Humanisme Mahmoud Darwish

Cecep Syamsul Hari*
Pikiran Rakyat, 13 Sep 2008

DALAM pidato penerimaan Prince Claus Awards (2004), Mahmoud Darwish, penyair nasional Palestina, berkata: “Seseorang hanya dapat dilahirkan di satu tempat. Namun demikian, ia bisa saja mati berkali-kali di tempat lain: di pengasingan dan penjara, dan bahkan di negeri kelahiran yang telah diubah menjadi mimpi buruk oleh penjajahan dan penindasan. Continue reading “Humanisme Mahmoud Darwish”

Belajar dari Korea dan Hongaria

Cecep Syamsul Hari
http://cetak.kompas.com/

Tiga tahun lalu ketika saya menjadi sastrawan tamu di Korea dan pada hari ketiga saya tinggal sebagai sastrawan tamu di Hongaria, saya teringat kepada Harry Aveling yang selama tiga dekade setia menerjemahkan puisi-puisi para penyair Indonesia dari berbagai generasi ke dalam bahasa Inggris. Salah satu bukunya yang dikenal luas dan belum begitu lama diterjemahkan juga ke dalam bahasa Indonesia, Secrets Need Words: Indonesian Poetry 1966-1998 (Ohio University Press, 2001), banyak dirujuk para penulis buku antologi puisi di berbagai belahan dunia, antara lain dirujuk Tina Chang Continue reading “Belajar dari Korea dan Hongaria”