Prosa Lirik Kawabata, Sebuah Haiku yang Panjang

Cikie Wahab *
Riau Pos, 10 Juli 2011

“Keluar dari terowongan panjang, kereta api memasuki daerah salju. Tanah terhampar putih di bawah langit malam. Kereta api berhenti di tempat sinyal.”

ITULAH paragraf pembuka dalam bagian pertama novel berjudul Snow Country oleh Yasunari Kawabata (1899-1972), salah seorang penulis terkemuka di Jepang. Novel ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh A.S Laksana dan cetakan pertama oleh Gagasmedia tahun 2009.

Beberapa paragraf sesudahnya turut mengambarkan deskripsi tempat dari situasi yang dialami oleh Shimamura (tokoh utama 1), seorang amatiran dari Kota Tokyo, juga menghadirkan keadaan di sepanjang jalur kereta menuju desa pegunungan.

Setiap kalimat berusaha mengokohkan paragraf yang menggabungkannya dan meniadakan kata-kata pelengkap/prediket yang nantinya malah akan melonggarkan kekuatan vokal tulisan dan imaji pembaca.

Novel ini bercerita di sebuah pegunungan Jepang. tepatnya saat musim salju. Shimamura hendak pergi ke pegunungan untuk menemui seorang perempuan, yang mampu menyeretnya kembali ke tempat itu.

Awal kedatangan kedua kalinya, yang diceritakan penulis pada bagian awal novel, Shimamura merasa mata gadis yang ternyata bernama Yoko itu —yang muncul dalam kaca berembun itu— adalah perempuan yang hendak ia temui. Namun ia mengabaikan apapun yang ada bersama gadis itu. Baik lelaki yang bersamanya, salju dan kereta yang terus saja melaju. Bayangan gadis yang memantul di kaca dan tampak lebih bercahaya itu membuat Shimamura merasa ia sedang berjumpa dengan sebuah karakter dari kisah tempo dulu.

Selanjutnya cerita kembali ke masa pertemuan pertama Shimamura dan perempuan (Komako) seorang geisha gunung itu. Sebuah flashback yang menceritakan bagaimana Shimamura merasa sangat bergantung pada Komako, mereka saling mendengarkan dan melupakan angan masing-masing untuk satu hal.

“Lagu pertama itu menyentuh sesuatu yang kosong di dasar perutnya, dan dalam kekosongan itulah suara shamisen bergema. Shimamura terkejut, atau, lebih tepat, ia terjengkang oleh sebuah pukulan telak. Terbenam dalam perasaan khidmat, dibasuh oleh gelombang penyesalan, tanpa daya. Ia tak memiliki kekuatan lagi untuk melakukan apapun, kecuali menghanyutkan dirinya pada arus yang menyeretnya, pada keriangan yang dihadirkan Komako kepadanya.” . (74-75)

Kawabata dalam menuliskan kecantikan Komako, perempuan geisha itu, lebih menekankan pada sesuatu yang real. Antara lain dalam kalimat, Komako, geisha yang pipinya sewarna angsa yang baru dibului. Dengan potongan model tinggi dan cukuran yang licin rapi, tanpa helai-helai rambut yang mencuat keluar, rambut itu tampak berkilau seperti bongkahan batu hitam.

Shimamura pun hanyut bersama Komako, suara shamisen dan lirik nagauta yang Komako hadirkan. Meski di balik keriangan itu Komako menyimpan kegelisahan tentang jalan hidupnya. Dan Shimamura yang tak memahami sama sekali teknik memainkan shamisen, ia yang hanya memahami emosi yang terkandung dalam nada, mungkin adalah pendengar yang tepat bagi Komako.

Kawabata memposisikan romantisme dalam dialog dan narasi. Seperti ketika Shimamura hendak kembali ke kota. Komako tak hendak beranjak dari stasiun meski Yoko berusaha membujuknya. Shimamura benar-benar tidak mengerti antara Komako, Yoko dan tunangan Komako. Ia yakin dan sadar bahwa ia tak bisa melupakan Komako meski ia juga sudah memiliki seorang istri di Tokyo.

Plot yang dirangkai oleh Kawabata adalah plot maju-mundur. Dari dua bagian bab yang ia tuliskan memiliki perbedaan waktu yang cukup lama. Di bab pertama ia menuliskan kepergian Shimamura dalam kereta di daerah salju —pada musim salju dalam situasi di mana Shimamura mengingat pertemuan pertamanya dengan Komako. Di bagian kedua, dimulai pada musim panas, musim ngengat bertelur. Shimamura meninggalkan Tokyo dan kembali ke penginapan di gunung. Shimamura sudah tiga kali datang dalam waktu kurang dari dua tahun. Dan tiap ia datang, ia jumpai kehidupan Komako berubah.

