Permintaan Terakhir

Liza Wahyuninto

“Aku masih seperti yang dulu Nin! Masih senang mendengar adzan untuk kemudian aku mendoakan keberhasilanku di esok hari. Aku memang belum merasakan doa itu mempengaruhi pekerjaanku, tapi aku yakin doa setelah adzan itu memang terkabul. Mungkin saja Tuhan belum mendengar doaku, mungkin pula Malaikat rahmat salah alamat dalam mengirimkan rizki, atau aku yang berdoa tidak terlalu khusyu’. Nin, aku tidak mau memaksa Tuhan untuk mengabulkan doaku! Aku tidak ingin menyalahkan malaikat yang begitu patuh kepada sang pencipta-Nya. Aku hanya menyalahkan takdir yang kadang berbalik arah. Aku ini Yuyun, seorang bocah yang mengaku anak rembulan karena mengerti perangai rembulan. Ya Nin, aku begitu paham pergerakan bulan, ini malam ke berapa dan kapan padang bulan akan tiba, kapan gerhana bulan akan tiba, semuanya aku tahu. Semuanya aku tahu, Nin! Nina, kadang aku ingin sekali bunuh diri seperti yang dilakukan oleh orang-orang yang kerapkali kudengar pada berita di televisi. Tapi aku takut, aku takut dosa. aku takut jasadku tak diterima bumi, ulatpun enggan memakan tubuhku. Aku takut ruhku melayang, tidak diterima neraka, surgapun enggan. Aku tegaskan padamu Nin, aku tidak ingin seperti Chairil Anwar yang begitu yakin bahwa ia ingin hidup lebih dari seribu tahun lagi. Bagiku hidup satu hari lagi bagaikan mengiris urat nadi sendiri. Bukankah kemarin kau menanyakan kepadaku apa perbedaan aku dan Chairil Anwar karena sajakku mirip dengan sajak-sajaknya. Itulah bedanya Nin! Chairil Anwar senang dan ingin hidup lebih lama meskipun ternyata takdir tidak menghendaki demikian, sementara aku tidak menyenangi hidup dan berusaha untuk memperpendek usiaku dan ternyata takdir masih mengijinkanku untuk menapaki hidup yang bagiku teramat berat”.

Sampai di ucapan tersebut, aku ingin sekali menitikkan air mata. Tapi aku tidak ingin Nina masuk ke dalam ceritaku, biarlah aku yang merasakan, cukuplah Nina sekedar pendengar cerita-ceritaku saja. Nina bagiku adalah obat, obat penenang di kala aku sedang gundah. Ketika aku patah semangat, saat payung duka selimuti hati, aku selalu bercerita pada Nina. Aku tidak peduli apakah Nina akan mendengarkan setiap kata yang keluar dari bibirku, aku juga tidak peduli jika kemudian Nina tidak memberikan saran atau masukan tentang kisahku. Bagiku aku adalah pencerita, tugasku adalah bercerita. Sementara Nina, Nina adalah pendengar. Itulah hubungan antara aku dan Nina.

Aku tahu bahwa Nina mendengar dengan cermat setiap kata yang kulontarkan, aku juga paham bahwa Nina berusaha untuk memahami bahasa mataku yang katanya bahasa mata lebih jujur daripada bahasa lidah. Pernah suatu ketika, saking asyiknya Nina menatap mataku, ternyata aku telah selesai bercerita. Tapi itu tidak mengapa, tohaku puas dapat menyelesaikan ceritaku. Dan aku tidak begitu peduli jika Nina dapat merasakan kepuasan dan dapat memahami ceritaku dengan menatap mataku lebih lekat. Tidak mengapa jika Nina mengibaratkan dirinya sebagai Rumi sementara aku adalah Tabriznya. Rumi dapat melihat Tuhan dari mata Tabriz, dan Tabriz dapat melihat Tuhan karena Rumi baginya adalah cermin. Namun aku perlu membatasi diri, aku tidak semulia Syamsi at-Tabriz yang mampu membuat sang Rumi lupa akan segalanya, bahkan anak istri dan murid-muridnya.

“Yun, kau ingin tahu kenapa kau menyenangi adzan? Bukan karena kau dapat berdoa setelahnya. Kau ingin tahu kenapa, doa-doamu belum terkabul? Bukan karena Allah tidak mendengar, bukan karena Malaikat Rahmat salah alamat, bukan karena suratan takdirmu jelek, bukan karena itu. Kau ingin tahu kenapa kau begitu bangga dengan gelar anak rembulan pada dirimu? Bukan karena kau paham betul perangai, perilaku dan apapun mengenai rembulan, bukan itu! Kau tentu paham dogma, apapun yang kau lakukan dalam hidup tidak dapat lepas dari dogma yang selama ini kau terima. Kau menyenangi adzan karena selama ini kau diajari bahwa doa setelah adzan adalah doa paling makbul, berdoalah di sana dan tentu doamu akan diterima. Itu dogma Yun! Malaikat kau salah-salahkan karena doamu kau rasa belum tersampaikan. Bukan tidak disampaikan oleh malaikat, bukan tidak diterima oleh Tuhan. Bukankah ada adab dalam berdoa? Bagaimana sikap dalam berdoa? Tidak sembarangan! Tidak semudah yang kau bayangkan! Kau begitu senang dengan sebutan anak rembulan, bukan karena kau paham betul tingkah laku rembulan. Bukankah itu ada ilmunya, setiap orang dapat memahaminya. Kalau begitu, setiap orang yang paham tingkah laku rembulan dapat disebut anak rembulan donk? Kau senang dipanggil anak rembulan karena kau ingin disebut demikian. Kau ingin agar ada yang berbeda antara dirimu dengan yang lain. Bukankah itu pandanganmu mengenai perbedaan antara kau dan Chairil Anwar?”

