemimpin politik. Havel jadi presiden.

Sekian tahun kemudian ia turun. Ditengoknya kembali jalan hidupnya. Dirinya telah terkena “jerat setan”, katanya, meski dengan tambahan secercah humor: “Hanya dalam semalam, saya dilontarkan ke dunia dongeng.”

Kemudian terbukti bahwa “dunia tak distruktur seperti dongeng”. Sang presiden segera dibenturkan dengan sederet keniscayaan. Ia mengutarakannya dengan agak melankolis: “Untuk menapak di jalan nalar, perdamaian dan keadilan, perlu banyak kerja keras, sikap mengabaikan diri, sabar… dan kesediaan untuk disalahpahami.”

Ia sering disalahpahami—dan berbuat salah. Havel menunjukkan kebesaran hati yang jarang: ia tak menjebloskan para pejabat Komunis yang dulu menganiaya ke penjara; ia memilih rekonsiliasi. Meski seorang warga Praha berbisik kagum kepada saya, “Ia seperti orang suci,” banyak bekas korban rezim lama yang mengecamnya.

Tapi memang Havel tak selalu suci: di bawah kepresidenannya, Cek mendukung serbuan Amerika ke Irak dengan dalih yang bohong.

Sementara itu, kapitalisme mendera. Havel tak tampak gigih melawannya. Mungkin ia naif. Yang jelas, ia—yang keluar dari sel seorang pembangkang dan langsung masuk istana—tak pernah mengalami rumit (dan kotornya) proses politik kepartaian dalam demokrasi. Ia berada di atas partai: bersih, tapi tak punya radar di kaki.

Akhirnya ia tetap di haribaan puisi. Dan itulah posisinya: genting, di antara politik sebagai kiat mencapai yang mungkin dan sebagai hasrat menggapai yang tak mungkin. Tapi Havel tahu impian dan batasnya: “Suara peringatan seorang penyair harus didengarkan… mungkin dengan lebih serius ketimbang suara bankir dan pialang saham. Tapi juga kita tak bisa mengharap dunia—di tangan penyair—akan berubah seketika jadi sebuah sajak.”

26 Desember 2011