Rumah Kelelawar

Guntur Alam
http://www.lampungpost.com/

RUMAH itu sudah lama jadi sarang kelelawar. Orang-orang di Dusun Tanah Abang pun telah lupa kapan tepatnya. Tak ada yang dapat mengingat dengan pasti, pekan ke berapa di purnama yang kesekian pada tahun yang tertera di bilangan angka almanak rumah. Rumput kanji telah sebatas lutut, membelukar di pekarangannya seolah berlomba dengan batang jambu air yang kian merimbun, tumbuh di beberapa hasta dari tangga depan Limas itu. Saban tahun, pohon jambu itu berbuah lebat. Buahnya memerah di sela daun yang hijau-kuning, di bawahnya buah-buah itu menghampar. Continue reading “Rumah Kelelawar”

BANUN

Damhuri Muhammad
Kompas, 24 Okt 2010

Bila ada yang bertanya, siapa makhluk paling kikir di kampung itu, tidak akan ada yang menyanggah bahwa perempuan ringkih yang punggungnya telah melengkung serupa sabut kelapa itulah jawabannya. Semula ia hanya dipanggil Banun. Namun, lantaran sifat kikirnya dari tahun ke tahun semakin mengakar, pada sebuah pergunjingan yang penuh dengan kedengkian, seseorang menambahkan kata ?kikir? di belakang nama ringkas itu, hingga ia ternobat sebagai Banun Kikir. Konon, hingga riwayat ini disiarkan, belum ada yang sanggup menumbangkan rekor kekikiran Banun. Continue reading “BANUN”

Musrow *

Sabrank Suparno

Let’s, here! Wanita bermata biru, berambut pirang menarik tanganku ke tengah arena. Kami pun berjingkrak dan sesekali berteriak serempak hanyut terbawa arus hot musik disko berkekuatan 10.000 watt. Volume getarnya menyentak dada. Mr. Dj kerap disamperi wanita, joget bersama, dan diberi sekuntum bunga. “Shab..are you Balines?” Teriak tanya wanita itu keras. Bukan karena ia terbiasa bersuara keras, namun di ruang itu tak terdengar jika tidak berteriak. Continue reading “Musrow *”

Timor Lorosae dan Cinta Platonikku

Fanny J.Poyk
http://www.suarakarya-online.com/

Pesawat Boeing 737 yang membawaku dari Bandara Soekarno-Hatta mendarat perlahan di Bandara El Tari Kupang, NTT. Dua petugas dari Dinas Kementrian Pendidikan Nasional provinsi NTT menyambutku. Mereka sudah mengenalku karena kami beberapa kali bertemu di Jakarta. Seperti layaknya pejabat baru turun ke daerah, mereka mengangkat koperku dan membawanya ke mobil. Continue reading “Timor Lorosae dan Cinta Platonikku”

Bahasa »