“Cukup…Cukup Nin!”.

Entah kenapa, tiba-tiba aku ingin sekali membantah kalimat-kalimat yang meluncur dari bibir Nina. Ada sesuatu yang mengganjal hatiku, ada kalimat-kalimat yang tidak ingin kudengar. Aku juga heran kenapa tiba-tiba Nina menanggapi cerita-ceritaku. Kenapa tidak dari dulu, kenapa tidak sejak awal dia demikian. Bagaimana aku tak heran, ternyata gadis yang selama ini begitu pendiam tiba-tiba berbicara begitu lurus dan tiada henti. Apakah ia telah memendam ini sejak awal dan seolah bom waktu sedang menunggu waktu yang tepat untuk meledakkannya? Apakah ada kalimat yang tidak ingin ia dengar? Atau adakah kata-kata yang tanpa kusadari menyakiti hatinya, dan membuatnya ingin menyatakan kalimat-kalimat tersebut?

“Nina, Aku sedang tidak ingin berdebat filsafat di sini. Aku juga tidak ingin berdebat mengenai teori kebenaran. Bukan karena aku tak paham dengan istilah-istilah yang kau sebutkan. Aku tak ingin menanggapi pernyataanmu,. Itu saja. Tapi aku hanya ingin bercerita. Sebagaimana berita dan cerita-cerita di televisi yang tidak dapat kita sanggah meskipun kadang-kadang tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Aku ingi bercerita saja, tidak ada sanggahan tidak ada pertanyaan. Aku memang egois, tapi bukankah itu sudah lama kau ketahui. Jadi izinkan aku melanjutkan dan menyelesaikan ceritaku. Aku sudah cukup terhibur jika kau mau mendengarnya. Toh, selama ini kau tidak pernah memberikan masukan bukan?”

Nina terdiam, kulihat matanya menyala. Mungkin aku telah menyinggungnya. Tapi aku tidak peduli. Yang aku tahu Nina menunggu kelanjutan ceritaku. Ia masih terdiam, dan melihat suasana hening itu aku beranikan untuk meneruskan ceritaku.

“Nin, kau percaya takdir kan? Aku ditakdirkan hidup lama, tapi aku ingin mati secepatnya. Bagiku segala yang ada di dunia ini, di hadapanku dan segala apa yang kulihat adalah beban. Beban karena terlampau indah untuk kusentuh, untuk kutemani, dan untuk kumiliki. Jadi cukuplah bagiku untuk melihatnya saja tanpa harus menyentuhnya, cukuplah mendengarnya saja tanpa harus merabanya, dan cukuplah bagiku merasakan saja tanpa harus memiliki. Maaf Nin, aku memaksamu untuk mendengarkan ini. Tapi ini mungkin adalah cerita terakhirku. Setelah itu aku takkan mendatangimu lagi untuk bercerita. Sudah berapa ribu kisah kuceritakan padamu, meski kau tak pernah tertidur walau ini seperti dongeng. Nina, semalam aku melihat cahaya biru kemerahan. Awalnya, cahaya itu kecil seperti bintang lalu membesar laksana bulan. Iya ada dua bulan tadi malam kulihat, tapi itu hanya dalam mimpiku. Kemudian membesar dan menimpaku hingga aku terbangun. Kau tahu Nin, kulihat sekujur tubuhku membiru.”

Kuhentikan ceritaku sejenak dan menunjukkan kulitku yang masih membiru.
“Ini Nin, lihatlah! Tubuhku membiru”
Nina mengamatiku, mulutnya setengah terbuka menandakan ia terperangah.
“Yun..!”
Aku tersenyum.

“Iya Nin, aku bahagia. Mungkin dengan ini aku akan segera mati. Jadi selamat tinggal Nina, kau adalah pendengar terbaik yang pernah kutemui. Esok, jika kau merindukan ceritaku lagi kau boleh menuliskan kisah-kisah yang pernah kuceritakan padamu. Dan aku akan sangat bahagia jika kau mau menuliskan itu untukku. Satu hal Nina, aku masih seperti yang dulu. Takkan berganti seperti mawar kekeringan, aku takkan berubah seperti kepompong yang tiba-tiba menjadi kupu-kupu. Aku masih Anak Rembulan, dari kumpulannya terbuang, begitu kata Chairil Anwar.”

Nina menunduk, perlahan kulihat ada bening menetes dari matanya kemudian meleleh perlahan menelusuri pipinya dan bermuara ke bumi.

“Nina, malam ini aku ingin tidur tanpa mimpi. Jangan coba bangunkan aku esok hari, segeralah mandikan aku, kafani aku, dan bila tak keberatan sholatilah aku, dan kuburlah aku!”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *