Realitas Sosial-Politik dalam Tunggu Aku di Sungai Duku

Cikie Wahab
Riau Pos, 8 April 2012

Namun aku merasakan sesuatu yang lain ketika memasuki tempat ini. Aku tak peduli apakah ini penjara bagi pesakitan, perampok, pemerkosa, koruptor, bromocorah kambuhan atau residivis kelas kampung. Kalau engkau ingin tahu, Maria, aku merasa inilah tempat yang baik bagi pikiranku, setidaknya aku merasa hidup yang lebih bebas dan pikiranku bisa berjalan dengan seluas-luasnya. (Penjara: hal. 3) Continue reading “Realitas Sosial-Politik dalam Tunggu Aku di Sungai Duku”

Desember yang Beku

Cikie Wahab *
http://www.riaupos.co/

Saat mendarat di Trudeau International Airport, Ink buru-buru menemui Bonita di ruang kedatangan. Perjalanan selama empat puluh dua jam itu membuatnya begitu lelah. Bonita menyambutnya dengan riang. “Welcome!”

“Oh, Boni,” kata Ink ketika mendapati Bonita ada di depannya dan langsung memeluknya. Continue reading “Desember yang Beku”

Prosa Lirik Kawabata, Sebuah Haiku yang Panjang

Cikie Wahab *
Riau Pos, 10 Juli 2011

“Keluar dari terowongan panjang, kereta api memasuki daerah salju. Tanah terhampar putih di bawah langit malam. Kereta api berhenti di tempat sinyal.”

ITULAH paragraf pembuka dalam bagian pertama novel berjudul Snow Country oleh Yasunari Kawabata (1899-1972), salah seorang penulis terkemuka di Jepang. Novel ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh A.S Laksana dan cetakan pertama oleh Gagasmedia tahun 2009. Continue reading “Prosa Lirik Kawabata, Sebuah Haiku yang Panjang”

Sebuah Catatan

Cikie Wahab *
http://www.hariansumutpos.com/

Aku akan naik shinkansen pagi ini menuju Bandara Internasional Narita, Tokyo, menjemput Naoto yang mendarat dari Timur Tengah.

Ia bekerja di salah satu perusahaan swasta di sana, dan aku sebagai teman terdekatnya, berkeinginan bertemu meski pembicaraan kami hanya melalui telepon saja selama dua tahun ini. Continue reading “Sebuah Catatan”