Pengintai

Dadang Ari Murtono
http://suaramerdeka.com/

“PARA pencemburu itu bisa sewaktu-waktu mengubah setiap orang menjadi pemburu yang tak akan berhenti memburu. Tak akan berhenti. Tak akan berhenti hingga berhasil menancapkan anak panah atau mata tombak ke urat-urat lehermu. Ke urat lehermu. Seperti yang mereka lakukan pada ayahmu. Continue reading “Pengintai”

Hujan Telah Selesai

Alex R. Nainggolan
http://www.suarakarya-online.com/

Sore itu, ruang pengantin telah lengang. Ranjang perlahan-lahan mendingin. Pacu birahi padam. Lelaki yang dipanggil “Mas” itu menatap Dhesi, istrinya. Hujan di luar masih turun. Hening. Waktu berbenturan di setiap sudut ruangan. Selebihnya diam. Mereka berdua kembali mengenang percintaan yang baru saja selesai. Sisa dingin dari hujan seperti berjingkat kecil, pelan-pelan, seperti langkah yang berjinjit. Hanya suara angin yang berdesir, mengatup semua bulir. Continue reading “Hujan Telah Selesai”

Menunggu Rembulan Datang

Slamet Rahardjo Rais
Suara Karya, 10 Nov 2007

Titan turun dari sebuah kendaraan umum bersama seorang anak lelaki kecil dan mungil.Nampaknya anak ini bandel.Tangan kiri dan tangan kanan Titan nampak cukup berat dibebani oleh barang-barang yang dijinjingnya penuh kesulitan. Sehingga nampak kerepotan ketika hendak menyeberangi jalanraya yang ramai kendaraan Beserta anak bandelnya itu ia bermaksud hendak menyeberangi jalanraya yang ramai lalulintas kendaraan. Untuk menyeberangi jalan raya menuju ke arah seberang anak yang bandel itu nampaknya ingin lepas menyeberang sendiri. Continue reading “Menunggu Rembulan Datang”

Pohon Keramat

Denny Mizhar

Malam purnama di tahun baru Jawa. Semua penduduk desa Antabrantah timur berbondong-bondong menuju pohon besar yang terletak di dekat sungai. Tepatnya pohon tersebut terletak di perbatasan desa Antrabrantah timur dan Antrabantrah barat. Meskipun sama nama desa tersebut, para penduduknya memiliki pandangan hidup yang berbeda. Desa Antrabarantah timur masih cenderung percaya, desanya ada yang mbaurekso, tinggalnya di pohon besar yang sekarang akan dipuja juga diberi sesajen. Continue reading “Pohon Keramat”

Kidung Rebung

S.W. Teofani
Lampung Post, 2 Januari 2011

MENGAPA tak sekarang saja kita tebang rumpun rebung itu, Ibu? Apa lagi yang kita tunggu. Bukankah semak laknat itu menyisakan mimpi buruk pada malammu, juga siangku. Kita telah kehilangan nakhoda biduk pada ganasnya gelombang hidup. Laki-laki yang sangat mencintai bambu, mungkin melebihi cintanya padamu, juga padaku. Tapi kau tak pernah cemburu pada bambu-bambu itu. Bahkan saat akhirnya dengan sadis pohon kesumat itu menjadi sebab kematian laki-lakimu, ayahku. Continue reading “Kidung Rebung”

Bahasa »