Turun Malam

Asaroeddin Malik Zulqornain
http://www.lampungpost.com/

DI jelang pagi manis bangkit dari baringnya nun dari balik perbukitan hijau yang menelikung kota: Bukit Wan Abdurrahman; sepasang merpati tua, Tamong Mandok dan Minan Itun turun dari rumah panggungnya di Pekon Lempasing yang berpantai pada ceruk teluk laut penuh plankton yang bila malam tiba seakan bintang gemintang turun dari langit malam, menaburi kawasan Teluk Lampung bagai kunang-kunang, itulah geliat para pencalang laut sejati yang tengah asyik memperdaya ikan-ikan dengan menebar jala, mata kail, lampu petromaks, dan doa-doa. Continue reading “Turun Malam”

Empat Potong Warahan Batu

Muhammad Amin
http://www.lampungpost.com/

MARI kukisahkan kembali beberapa potong cerita tentang batu. Cerita-cerita ini tercecer begitu saja di lepau atau kedai tuak Wa Isah sebelum kusampaikan lagi kepadamu. Cerita yang kupunguti satu per satu dari mulut kawan yang menyeracau sambil tersedak. Kebiasaan yang tak pernah kita lupakan: mangkal di kedai tuak sembari menunggu Abdul Manan, si tukang cerita itu menyampaikan warahan yang memikat. Continue reading “Empat Potong Warahan Batu”

Mata Pencerita

Aida Radar
http://www.lampungpost.com/

TAK ada yang tahu siapa laki-laki tua itu. Dari mana dia berasal dan mengapa dia bisa berada di kampung ini. Orang-orang dewasa di kampung menyebutnya si tua misterius. Sementara anak-anak meneriakinya “O…rang gila…!” Maka, tiada bayangan jejaknya yang bisa kutelusuri. Hanya satu informasi bahwa ia terlihat di kampung sehari sebelum aku mudik dari tempat studi di Kota Daeng*. Continue reading “Mata Pencerita”

‘Kumbang Bi’, Kembang Kenangan

Elly Dharmawanti
http://www.lampungpost.com/

INI bunga masa kecilku. Serupa terompet mungil merah dan putih bergelantungan. Bunga dengan tangkai dan batang yang hijau. Bijinya apabila sudah matang akan berwarna kehitam-hitaman. Orang-orang ada yang menyebut bunga pukul empat, karena sekitar pukul empat itulah ramai kuncup bunga akan bermekaran. Kami namai ia kumbang dibi, bunga sore hari. Continue reading “‘Kumbang Bi’, Kembang Kenangan”

Pulang

Riri
http://pawonsastra.blogspot.com/

Pulang ke desa minggu ini harus kujalani dengan naik bus. Ayah yang biasanya jemput ada urusan penting tak bisa di tinggalkan. Aku harus rela menggunakan fasilitas transportasi kota yang paling utama itu. Menempuh perjalanan kurang lebih 2 jam di dalam bus beraroma khas penumpang. Peluh dan keringat dari tubuh mereka, aroma parfum dan minyak wangi yang mereka pakai, juga bau barang-barang bawaan. Di tambah penumpang yang berdesak-desakan, tak memberi sedikit celah untuk udara berganti. Continue reading “Pulang”

Bahasa »