Bersampan ke Tepi Tanah Mimpi

Satmoko Budi Santoso
suaramerdeka.com

BAGAI si Bujang Tan Domang yang suatu hari singgah, terantuk di tanggul Sialang Kawan, Dusun Betung, Tanjung Sialang, dan Tanjung Perusa, aku berlayar. Limbung terbantun dari tepian Sungai Siak, menumpang sampan dayung bercadik.

“Lupakanlah si Raja Lalim, si Panjang Hidung,” Emakku merengek, menghela galah galau, melontar sepah kesal, sumpah seranah atas kampung halaman. Ah, berlayar, berlayarlah aku ke seberang, ke tepi tanah mimpi, atas nama basah angin, kelepak burung, dan mega-mega. Continue reading “Bersampan ke Tepi Tanah Mimpi”

Lindu

Zainal Arifin Thoha

SUDAH hampir sebulan ini, burung gagak berkaok-kaok mengitari daerah kami, terutama di malam hari. Konon, kata para sesepuh, bila burung gagak berkaok-kaok di malam hari, seperti itu, adalah pertanda akan ada kematian. Tetapi, fenomena burung gagak itu tak hanya terjadi di daerah kami saja, melainkan di daerah lain, menurut kawan saya, juga acap terdengar. Continue reading “Lindu”

Pulang dalam Hujan

Marhalim Zaini
Suara Merdeka, 6 Mar 2005

Kampung-kampung di sini tak pernah memiliki cerita yang lain. Kerentaan dan kehampaan, selain itu waktu yang berjalan sangat lambat. Kepulanganku, seperti juga kepulanganku yang lain, hanya kembali menyaksikan jalan berlubang, berdebu ketika kemarau, banjir dan bencah saat hujan. Ini Desember, hujan membuat tubuh kampung-kampung di sini menggigil. Continue reading “Pulang dalam Hujan”

Kemarau Air Mata

Fakhrunnas MA Jabbar
kompas-cetak.com

Debu jalanan yang pekat menyesakkan napas. Sebuah truk pengangkut tanah timbun mengepulkan debu itu sehingga menggelapkan pandangan. Panas terik memang telah berlangsung terlalu lama. Aku sendiri tak sanggup lagi membilang karena sudah terlalu lama didera derita. Pohon-pohon meranggas. Dedaunannya berguguran. Entah kapan lagi sang pohon akan berbunga dan berputik kembali. Continue reading “Kemarau Air Mata”

Ketika Korona Matahari Membunuhku

Dian Hartati
http://sudutbumi.wordpress.com/

Matahari tidak terlalu panas siang ini. Entah mengapa itu terjadi padahal saat ini adalah musim kemarau. Jalanan tidak begitu terik seperti kemarau tahun lalu, pohon-pohon pun seakan diam tidak terlalu sibuk membuat klorofil-klorofil. Yah, apa mau di kata mungkin itu pengaruh penduduk bumi yang terlalu apatis dengan masalah lingkungan hidup. Continue reading “Ketika Korona Matahari Membunuhku”

Bahasa ยป