Menari di Mentari

Gde Agung Lontar*
http://www.riaupos.com/

Lelaki itu terus menari, di atas mentari. Dari kejauhan seringkali tubuhnya kelihatan seperti hanya selarik siluet, yang tersamar dalam cerlang cahya perak. Terus saja ia menari, dalam komposisi yang barangkali hanya ia sendiri yang mengerti. Wajahnya pasi, seperti tanpa ekspresi. Sesekali nunduk, lalu tiba-tiba menyentak hingga tengadah ke langit, sehingga rambutnya yang panjang selewat bahu itu tergerai dalam rentak gelombang yang magis, lalu menimbulkan percik-percik bara kembang api kala bersinggungan dengan riak mentari. Continue reading “Menari di Mentari”

Trubador Gila

Abidah El Khalieqy
http://entertainmen.suaramerdeka.com/

TAK seorang pun tahu dari mana asalnya. Di mana kampung dan alamat rumahnya. Orang-orang hanya melihat tubuh kurus, melayang-layang bagai daun kering ditiup angin. Kadang barat kadang timur, kadang utara kadang selatan. Menggeremang dalam gendang telinga. Bersyair bagai pujangga. Menyanyi dan menari bersama anak-anak, dari rumah ke rumah, dari lapangan satu ke tengah lapangan lain. Continue reading “Trubador Gila”

Air

A. Rodhi Murtadho *

Air tergeletak di jalanan. Mengalirkan diri mencari pori tanah. Namun struktur pemukiman mempermainkan. Air hanya mengalir di pinggir-pinggir jalan. Mengisi lubang-lubang beraspal. Atau tergenang di tempat busuk tanpa bisa menghindar. Got-got beralas semen tak terstruktur menurun. Rata. Hanya memenuhi program tata pemukiman. Continue reading “Air”

Janji untuk Kaci

Miranda
http://entertainmen.suaramerdeka.com/

JEMPUTLAH aku di tikungan ketiga, Kaci. Pukul sebelas, malam Sabtu Pahing nanti. Pakailah kemeja hitam kesukaanku yang telah ternoda bekas bibirku. Bawa saputangan polosmu di saku, tapi jangan selipkan telepon selulermu. Malam itu saja, aku ingin memilikimu sendirian. Bersisir yang benar, sebab aku suka mengacaknya, nanti. Tak perlu khawatir, aku selalu membawa sirkam di dalam tasku. Kamu bisa merapikan rambutmu kapan saja. Continue reading “Janji untuk Kaci”

T H U Y U L

Sri Wintala Achmad*
http://www.suarakarya-online.com/

Kampung Ngudi Tentrem geger. Yeyen menyiram air panas ke seluruh tubuh suaminya yang masih mendengkur di kamar tidur. Berita tersebar, pelacur terminal itu mendakwa, sebagian uangnya di dalam almari telah dicuri suaminya buat mabuk. Sebagian lainnya diberikan pada Diana. Janda beranak dua di samping rumahnya yang selalu dikeloni sebelum Yeyen pulang dari terminal. Menjual kenikmatan pada setiap lelaki yang menyerupai anjing di musim birahi. Continue reading “T H U Y U L”

Bahasa ยป