Mbak Mendut

Gunawan Maryanto
Koran Tempo, 19 Feb 2012

DI jalan Bugisan Jogja dulu ada sebuah warung rokok. Kecil dan seadanya, berdiri di atas trotoar jalan. Sebuah warung berbentuk gerobak dengan dua roda sepeda gembos terpasang di kedua sisinya. Tak ada yang istimewa dari warung itu, tak beda dengan warung-warung rokok lainnya. Rokok yang dijual pun rokok biasa yang dengan mudah kaudapatkan di warung lainnya. Yang istimewa adalah penjualnya. Namanya Mendut. Aku memanggilnya Mbak Mendut. Asli pesisir katanya. Ia datang ke Jogja karena sebuah kecelakaan. Kecelakaan dalam tanda kutip. Continue reading “Mbak Mendut”

Syam, Bukan Matahari

Nukila Amal
Koran Tempo, 29 Jan 2012

SYAM, tak seperti namanya, bukan seorang matahari. Ia antitesis cahaya dan segala yang terang. Semisal lukisan, ia bukan figur di tengah yang terang-benderang berdiri gagah berkacak pinggang, namun siluet gelap berjubah hitam yang bersandar di sudut. Siluet yang mengamati segala di sekitar, di dalam dan di luar lukisan. Continue reading “Syam, Bukan Matahari”

Kemukus

Clara Ng
Koran Tempo, 22 Jan 2012

ADA mata besar di setiap kegelapan ini. Kegelapan yang seakan tak berujung. Setiap mata itu membuka, maka kegelapan semakin sirna.

Jam sebelas malam di jarak 25,3 tahun cahaya. Koordinat 57 lintang selatan konstelasi Taurus. Tiansun berdiri menopang dagu ke arah bintang El Nath yang sangat besar. Continue reading “Kemukus”

Cerita Campur-Aduk dari Pamanku

Raudal Tanjung Banua *
Koran Tempo, 12 Feb 2012

PAMANKU bernama Untung Sudah—nama dengan segala arti dan makna. Dia sendiri menceritakan perihal namanya ini dengan mencampur-adukkan cerita nenek dan ayahku yang pernah kudengar. Kata Nenek (tiga kali Al-Fatihah untuknya), ketika ia mengandung, suaminya meninggal karena sakit. Tak diketahui pasti apa penyakitnya. Ada yang bilang sakit kuning sebab mata kakek terlihat menguning sebelum ajal. Continue reading “Cerita Campur-Aduk dari Pamanku”

Tumbal Suramadu

Muna Masyari
Jawa Pos, 19 Feb 2012

KULIHAT di kepala ibu, kota itu tak kurang dari kawanan perampok raksasa yang beringas dan bermata bengis. Ia akan meremukkan sesiapa yang dianggapnya lengah dan lemah. Matanya menyimpan bilah-bilah pedang. Siap menjagal leher-leher menonggak tegak. Tangan kekarnya menggenggam palu besi, siap dihantamkan pada batok kepala yang kokoh mendongak, hingga tekuk. Menunduk takluk. Tak berkutik. Sepasang kakinya akan menginjak apa saja yang dianggap menghadang, hingga menjadi remah-remah tak bernilai. Kuku-kuku tajam dan panjang siap mencakar. Continue reading “Tumbal Suramadu”

Bahasa »