Rumah Kelelawar

Guntur Alam
http://www.lampungpost.com/

RUMAH itu sudah lama jadi sarang kelelawar. Orang-orang di Dusun Tanah Abang pun telah lupa kapan tepatnya. Tak ada yang dapat mengingat dengan pasti, pekan ke berapa di purnama yang kesekian pada tahun yang tertera di bilangan angka almanak rumah. Rumput kanji telah sebatas lutut, membelukar di pekarangannya seolah berlomba dengan batang jambu air yang kian merimbun, tumbuh di beberapa hasta dari tangga depan Limas itu. Saban tahun, pohon jambu itu berbuah lebat. Buahnya memerah di sela daun yang hijau-kuning, di bawahnya buah-buah itu menghampar. Gugur masak dan membusuk. Pada musim kemarau, daun-daun jambu air itu yang akan menguning di bawahnya. Seperti itu, saban tahun. Dan orang-orang pun mulai tak memperdulikan Limas yang sesungguhnya megah itu.

Tapi, pada suatu petang-yang kelak akan diingat orang-orang Tanah Abang sebagai hari yang ganjil dalam adat-istiadat leluhur mereka, seseorang membuat rumah kelelawar itu menjadi pusat perhatian. Pokok pembicaraan. Dan berita yang tak habis-habisnya diurai di toko-toko kopi, pondok bambu bawah kolong Limas, batang (1), belantara balam, bahkan bilik-bilik pengap yang menderukan napas.

Mulanya, kisah itu dibuka pada suatu malam di Limas reot yang ada di ujung dusun. Jauh dari Limas megah itu berdiri. Seorang lelaki renta yang datang ketika hari mulai berselimut pekat yang memulainya. Ia datang mengendap, seolah tak ingin dilihat orang-orang se-Dusun Ngangah.

“Kopinya, Bak,” Mak Sarifah meletakkan secangkir kopi hitam di atas meja kayu, depan lelaki renta itu. Asap menggumpal-gumpal dari permukaannya, menimpali asap tipis dari beberapa potong ubi rebus putih yang merekah dalam piring kecil. Lelaki renta itu tak berkata, tangan kanannya menjangkau gelas kopi, meniup pelan permukaannya, lalu menyeruput isinya sedikit, pelan.

“Cakmane? Apa kalian bisa?” lelaki itu kembali pada pokok pembicaraannya setelah tangannya kembali meletakkan gelas kopi hitam itu di atas tatakan. Mak Sarifah mengadu pandang dengan lelaki yang duduk senyap di sebelahnya.

“Aku turut apa kata ebak-nya Safar saja, Bak,” Mak Sarifah tak kuasa membuat keputusan. Baginya, ini perkara kaum lanang. Bukankah memang telah seperti itu? Tiap perkara penting, lananglah yang harus membuat keputusan. Terlebih perkara seriskan ini. Perihal rumah Limas yang sejatinya harus diurus anak lanang tertua dalam keluarga mereka. Lelaki renta itu melarikan retinanya ke arah menantunya.

Pak Saleh menelan ludah. Sejatinya, ia sendiri kebingungan. Begitu banyak pertanyaan yang bergumul-gumul dalam batok kepalanya. Apa kata orang sedusun? Bagaimana pula nanti sikap abang iparnya, Badrun, mengenai permintaan mertuanya ini? Ah, mendadak saja, Pak Saleh merasa betapa sakit kepalanya saat ini.

“Bagaimana dengan Bang Badrun, Bak?” Itulah kata pembukaan yang bisa lelaki itu ucapkan. Dari sekian pertanyaan dan kalimat yang menyerang tempurung kepalanya, kalimat tanya itu yang paling kencang bergaung.

“Ia tak akan pulang lagi ke Tanah Abang. Ebak telah tengok sepekan silam ke Pagar Alam. Ia akan terus berkebun kopi dan lada di sana, mati pun ia nak dikubur di tanah itu. Mungkin, hanya sesekali saja ia menjejakkan kaki di dusun ini, bila kau buat hajat atau ada ihwal yang memang penting dan harus ia datangi. Mengenai perkara ini, Ebak telah mufakatkan dengan ia. Ia pun setuju saja,” kata-kata mertuanya itu membuat Pak Hasan kembali senyap.

“Mengapa bukan Bang Badrun saja yang urus, Bak?” mertuanya diam, “Banyak orang dusun kita yang berkebun kopi di Pagar Alam sana, tapi Limas mereka masih dapat dirawat. Satu purnama sekali, Bang Badrun dapat pulang. Berganti-ganti dengan anak-anak bujangnya,” sambung Pak Hasan.

“Badrun kadung malu, San. Malu dengan koar-koarnya beberapa tahun silam. Ia tak akan tinggal di Tanah Abang kalau tak jadi orang yang kaya-raya.”

Lagi, ketiga orang itu senyap. Pun dengan secangkir kopi hitam yang tak lagi mengepulkan asap dari permukaannya. Juga dengan beberapa potong ubi rebus yang ikut-ikut mendingin. Sedingin udara malam yang mulai berembus dari permukaan Sungai Lematang, bertiup ke arah tengah dusun, menggelitik, merayu dedaun yang dilewati, menerobos celah-celah papan Limas, lalu terbang bersama malam yang kian merangkak dalam kepastian menuju puncaknya.

Kedua laki-bini itu kembali mengadu pandang. Lalu, serempak menarik napas panjang. Keduanya pun bersama-sama mengembuskannya, melegakan dada yang seketika menyempit mendadak. Seperti tak bersebab, seperti tak berpangkal. Sesak. Mengimpit dan terasa begitu menjepit.

“Bila kami bersedia, berapa yang harus kami serahkan pada Ebak karena maknya Safar seorang perempuan, Bak? Telah termaktub dalam hidup orang dusun kita. Bila anak perempuan yang mengambil alih Limas, wajib membayar pada Ebak dan anak lanang yang berhak. Sementara, kami tak punya apa-apa. Hanya sebidang kebun balam yang menjadi pokok kami makan. Tak mungkin kami menjualnya. Kebun balam itulah tempat cucu-cucu Ebak menggantungkan harap.”

“Berapa pun yang kau anggap pantas,” ujar lelaki renta itu. Ada desisan lega dari nada suaranya. Tersirat di gurat-gurat wajah. Terbaca di binar-binar mata.

Mak Sarifah meraba lehernya. Cuma itu yang ia punya. Sesuku kalung emas. Hampir genap satu tahun lamanya, ia mengumpulkan uang untuk dapat membeli kalung itu. Harapnya, itu harta cadangan yang dapat digunakan bila sewaktu-waktu ada keperluan mendesak. Lamat, ia membukanya dari leher hitamnya yang jenjang.

“Kami hanya punya ini, Bak,” tangannya gemetar mnenyorongkan kalung emas itu. Mata renta lelaki itu meredup, ada kaca-kaca yang hendak pecah, menyeruak dan terasa sangat menyesak. Mengimpit kembali dada tuanya.

“Apa kau ikhlas?” suaranya berubah serak dan gemetar.

“Insya Allah, Bak,” Mak Sarifah lekas menegakkan jantungnya.

Lelaki renta itu merogoh saku baju batiknya, merentang selembar surat bermaterai. Tiga tanda tangan telah terbubuh di atas kertas bertulisan huruf sambung itu, bertinta hijau. Ia menyorongkan kertas itu kepada mantunya.

“Tanda tangan dan simpanlah. Surat ini serah terima Limas itu kepadamu, dari Ebak dan Badrun,” desisnya.

Pak Hasan membawa wajah ke bininya. Wanita itu tak berkata. Tidak mengangguk atau pun lainnya. Ia bergeming di atas lantai, serupa batu yang telah dikutuk. Malam ikut senyap dalam merangkak. Angin diam saat menjadi saksi yang mengesahkan tangan Pak Hasan menggerakkan pena di atas kertas itu. Lalu, hening menyelimuti semesta pekat.

***

BEGITULAH mulanya, lalu orang-orang sedusun Tanah Abang terperangah begitu di pagi kalangan, Pak Hasan anak-beranak menebas rumput kanji yang membelukar di pekarangan limas itu. Menyapu daun-daun jambu air yang menguning. Menyalakan api dari tumpukan sampah, meliukkan asap putih tebal yang memerihkan mata ke arah Limas. Kelelawar mencericit begitu asap itu mulai menyelimuti rumah.

Berbondong-bondong mereka terbang dari tiap jendela Limas yang telah dibuka lebar-lebar, jendela yang telah bertahun-tahun tak menampilkan daunnya. Sawang-sawang digulung, debu-debu di sapu. Dan mata-mata orang Tanah Abang pun kian tertuju.

“Apa hal Hasan anak-beranak bersihkan rumah mertuanya itu?”

Itu kalimat tanya yang menjadi muasal pembicaraan yang kelak akan terjadi begitu panjang. Kalimat yang dilontarkan Wak Saiful dari toko kopi Seno yang memang hanya berjarak dua-tiga Limas dari rumah kelelawar itu.

“Nak ditunggunya mungkin,” sahut Mang Batul spontan, cuek, dan terdengar santai. Jawaban yang sebenarnya biasa saja, akan tetapi menjadi tak biasa di telinga orang se-Dusun Ngangah.

