Bayi Karet

A. Rodhi Murtadho *

Bayi karet telah lahir. Mengguncang seluruh percakapan di warung-warung. Memanaskan perdebatan di forum-forum diskusi pinggir jalan. Bahkan para anggota dewan melakukan rapat pleno untuk membahas isu meresahkan ini. Bayi karet. Mewaspadai ancaman politik. Meski juntrung kebenarannnya masih dipertanyakan.

Omongan merata terdengar di setiap telinga. Namun, mata belum menyaksikan. Wartawan-wartawan dengan sekuat tenaga dan secepat kemampuan menelusuri sumber isu. Tentu akan membawa para wartawan kepada bayi karet, pikir mereka. Berita heboh akan didapat. Bonus tinggi yang dijanjikan si bos bisa berada di tangan. Continue reading “Bayi Karet”

Permintaan Terakhir

Liza Wahyuninto

“Aku masih seperti yang dulu Nin! Masih senang mendengar adzan untuk kemudian aku mendoakan keberhasilanku di esok hari. Aku memang belum merasakan doa itu mempengaruhi pekerjaanku, tapi aku yakin doa setelah adzan itu memang terkabul. Mungkin saja Tuhan belum mendengar doaku, mungkin pula Malaikat rahmat salah alamat dalam mengirimkan rizki, atau aku yang berdoa tidak terlalu khusyu’. Continue reading “Permintaan Terakhir”

Ramadan Ayah

Teguh Winarsho AS
Pikiran Rakyat Online

RAMADAN selalu membuat kampung kami bergairah. Orang-orang seperti berlomba memperbanyak ibadah. Bahkan, banyak di antara mereka yang sebelumnya tak pernah datang ke masjid, tiba-tiba di Bulan Ramadan ini rajin ke masjid. Tapi sayang, Ayah, laki-laki tua yang suka mendengus dan meludah, tetap tidak berubah. Setiap malam Ayah masih suka begadang di gardu ronda dekat pasar, sibuk memelototi kartu ceki dan sedikit minum alkohol; mabuk. Pulang jam lima pagi dengan langkah gontai dan mata merah, berpapasan dengan orang-orang yang baru pulang dari masjid. Continue reading “Ramadan Ayah”

Pencuri (Bukan) Malaikat

Teguh Winarsho AS
Lampung Post 2005

Asshalatu khairu minna naum…
Allahu akbar, Allhu akbar….
Laa illaha illallah….

SENYAP subuh tiba-tiba pecah oleh gema suara azan. Laki-laki itu, Hasan, hatinya bergetar. Ia harus segera menunaikan kewajibannya. Mengambil air wudu dan salat berjemaah. Tapi, ah, ada sesuatu yang membuat pikirannya resah gelisah. Kedua kakinya enggan melangkah. Tampak di atas, langit subuh meremang bertabur bintang sisa malam pekat yang nyaris pudar. Sementara di udara, kabut tipis mulai bergerak dari arah bukit melulur pepohonan, bergetar pada lampu-lampu neon di pinggir jalan. Continue reading “Pencuri (Bukan) Malaikat”

Bahasa »