Konflik bathin yang terjadi di antara Komako dan Shimamura serta-merta tak bisa merubah apa yang sebenarnya mereka inginkan dari hati kecil mereka masing-masing.

Begitulah setiap hari, Komako selalu ingin lari dan bersembunyi di satu-satunya tempat yang tersimpan dalam benaknya. Namun kesepian seperti ini justru membuatnya semakin menggiurkan.

“Dan aku tak perlu mengeluh. Bagaimanapun, hanya perempuan yang bisa sungguh-sungguh kucintai.” Komako sedikit memerah dan menundukkan kepala. (139-140).

Dengan gaya bahasa puitisnya dan keindahan haiku yang panjang, Kawabata menjelmakan indahnya kebudayaan dan mitologi Jepang, dirangkai menjadi sebuah situasi konflik dalam kesetiaan Komako sebagai tokoh sentral. Shimamura pun mencari pembenaran pada sosok Komako dan tak bisa melepaskan dirinya dari perempuan itu.

Mitologi Jepang yang digambarkan sebagaimana geisha, sedikit-banyak berpengaruh pada karya sastra Jepang itu sendiri. Kawabata pun dalam kepenulisannya selalu menghubungkan cerita dengan keterkaitan seorang geisha. Pada psikologis tokoh yang melukiskan kesedihan romantisme, pada hubungan yang tak wajar lelaki dan perempuan. Hal ini juga dapat kita lihat dalam novelnya yang berjudul Kecantikan dan Kesedihan, Kawabata menuliskan cinta seorang geisha pada pacar pertamanya dulu, dan kini memilih “pasangan sejenis” untuk menutup hasratnya pada orang yang tak akan pernah ia miliki.

Dalam novel Snow Country ini, penerjemah bahasa memiliki andil yang besar dalam mengantarkan maksud cerita. Ini sungguh merupakan tugas besar yang patut diacungi jempol. Dengan baiknya proses terjemahan tentu baik pulalah penyampaian cerita yang diyakini sebagai gaya bahasa sastra Jepang.

Snow Country yang diterbitkan sekitar tahun 1935 jelas mengambarkan situasi saat itu, dan hal ini tak menjadi pembatas Kawabata untuk tetap mengekalkannya hingga dibicarakan sampai saat ini. Sastra klasik memang memiliki jiwa yang hidup yang melewati batas waktu.

Secara garis besar, sastra Jepang terbagi dalam lima periode. Yakni Sastra Kuno, Klasik, Sastra Pertengahan, dan Modern. Kawabata dikenal baik sebagai novelis Jepang, yang prosa liriknya membuat ia memenangkan Nobel dalam sastra 1968, sebagai orang Jepang pertama. Selain menulis ia juga bekerja sebagai wartawan di Osaka dan aktif menggerakkan seni di sebuah jurnal sastra.

Novel ini digambarkan pula oleh Edar G Seidensticker sebagai “adikarya Kawabata” yang kemudian diikuti sukses dengan novel-novel selanjutnya.

Sebagai pembaca, buku ini memiliki sesuatu yang benar-benar dapat menyentuh perasaan saya, walaupun novel ini juga tampak mengeksploitasi wanita dari sisi buruknya: perselingkuhan. Sebagai pembaca yang bijak, layak pula untuk kita mencerna sebuah karya sastra tanpa menghakimi karakter tokoh yang bisa saja ada dalam kehidupan nyata. Kekurangan yang tidak tampak jelas tersamarkan akibat indahnya sebuah pencitraan puisi dalam bentuk narasi/prosa lirik. Dan hal ini jelas menambah pengetahuan akan adanya kebudayaan Jepang, juga sisi lain seorang geisha yang bersenandung dengan suara bening dan nyaris sedih, suara yang seperti gema.

Kupu-kupu, capung dan belalang
Jangkrik, riangriang, gaang
Bernyanyi di perbukitan.

*) Cikie Wahab, pembaca sastra. Menulis cerpen, sajak dan esai di berbagai media, Tinggal di Pekanbaru.
Sumber: http://cabiklunik.blogspot.com/2011/07/prosa-lirik-kawabata-sebuah-haiku-yang.html