“Hah? Nak ditunggunya?” kening Wak Saiful berkerut, “Ai, mati lah itu jurai Hamzah kalu anak mantu dan anak perempuannya yang tunggu Limas itu.”

Setelah itu terdengar dengungan suara lanang-lanang yang mencaungkan kaki di toko kopi Seno itu. Beragam kata yang terlontar. Kemudian angin yang memang suka berbisik, membawa dengungan kata itu terbang mengintari langit Tanah Abang. Menyinggahkannya di tiap-tiap Limas, di antara perempuan-perempuan yang mencari kutu dan uban bawah kolong Limas, dan seluruh penjuru dusun.

“Sarifah anak-beranak nak nunggu Limas ebaknya. Mati lah itu jurai keluarganya.”

“Oi, ada nian?” mata Bi Robiq membelalak, kutu yang hampir saja ia cengkeram dengan jemarinya di atas kepala Bi Mar langsung menyelamat diri begitu perempuan itu lengah karena terkejut mendengar ucapan Bi Mar barusan. Wak Neng dan Mak Jami ikut-ikutan melarikan mata ke arah Bi Mar.

“Kata siapa?” wajah Wak Neng berjinjit ngeri.

“Oi, lihatlah tengah dusun situ. Dia anak-beranak sedang bersih-bersih.”

“Inilah akibat ebaknya Sarifah itu tak pandai mengatur harta, habis karena anak lanang. Sekarang terlunta-lunta di tanah orang. Nak tinggal di dusun lagi lah malu. Terpaksa, mematikan jurai suruh anak betine yang jaga Limas. Ya cacam..,” geleng Wak Neng sembari mengerut dada.

“Kalu aku, kubiarkan baelah Limas itu jadi sarang kelelawar. Daripada cak ini. Matikan jurai keluarga,” dengus Mak Jami, berapi-api. Bi Robiq mengangguk-angguk setuju.

“Betul itu, Bi.”

Pada akhirnya, dengungan kalimat-kalimat yang kian banyak itu kembali diterbangkan angin. Setelah berputar-putar beberapa hari, berbilang pekan, angin pun menyinggahkan dengung itu di Limas reot Pak Hasan. Tepat di bilik pengap mereka angin mendaratkannya. Pada suatu malam yang lengang, ketika orang-orang dusun Tanah Abang mulai terlelap.

“Apa kau telah dengar, Bang, perihal orang-orang dusun yang mengatakan tentang kita?” Mak Sarifah menggerai rambut legamnya.

“Aku lah dengar, Dik.”

“Lantas?” perempuan itu menghentikan tangan kanannya yang tengah menyisir rambut legamnya. Ia membawa mata cokelat beloknya ke arah lelaki yang ada di atas ranjang. Lelaki itu senyap.

“Apa kita tetap di sini, di Limas Abang ataukah kita ke rumah kelelewar itu?” tanya Mak Sarifah kembali begitu lelaki di atas ranjang bungkam.

“Menurutmu?” lelaki itu balik bertanya.

“Sebenarnya, aku lebih nyaman di sini. Tak mendengar cibiran orang-orang dusun, dan doa-doa mereka yang menyakitkan hati.” Perempuan itu menghela napas.

“Bagaimana dengan ebakmu?” lelaki itu terbayang dengan mertuanya.

“Aku yang akan bicara, Bang. Kita biarkan saja rumah itu jadi sarang kelelawar, daripada jurai keluargaku mati seperti yang dikatakan orang-orang.” Lelaki di atas ranjang senyap. Ia tak dapat berkata. Direbahkannya tubuh di atas ranjang, berbantal kapuk. Matanya lama menerawang bersama kepak-kepak kelelawar yang berseliweran.

***

RUMAH itu sudah lama jadi sarang kelelawar. Orang-orang di dusun Tanah Abang dapat mengingat dengan jelas tepatnya. Pada suatu petang yang mereka ingat sebagai hari yang ganjil dalam adat-istiadat leluhur mereka, seseorang membuat rumah kelelawar itu menjadi pusat perhatian. Pokok pembicaraan. Dan berita yang tak habis-habisnya diurai di toko-toko kopi, pondok bambu bawah kolong Limas, batang, belantara balam, bahkan bilik-bilik pengap yang menderukan napas.

/C59, September 2010

1) Rakit dari gelondongan kayu yang di atasnya dipakukan beberapa papan sebagai lantai, merupakan tempat mencuci, mandi, oleh kaum perempuan di Desa Tanah Abang, Kabupaten Muara Enim, dan beberapa dusun yang ada di sepanjang aliran Sungai Lematang, seperti Desa Bumi Ayu, Siku, Dangku, dan lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *