Satmoko Budi Santoso
suaramerdeka.com
BAGAI si Bujang Tan Domang yang suatu hari singgah, terantuk di tanggul Sialang Kawan, Dusun Betung, Tanjung Sialang, dan Tanjung Perusa, aku berlayar. Limbung terbantun dari tepian Sungai Siak, menumpang sampan dayung bercadik.
“Lupakanlah si Raja Lalim, si Panjang Hidung,” Emakku merengek, menghela galah galau, melontar sepah kesal, sumpah seranah atas kampung halaman. Ah, berlayar, berlayarlah aku ke seberang, ke tepi tanah mimpi, atas nama basah angin, kelepak burung, dan mega-mega. Continue reading “Bersampan ke Tepi Tanah Mimpi”
