Perjamuan Semu Rindu

M.D. Atmaja

Seringkali aku berpikir, kapan malam-malamku akan kembali seperti dahulu. Dipenuhi hening dalam wening yang membuatku mampu melupakan segala yang busuk untuk mengenang segala yang manis. Sungguh aku merindukannya, dalam udara yang dingin aku duduk termangu menemui diri yang tetap tegak berdiri. Nikmat. Sangat nikmat melebihi perjamuan percintaan semu yang menusuk di akhirnya. Continue reading “Perjamuan Semu Rindu”

Televisi tanpa ‘Channel’

Muhammad Amin
http://www.lampungpost.com/

permisi, saya sedang bunuh diri sebentar
bunga dan bensin di halaman
teruslah mengaji, dalam televisi berwarna itu, dada

Kerap berkali-kali lelaki tokoh kita membentak-bentak dirinya sendiri. Di depan televisi. Seperti lelaki gila. Apa yang ia saksikan di depan layar 24 inci itu hanya gambar-gambar tentang dirinya. Tentang ketololannya dalam menangani permasalahan pelik yang menimpanya beberapa waktu lalu. Tekanan dari berbagai pihak. Juga televisi dan koran-koran yang tak henti menyorot dan memberitakan dirinya. Continue reading “Televisi tanpa ‘Channel’”

Emas Sebesar Kuda

Ode Barta Ananda
Kompas, 7 Nov 2004

“Lai1), Mis?!” Sabe meneriakkan tanya sehabis menyelam ke arah Simis yang juga baru muncul. Terus mengibas-kibaskan rambut seleher seperti itik baru keluar dari air.

Simis tak peduli. Dia kembali membenamkan tubuh ke dalam Batang Sukam. Sambil mengatupkan mulut untuk menahan napas, lelaki berdegap itu menyalangkan mata, memerhatikan serpihan pasir yang masih bersisa di atas batu layah. Dengan mimik optimis, dikipas-kipasnya serpihan pasir menggunakan tangan kiri. Continue reading “Emas Sebesar Kuda”

Pernikahan Cahaya

S.W. Teofani

Cahaya kembali pada cahaya. Cahaya berkumpul bersama cahaya. Hanya cahaya yang tahu cahaya.

Aku pahat huruf-huruf itu di diding kastil. Saat lelah menerobos pualam. Mencari celah menembus kegelapan. Bilah huruf itu menjelma kekuatan. Aku terhenti mengenang. Muasal diri bukan cahaya. Tapi ada cahaya pada diri. Kepada cahaya seharusnya diri berpulang. Dengan cahaya diri berjalan. Selain cahaya, pada diri adalah kegelapan-kegelapan yang harus dimusnahkan. Selain cahaya, pada diri adalah bagian-bagian yang harus dihancurkan. Maka diri menjadi pertarungan kegelapan dan benderang. Continue reading “Pernikahan Cahaya”

Bahasa »